Homili Hari Minggu Prapaskah IV/B – 2015

Hari Minggu Prapaskah IV/B
2Taw. 36:14-16,19-23
Mzm. 137:1-2,3,4-5,6
Ef. 2:4-10
Yoh. 3:14-21

Berjalan dalam Terang!

Fr. JohnKita memasuki Hari Minggu Prapaskah IV. Hari Minggu ini dikenal juga dengan nama Hari Minggu Sukacita atau Gaudete. Mengapa kita harus bersukacita dalam masa prapaskah ini? Kita bersukacita karena terang dan keselamatan dari Tuhan semakin dekat pada kita. Kita semua percaya bahwa Tuhan Yesus tidak takut memberi diriNya sebagai kurban tebusan bagi banyak orang. Dia adalah Putera Manusia yang harus ditinggikan di salib agar siapa saja yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan memiliki hidup abadi. Dia juga diserahkan oleh Bapa sebagai bukti cinta kasihNya kepada dunia. Dialah satu-satunya Tuhan dan penyelamat kita. Kita bersukacita di dalam Tuhan karena kita percaya bahawa Ia juga menyelamatkan kita.

Sabda Tuhan pada hari Minggu ini membantu kita untuk merasakan lebih dalam lagi relasi kita dengan Tuhan. Dialah yang memiliki kehendak dan rencana untuk menyelamatkan kita semua. Dialah yang mau memberikan anugerah sukacita kepada kita semua melalui sabda yang keluar dari dalam mulutNya.

Di dalam bacaan pertama yang diambil dari Kitab kedua Tawarikh dikatakan bahwa murka Allah itu dinyatakan lewat pembuangan dan kerahimanNya diyatakan lewat pembebasan. Perkataan ini diambil dari pengalaman orang-orang Yahudi yang berada di Babel. Mengapa ada pengalaman Babel bagi orang-orang Yahudi? Ketika Israel diperintah oleh raja Zedekia, semua pemimpin di antara para Imam dan rakyat berkali-kali berubah setia dengan mengikuti segala kekejian bangsa-bangsa asing. Mereka menajiskan rumah Tuhan di Yerusalem. Pada waktu itu Tuhan masih menunjukkan kesabaranNya dengan mengutus para nabi untuk mengajar dan mengoreksi cara hidup umatNya. Namun para nabi sebagai utusan Tuhan pun tidak dihargai oleh mereka. Firman Tuhan bahkan di hina oleh mereka.

Reaksi Tuhan berubah menjadi ekstrim. Ia menggerakan hati raja kaum Kasdim yaitu Nebukhadnezar dan membiarakan orang-orangnya menguasai Yerusalem. Rumah Allah dibakar dan temboknya dirobohkan. segala puri dan perabotan indah di dalam bait suci dihanguskan. Orang-orang yang luput dari kekejaman Nebukhadnezar ini diangkut paksa ke Babel utntuk menjadi budak di sana. Namun demikian, Tuhan tetap mengirim para nabiNya untuk menghibur umatNya. Ia berjanji bahwa pada saat yang tepat mereka akan kembali ke Sion. Janji Tuhan terpenuhi ketika ia menggerakan hati raja Koresh dari Persia untuk memberikan kebebasan kepada Bani Israel untuk kembali ke kampung halamannya di Sion. Koresh berkata: “Beginilah perintah Koresh, raja Persia: Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Siapa di antara kamu termasuk umat-Nya, Tuhan, Allahnya, menyertainya, dan biarlah ia berangkat pulang!” (2Taw 36:23).

Orang-orang Israel pernah mendengar pesan ini dari nabi Yeremia bahwa mereka akan dibebaskan dan kembali ke Yerusalem. Mereka menjadi percaya karena janji Tuhan ini benar-benar terlaksana. Orang-orang dari keturunan Lewi kembali ke Sion untuk tetap melayani Tuhan di dalam BaitNya yang kudus. Ada juga yang tidak mau kembali ke Sion karena mereka sudah memiliki kebun dan terikat perkawinan dengan orang-orang setempat dan yang lainnya sudah pergi ke Mesir dan tinggal di sana. Nah, sukacita yang mau ditegaskan melalui Sabda Tuhan ini adalah Tuhan memiliki kekuasaan untuk membebaskan atau menyelamatkan umatNya.

Daud dalam doanya mengatakan kepada Tuhan bahwa hanya pada Tuhan saja, hatinya menjadi tenang. Di tepian sungai Babel umat Israel pernah duduk dan menangis mengingat Sion. Mereka mengingat pohon gandarusa di mana mereka pernah menggantung kecapi yang dipakai untuk memuji Tuhan. Kini dalam penderitaan di Babel, orang-orang asing itu meminta mereka untuk menyanyikan sebuah lagu dari Sion. Kerinduan kepada Yerusalem terpenuhi ketika Tuhan setia pada janjiNya. Yerusalem tetaplah menjadi tempat sukacita bagi umat Tuhan. Tuhan sendirilah yang memiliki kuasa untuk membebaskan Umat Israel dari Babel dan semuanya itu terlaksana dengan baik.

St.Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan jemaat di Efesus bahwa mereka mati karena kesalahan dan dosa tetapi diselamatkan oleh kasih karunia dari Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Allah begitu baik, kaya dengan rahmat telah menghidupkan kita bersama dengan Kristus. Karena dosa kita mati tetapi karena jasa Yesus Kristus kita memperoleh kembali hidup abadi di surga. Jasa Yesus Kristus adalah kasih karunia yang berlimpah rua kepada kita semua. Paulus juga mengatakan bahwa kita diselamatkan oleh karena iman kepada Kristus Yesus. Oleh karena itu janganlah orang bermegah dan mengandalkan dirinya sendiri. Pada akhirnya ia tegas berkata: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Ef 2:10). Nah sukacita yang mau diwartakan Paulus di sini adalah jasa Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita semua dari belenggu dosa. Dengan dosa kita telah mati tetapi karena jasa Yesus maka kita hidup kembali bersamaNya.

Dalam bacaan Injil Tuhan Yesus menunjukkan sukacita yang besar ketika orang berani mengangkat kepalanya dan memandang Dia yang ditinggikan dari bumi. Ditinggikan berarti saat penyaliban. Artinya ketika Yesus memberi diriNya secara total dalam peristiwa penyaliban maka di saat itulah orang merasakan keselamatan. Orang yang memandang Yesus tersalib dan percaya kepadaNya akan memperoleh kehidupan kekal. Allah Bapa sendiri mengutus Yesus ke dunia bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkanNya.

Sukacita yang besar juga ditandai dengan hadirnya Tuhan Yesus sebagai terang dunia. Dia adalah terang yang telah datang ke dunia tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang. Perbuatan-perbuatan manusia jahat. Hanya orang benar yang bisa datang kepada terang dan merasakan sukacita abadi. Orang-orang benar melakukan perbuatannya di dalam Allah sendiri. Yesus adalah terang dunia maka hendaklah kita semua merasakan terangNya dan bersukacita selamanya bersama Dia dalam Kerajaan Surga.

Kita bersyukur kepada Tuhan karena ajakanNya untuk memandang Salib. Di atas salib itu tergantung Putera Manusia yang tidak berhenti mengasihi kita semua. Bukalah dirimu kepada Tuhan, tinggalkanlah hidup lama yang penuh kegelapan dan rasakanlah sukacita di dalam Tuhan karena penebusan berlimpah juga ada untukmu. Bersukacitalah seantiasa dalam Tuhan.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply