Homili 15 Mei 2015

Hari Jumat, Pekan Paskah VI
Kis. 18:9-18
Mzm. 47:2-3,4-5,6-7
Yoh. 16:20-23a

Untuk itulah engkau telah dipanggil!

Fr. JohnBeberapa hari yang lalu saya diundang untuk merayakan misa syukur 35 tahun seorang bapak mengabdikan diri sebagai guru di sebuah Yayasan Pendidikan Katolik. Seperti biasa suasana misa syukur selalu meriah dengan iringan koor, dekorasi ruangan misa, banyaknya tamu dan undangan yang hadir, terutama para mantan siswa dan siswinya. Ada sebuah spanduk menjadi latar belakang altar, bertuliskan kata-kata ini: “Untuk itulah engkau telah dipanggil” Kata-kata ini kiranya melukiskan sebagian hidup dan karya pak guru yang dikenal kalangan siswanya sebagai pribadi yang disiplin, berdedikasi tinggi dan sebagai seorang bapa yang baik. Suasana meriah, penuh syukur kepada Tuhan ini dirasakan bapak guru itu sebagai dukungan lahir dan batin baginya untuk terus mengabdi meskipun tinggal beberapa tahun lagi ia akan pensiun.

Pengalaman syukur ini mengingatkan saya pada para guru yang mendedikasikan dirinya untuk memanusiakan manusia muda. Mereka tidak menghitung berapa honorarium yang mereka terima tetapi berapa orang muda yang bisa memiliki masa depan yang baik. Saya juga teringat pada St. Paulus, sosok sang misionaris agung di dalam Gereja. Ia pun mengabdikan dirinya untuk Tuhan Yesus, dan mengalami banyak penderitaan dan kelamangan. Ketika berada di atas Areopagus di Athena, ia berkotbah dengan semangat yang berkobar-kobar tetapi ketika menjelaskan tentang kebangkitan dari orang mati, orang-orang Athena mengatakan kepadanya bahwa lain kali saja baru ia boleh berkotbah lagi. Paulus tentu merasa sedih karena pelayanan Sabda yang dilakukannya tidak diterima dengan baik.

St. Lukas menceritakan bahwa Paulus meninggalkan Atena lalu pergi ke Korintus. Paulus menjumpai pasutri Yahudi yang barusan meninggalkan Roma yakni Akwila dan istrinya Priskila. Paulus menginap di rumah pasutri ini sambil menunggu kehadiran Silas dan Timotius dari Makedonia. Paulus tetap mengalami permusuhan dari pihak orang-orang Yahudi. Paulus juga sempat menginap di rumah Titius Yustus yang rumahnya dekat dengan sinagoga. Diceritakan juga bahwa Krispus, kepala rumah ibadat bersama keluarga percaya kepada Kristus dan dibaptis. Paulus memang meruapakan sasaran kebencian orang-orang Yahudi pada zamannya. Saya teringat pada wejangannya bagi Timotius: “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.” (1Tim 6:12).

Mengapa Paulus tetap mau melayani Tuhan? Ia pernah mengalami sebuah penglihatan pada malam hari di mana Tuhan berkata kepadanya: “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini.” (Kis 18:9-10). Penglihatan ini merupakan motivasi yang menguatkan Paulus untuk tetap setia menjalankan tuga perutusan sebagai pewarta Injil. Ia diharapkann setia karena akan selalu muncul masalah-masalah baru yang harus dihadapi Paulus. Misalnya, oang-orang Yahudi selalu mencari kelemahan Paulus untuk bisa menganiaya dan memenjarakannya.

Ketika Galio menjadi gubernur di Akhaya maka Paulus mengalami pergumulan yang lebih besar lagi. Ia ditangkap dan dihadapkan ke hadapan pengadilan. Kalimat dakwaan-nya adalah: “Ia ini berusaha meyakinkan orang untuk beribadah kepada Allah dengan jalan yang bertentangan dengan hukum Taurat.” (Kis 18:13). Reaksi Galio adalah: “Hai orang-orang Yahudi, jika sekiranya dakwaanmu mengenai suatu pelanggaran atau kejahatan, sudahlah sepatutnya aku menerima perkaramu, tetapi kalau hal itu adalah perselisihan tentang perkataan atau nama atau hukum yang berlaku di antara kamu, maka hendaklah kamu sendiri mengurusnya; aku tidak rela menjadi hakim atas perkara yang demikian.” (Kis 18:14-15). Ia pun mengusir orang-orang itu dari gedung pengadilan. Orang-orang Yahudi terpancing emosi dan memukuli Sostenes, kepala rumah ibadat.

Pengalaman Paulus ini memang luar biasa. Paulus adalah orang yang berjiwa besar dan optimis dalam hidupnya. Ia boleh dihina, dipenjarakan kapan dan dimana saja tetapi tetap setia untuk mempertahankan iman harapan dan kasihnya kepada Yesus Kristus. Pengalaman Paulus menjadi tantangan bagi Gereja dalam menginjil masa kini. Pesan Yesus sebelum naik ke surga adalah supaya setiap murid-Nya pergi ke seluruh dunia untuk mewartakan Injil. Mewartakan Injil masa kini bukanlah hal yang gampang. Orang kristen mewartakan Injil dengan kata-kata dan dengan kesaksian hidup yang nyata. Dengan kata-kata: Tuhan Yesus menghendaki kita untuk memberi kesaksian tentang sukacita Injil kepada semua orang dan iman yang berasal dari Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus tidak menghendaki kita untuk memberi bukti-bukti otentik. Dengan hidup nyata: Tuhan Yesus menghendaki kesaksian hidup nyata. Apakah kita benar-benar serupa dengan Yesus dalam pikiran, perkataan dan perbuatan?

Dalam amanat perpisahan-Nya, Tuhan Yesus mengingatkan para murid-Nya untuk tetap teguh sebagai pewarta Injil. Mereka diutus seperti domba ke tengah serigala (Mat 10:16; Luk 10:3). Sesungguhnya para murid Yesus akan menangis dan meratap, berdukacita tetapi dukacita mereka akan berubah menjadi sukacita. Dunia sendiri akan bergembira menyaksikan situasi hidup mereka. Hal ini mirip dengan pengalaman seorang ibu ketika hendak melahirkan bayinya. Maka bagi Tuhan Yesus, akan ada transformasi perjalanan hidup kita karena tidak seorang pun yang dapat merampas kegembiraan kita (Yoh 16:22), dan sukacitamu itu menjadi penuh (Yoh 16:24). Saya teringat pada nyanyian para peziarah di di Yerusalem: “Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” (Mzm 126:6). Mari kita memulai novena Roh Kudus ini dengan hati penuh sukacita. Bunda Maria Penolong Umat Kristiani mendoakan kita selalu kepada Bapa di Surga supaya bertahan dalam derita.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply