Food For Thought: “Suka mencuci tangan”

“Mencuci Tangan” menjadi habitus

PejeSDBSaudari dan saudara terkasih. Banyak orang memiliki kebiasaan “mencuci tangan” terhadap persoalan-persoalan tertentu yang dihadapinya. Perilaku ini bisa menjadi habitus atau kebiasaan dalam hidup bersama. Kebiasaan “mencuci tangan” berarti orang itu tidak mau ikut campur dalam suatu masalah walaupun ia mengetahuinya dengan baik atau orang itu tidak mau terlibat dalam kesalahan yang dibuat orang lain. Dalam kisah Yesus, kita mengenal Pilatus mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak, sambil berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!” (Mat 27:24).

Pada hari ini kita berjumpa dengan figur Abram, Sarai dan Hagar. Sarai sadar diri bahwa ia memasuki usia senja dan kemungkinan memiliki anak itu hampir tidak ada. Ia meminta Abram untuk menghampiri hambanya bernama Hagar. Nah, Sarai dengan sadar menjerumuskan suaminya Abram untuk berzinah meskipun niatnya baik yaitu supaya Abram bisa memiliki keturunan. Hagar pun mengandung dan memandang rendah Sarai. Sarai mencuci tangan dengan mempersalahkan Abram: “Penghinaan yang kuderita adalah tanggungjawabmu, akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, barusan ia mengandung, ia memandang rendah aku. Tuhan kiranya menjadi hakim antara aku dan engkau.” (Kej 16:5). Abram juga mencuci tangan: “Hambamu itu di bawah kekuasannmu, perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik. Sarai menindas Hagar sehingga lari meninggalkannya.” (Kej 16:6).

Dalam masyarakat, kita menemukan banyak orang memiliki kebiasaan mencuci tangan, tidak mau bertanggungjawab. Dalam sakramen Tobat, banyak orang katolik tidak mengakui diri sebagai orang berdosa tetapi membenarkan dirinya, mempersalahkan orang lain di tempat pengakuan. Kalau anda berdosa, katakanlah bahwa anda berdosa, jangan mempersalahkan orang lain.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply