Homili 26 Agustus 2015

Hari Rabu, Pekan Biasa XXI
1Tes. 2:9-13
Mzm. 139:7-8,9-10,11-12ab
Mat 23:27-32

Apakah anda dan saya juga sama seperti kubur?

Fr. JohnSaya pernah mengikuti perayaan misa peringatan arwah dan pemberkatan kuburan. Romo yang memimpin perayaan Misa itu memberikan sebuah homili yang sederhana, singkat dan bermakna. Pertanyaan akhir homilinya ia bertanya kepada kami semua: “Apakah anda dan saya juga sama seperti kubur?” Kami semua merenung dan memberi jawaban pribadi kepada Tuhan. Memang, ketika ada orang meninggal dunia, ada saja pekerjaan istimewa yakni membuat peti jenazah terbaik dan kuburan yang indah. Keluarga selalu berprinsip bahwa ini adalah hadiah terakhir kepada orang yang meninggal dunia. Ada keluarga tertentu memilih untuk menguburkan orang tuanya di depan rumah tinggalnya karena melihat kubur sebagai kenangan akan orang yang sudah meninggal dunia dan sebagai perumahan masa depan bagi mereka yang masih hidup. Sekali lagi, ini merupakan tanda untuk menghormati sanak keluarga atau siapa saja yang sudah meninggal dunia.

Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus, juga memiliki kebiasaan membuat kuburan yang bagus dan indah. Setiap orang yang melewati kuburan tidak akan merasa takut karena kuburan itu dibuat sedemikian rupa seperti rumah tinggal. Mungkin sama seperti saat ini di mana orang mengenalnya sebagai memorial park bukan lagi pekuburan yang bisa menakutkan banyak orang. Tuhan Yesus mengambil contoh kuburan untuk menggambarkan kehidupan kaum Farisi dan para ahli Taurat sekaligus mengecamnya dengan kata “celakalah” dan “munafik”. Tuhan Yesus berkata: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.” (Mat 23:27-28).

Perkataan Tuhan Yesus menggambarkan totalitas hidup kaum Farisi dan para ahli Taurat di hadirat Tuhan dan sesama. Mereka berpikir sudah menjadi orang sempurna, berpegang pada peraturan yang kaku dan keras tetapi lalai melakukan keadilan, belas kasih dan kesetiaan di dalam hidup mereka. Semua peraturan dan hukum disampaikan kepada orang lain tetapi mereka sendiri tidak melakukannya bahkan melanggarnya. Di luar mereka dibalut dengan hidup seolah-olah kudus padahal di dalam hati mereka penuh dengan kemunafikan dan kedurjanaan. Kita pun ditegur dengan keras oleh Tuhan Yesus supaya hidup pribadi kita janganlah seperti kuburan. Kita hidup sebagai anak-anak Tuhan yang berjalan dalam kekudusan, dengan terus menerus memperjuangkan keadilan, belas kasih dan kesetiaan. Banyak kali kemunafikan dan kedurjanaan menguasai hidup kita.

Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa pada masa lalu pernah ada dosa dan salah bahkan sejak adanya nenek moyang yang sudah membangun makam bagi pada nabi dan memperindah tugu peringatan bagi orang-orang saleh. Hal-hal ini mempertegas bahwa kaum Farisi dan para ahli Taurat adalah pembunuh pada nabi. Yesus sebenarnya mau mengatakan bahwa kaum Farisi dan para ahli Taurat juga akan melakukan hal yang sama kepada-Nya. Mereka juga akan menghukum dan membunuh Yesus di atas kayu salib.

Apa yang harus kita lakukan? Kita harus berubah dengan meninggalkan hidup yang penuh kemunafikan dan kedurjanaan. Banyak kali di depan orang kita berlaku sebagai saudara, sok akrab dan sok dekat tetapi di belakang mereka kita mengkhianatinya. Kita menceritakan hidup pribadi mereka bahkan tertawa di atas penderitaan mereka. Betapa munafik dan durjananya hidup kita! Mari kita berlaku jangan seperti kuburan. Berlakulah sebagai tempat tinggal Roh Kudus!

St. Paulus dalam bacaan pertama, mengingatkan jemaat di Tesalonika untuk mengingat segala jerih payahnya sebagai rasul. Mereka melayani Tuhan dengan mewartakan Injil siang dan malam. Bagi Paulus, pekerjaan sebagai pelayan Sabda dilakukan dalam semangat kekudusan, tak bercacat di hadapan Tuhan dan sesama. Ia sendiri mengakui bahwa Tuhan dan jemaat adalah saksi bagi karya pelayanan mereka sebagai rasul. Sebagai rasul, mereka tidak hanya mewartakan Injil, mereka juga membentuk komunitas Gereja.

Di dalam komunitas ini khususnya di Tesalonika, Paulus memberi nasihat kepada mereka supaya hidup sesuai dengan kehendak Allah, dan siap menerima Sabda Tuhan yang sudah sedang mereka wartakan. Dengan hidup setia mengikuti kehendak Tuhan dan setia melakukan Sabda-Nya maka jemaat bisa bersatu dengan Tuhan. Dalam konteks ini, Paulus berusaha untuk meyakinkan jemaat di Tesalonika supaya jangan menjadi seperti kuburan, melainkan hidup sebagai anak-anak Allah yang kudus.

Sabda Tuhan pada hari ini mengarahkan kita untuk berubah. Kita berubah dari hidup lama yang menyerupai kuburan menjadi bait Allah yang hidup di tengah dunia. Bersama Tuhan kita bisa menjadi kudus.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply