Homili 10 September 2015

Hari Kamis, Pekan Biasa XXIII
Kol. 3:12-17
Mzm. 150:1-2,3-4,5-6
Luk. 6:27- 38

Kuncinya adalah kasih

imageAda tiga orang bersaudara yang pernah merasakan hidup bahagia bersama orang tua mereka. Masing-masing mereka semua sudah berkeluarga dan relasi mereka pun masih baik-baik saja. Relasi mereka berubah ketika kedua orang tuanya meninggal dunia. Harta warisan yang ditinggalkan orang tua menjadi biang permasalahan ketiga saudara ini. Ada yang merasa tidak adil dalam pembagian. Dampaknya besar bagi relasi persaudaraan di antara para orang tua dan juga anak-anak. Menjelang perayaan lima tahun meninggalnya ibu mereka, muncul ide dari saudara bungsu untuk mengadakan misa peringatan lima tahun kematian sang ibu. Ia mengundang kedua saudara dan keluarganya untuk ikut hadir dalam perayaan ini. Keluarga saudara bungsu kaget ketika kedua saudaranya datang lengkap dengan keluarganya. Dia merasakan pengalaman yang luar biasa karena setelah bertahun-tahun akhirnya mereka bertiga bisa bersatu kembali. Romo yang merayakan misa dalam homilinya mengingatkan keluarga bahwa kunci dari kematian adalah kasih Allah. Allah begitu mengasihi manusia sehingga menghendaki hidup kekal. Kunci yang sama selalu dipakai Allah untuk membuka hati manusia supaya bisa merasakan kasih. Sabda Tuhan sanggup mengubah seluruh hidup ketiga saudara ini. Mereka berdamai dan saling mengasihi satu sama lain.

Banyak keluarga merasakan hal yang sama. Hati mereka melekat pada harta sehingga gara-gara harta mereka bisa saling bermusuhan satu sama lain, saudara kandung sekali pun. Kita perlu mawas diri sehingga tidak perlu terikat pada barang atau hal-hal yang fana. Sikap mawas diri ditunjukkan dengan menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus dari dekat. Artinya segala sesuatu yang kita lakukan setiap hari harus menggambarkan hidup kita sebagai pengikut Kristus. Pertanyaan penuntun bagi kita adalah adalah apakah hidup kita bisa semakin serupa dengan Yesus. Kuncinya adalah pada kasih kepada Tuhan Yesus, kasih kepada sesama manusia.

Pada hari ini kita mendengar Sabda Tuhan berupa ajakan untuk mengasihi. Tuhan Yesus berkata: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” (Luk 6:27-28). Kunci mengasihi bahkan mengasihi musuh sekali pun bisa ditunjuk dalam tindakan-tindakan konkret yakni selalu berbuat baik, meminta berkat dan berdoa. Ketiga hal ini merupakan mata rantai yang saling mengikat satu sama lain. Kasih mengandaikan perbuatan baik, berkat dan doa. Mungkin banyak di antara kita yang sulit untuk mengasihi karena belum bisa berbuat baik, memberkati dan mendoakan.

Kasih itu tidak membalas dendam. Sikap hidup sebagai pengikut Kristus ditunjukkan sendiri oleh Tuhan Yesus yang berpasrah, menyerahkan diri-Nya untuk menyelamatkan umat manusia. Ia tidak pernah mengeluh saat memikul salib, membalas dendam kepada para algojo. Ia justru memohon kepada Bapa untuk mengampuni mereka. Maka Yesus pun meminta kita untuk mengikuti-Nya dari dekat dan hidup menyerupainya. Ia memberikan hukum emas: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” (Luk 6:31).

Kasih itu universal. Orang baik dan jahat pun bisa mengasihi dengan kualitas yang berbeda-beda. Kalau kita sungguh-sungguh hidup sebagai pengikut Kristus maka kita mengasihi semua orang, menerima mereka semua apa adanya, bukan ada apanya. Mengapa demikian? Karena orang yang dianggap jahat oleh manusia pun bisa berbuat baik dan mengasihi sesamanya. Kita yang mengikuti Yesus Kristus harus mengasihi lebih dari orang yang lain.

Kasih universal yang paling ekstrim adalah mengasihi musuh. Yesus berkata: “Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” (Luk 6: 35). Tuhan Yesus mengajak kita bukan hanya untuk mengasihi musuh tetapi sebuah kasih yang diikuti dengan perbuatan baik kepada mereka. Mengapa kita bisa melakukan hal yang ekstrim seperti ini? Karena kita mengimani Allah sebagai kasih. Allah mahabaik kepada semua orang maka kita pun haruslah menyerupai-Nya.

Kasih juga membantu kita untuk murah hati kepada semua orang. Kita bermurah hati karena Allah juga murah hati kepada semua orang. Kita mengimani Allah maka kita haruslah menyerupai Allah yang murah hati dengan manusia. Percumalah kita mengatakan beriman kepada Allah sedangkan kita sendiri tidak bisa bermurah hati kepada sesama manusia. Orang yang murah hati tidak akan mudah menghakimi sesamanya. Ia tidak akan begitu saja menghukum sesamanya. Ia justru akan mengampuni dan murah hati untuk memberi atau berbagi dengan sesama manusia.

Pengajaran Yesus pada hari ini tentang kasih yang sempurna hanya bisa kita temukan di dalam diri-Nya sendiri. Artinya sambil memandang Yesus tersalib kita belajar untuk memberi diri dan mengasihi seperti Tuhan sendiri. Mengasihi sampai tuntas. Memang pengajaran Yesus hari ini sangatlah sulit untuk kita lakukan tetapi kita harus bisa menyerupai-Nya kalau kita mengimani dan berjalan mengikuti-Nya dari dekat.

St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose memberi motivasi yang bagus supaya jemaat bisa hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Ia berkata: “Sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.” (Kol 3:13). Bagi Paulus, jemaat adalah pilihan Allah maka mereka harus hidup di hadirat Allah dan merasakan kekudusan-Nya dan membagikan kebajikan-kebajikan tertentu miliknya kepada sesamanya. Orang yang mengasihi bisa berbelas kasih terhadap sesamanya, murah hati, rendah hati, lemah lembut dan sabar.

Paulus melanjutkan nasihatnya supaya jemaat bisa hidup sabar kepada sesama, suka mengampuni dan menjauhkan dirinya dari segala permusuhan. Bagi Paulus, Tuhan Yesus Kristus saja mengampuni dosa dan salah kita maka kita pun wajib melakukan lah yang sama kepada sesama manusia. Ia juga mengatakan bahwa cinta kasih itu paling tinggi dan berharga karena cinta kasih itu laksana tali pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Paulus akhirnya mengatakan bahwa dalam segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. Nasihat Paulus ini merupakan kunci kasih kepada Tuhan dan sesama manusia.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply