Homili 13 Oktober 2015

Hari Selasa, Pekan Biasa XXVIII
Rm. 1:16-25
Mzm. 19:2-3,4-5
Luk. 11:37-41

Janganlah bergaun kemunafikan!

imageSaya pernah mampir di sebuah Paroki dan melihat banyak spanduk berisi kegiatan-kegiatan Gereja selama beberapa bulan ke depan. Ada sebuah tawaran untuk mengikuti rekoleksi umat dengan tema “Janganlah bergaun kemunafikan”. Bagi saya, ini adalah sebuah tema rekoleksi yang unik. Tema rekoleksi ini sebenarnya mau mengatakan realitas hidup menggereja masa kini. Ada kemajemukan umat, misalnya tersebar dalam situasi teritorial dan kategorial yang berbeda satu sama lain. Ada rupa-rupa pelayanan di dalam Gereja. Namun ada kalanya pelayanan itu menjadi sebuah slogan semata. Orang bisa saja berkata “demi pelayanan” tetapi sebenarnya ia bersembunyi di belakang pelayan itu sendiri. Mungkin dia sedang berada di zona nyaman ketika melayani! Namun kita juga tidak bisa menutup mata terhadap gaun kemunafikan yang sedang dikenakan oleh banyak orang di dalam Gereja. Mereka bisa menggunakan kesempatan untuk melayani di dalam Gereja tetapi ada hidden agendanya, misalnya berurusan dengan uang (pinjam meminjam), melecehkan sesama untuk mencapai kepuasan tertentu entah secara verbal atau kontak fisik. Dan mungkin lebih parah adalah demi pelayanan orang merasa cukup,sehingga tidak mengikuti Ekaristi atau sakramen tobat. Padahal Ekaristi dan tobat itu menyempurnakan pelayanan kepada Tuhan dan sesama. Gaun kemunafikan masih ada!

St. Paulus melanjutkan pengajarannya kepada jemaat di Roma. Ia menyadari tugas panggilannya sebagai pewarta Injil. Ia yakin bahwa Injil yakni Kristus yang diwartakannya merupakan kekuatan dari Allah yang bisa menyelamatkan semua orang yang percaya kepada-Nya. Keselamatan itu sifatnya universal bukan untuk suku atau bangsa tertentu. Di dalam Injil, kebenaran Allah menjadi nyata dan sempurna. Bagi Paulus, kebenaran itu bertolak dari iman dan menuju kepada iman. Iman sebagai anugerah gratis dari Tuhan merupakan titik pusat yang mengendalikan hidup kita di hadirat Tuhan. Orang benar akan hidup oleh imannya (Rm 1:17; Hab 2:4).

Selanjutnya, Paulus coba membuka wawasan jemaat di Roma untuk berubah di dalam hidup mereka. Banyak orang menerima Injil tetapi masih bersifat munafik, penuh kefasikan dan kelaliman. Orang-orang yang biasa hidup dalam kefasikan dan kelaliman akan mendapat murka Allah yang nyata dari Surga. Manusia tentu menyadari bahwa Tuhan memiliki kuasa yang besar. Allah sendiri menyatakannya di dalam hidup setiap pribadi. Kekuatan dan keilahian-Nya dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan.

Titik kelemahan manusia adalah selalu merasa sulit untuk bersyukur kepada Tuhan. Banyak orang boleh mengaku mengenal Allah namun masih ada orang tertentu yang tidak memuliakan Tuhan sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Orang lebih mudah dikuasai oleh pikiran yang sia-sia dan hati mereka menjadi bodoh menjadi gelap. Orang bisa saja bersifat antropomorfis, dalam hal ini mempertuhankan manusia. Apa yang mereka lakukan? Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar (Rm 1:23).

Reaksi dari Tuhan adalah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka masing-masing akan kecemaran, sehingga orang leluasa mencemarkan tubuh mereka. Kebenaran Allah telah diganti dengan dusta. Manusia juga cenderung lebih menyukai hal duniawi, mendewakan barang duniawi dan melupakan Tuhan sang pencipta. Perkataan Paulus ini tetap nyata di dalam dunia masa kini. Banyak orang senang melayani, tetapi hatinya terikat pada gadget sehingga selama Ekaristi berlangsung ia tetap bermain gadget, melampiaskan kedagingannya secara verbal dan fisik. Gaun kemunafikan tetap membalut tubuh yang fana. Hanya dalam nama Yesus, kita juga akan memperoleh kehidupan kekal.

Tuhan Yesus dalam bacaan Injil mengecam orang-orang Farisi yang masih dibalut dengan gaun kemunafikan. Ada seorang Farisi mengundang Yesus untuk makan di rumahnya. Yesus tidak mengikuti adat istiadat orang Yahudi karena Ia makan tanpa mencuci tangan-Nya. Bagi orang-orang Farisi, Yesus sedang membuat suatu kenajisan. Namun Yesus dengan tegas berkata: “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.” (Luk 11: 39). Orang munafik memang seperti ini. Mereka tidak bereaksi secara terang-terangan tetapi bermain indah di belakang layar. Orang itu juga suka duduk untuk menceritakan sesama, bergosip ria tentang kehidupan pribadi sesamanya.

Banyak kali kita pun menjadi legalis dan lupa bahwa hal yang terpenting adalah cinta kasih dan keadilan. Sifat legalis seperti kaum Farisi yang lebih mementingkan hal-hal lahiria dan lupa bahwa Tuhan menghendaki keselamatan abadi bagi setiap orang. Tuhanlah yang memiliki kuasa untuk mengampuni bukan kita yang menghendakinya. Pada hari ini kita berusaha untuk lebih terbuka kepada Tuhan dan sesama. Tinggalkanlah gaun kemunafikan, dan kenakanlah hidup baru dalam Kristus.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply