Food For Thought: Melihat dengan mata Tuhan

Melihatlah dengan mata Tuhan!

Saya pernah mengikuti ibadat Oikumene. Pendeta yang membawakan Firman Tuhan mengajak semua Jemaat yang hadir untuk menyayikan lagu: “Hati-hati gunakan matamu, hati-hati gunakan matamu. Bapamu di surga melihat semua, hati-hati gunakan matamu”. Selanjutnya ia meminta kami semua menutup mata, lalu dia meminta kami untuk berefleksi, dengan pertanyaan: “Seandainya saya seorang buta…” Lalu ia melanjutkan: “Tetapi seandainya saya memiliki mata untuk melihat tetapi senagaja untuk tidak melihat maka saya juga orang buta”. Semua jemaat hening, rasanya seperti tidak ada orang di dalam ruangan. Saya sendiri merasa bahwa kata-kata sederhana dari pak pendeta cukup membangunkan kami semua dari tidur iman.

Kita perlu melihat dengan mata Tuhan, jangan hanya dengan mata kita sendiri. Melihat dengan mata kita sendiri selalu dihalangi oleh rasa ingat diri yang berlebihan, dan berbagai kelemahan manusiawi sehingga kadang kita semua memang memiliki mata namun tidak dapat melihat. Tuhan Yesus pernah berkata: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat menjadi buta” (Yoh 9:39). Mengapa demikian? Sebab manusia selalu melihat dengan mata manusiawinya dan lupa bahwa ia harus melihat dengan mata Tuhan.

Samuel pernah ditegur oleh Tuhan ketika berada di rumah Isai di Betlehem. Tuhan memintanya untuk mengurapi salah seorang anak Isai supaya menggantikan raja Saul. Samuel melihat keadaan fisik anak-anak Isai seperti Eliab. Tuhan menegur Samuel dengan berkata: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1Sam 16:7). Perkataan Tuhan ini benar adanya. Kita melihat namun seolah-olah buta sehingga tidak ada perasaan empati dengan sesama yang menderita. Justru yang ada di dalam diri kita adalah kesombongan dan hawa nafsu.

Apa yang harus kita lakukan? Kita perlu melakukan suatu pertobatan radikal. Metanoia merupakan sebuah bentuk transformasi diri radikal. Artinya, kita benar-benar keluar dari comfort zone yang penuh kegelapan untuk masuk ke courage zone, penuh keberanian untuk berubah untuk melihat terang. Kita perlu hidup sebagai anak terang karena terang akan berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan (Ef 5: 8-10). Melihat dengan mata Tuhan berarti mengusahakan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Inilah yang harus kita lakukan dalam masa prapaskah ini.

Selamat memasuki hari Minggu Prapaskah ke-IV, hari minggu penuh sukacita dan hari Minggu penuh dengan Terang Tuhan.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply