Homili 6 Oktober 2017

Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XXVI
Ba 1:15-22
Mzm 79: 1-2.3-5.8-9
Luk 10:13-16

Dengarkanlah suara Tuhan

Seorang anak remaja menulis doa syukurnya kepada Tuhan dalam sebuah buku catatannya. Bunyi doa syukurnya adalah: “Tuhan Allah, Bapa yang mahabaik, aku selalu mengucap syukur kepada-Mu karena Engkau menciptakanku begitu sempurna adanya. Engkau memberi kepadaku bagian-bagian tubuh yang sangat berguna untuk mengenal-Mu lebih dalam lagi, terutama kedua mataku untuk melihat, kedua telingaku untuk banyak mendengar, sebuah mulut untuk sedikit berbicara. Semoga Engkau memampukan aku untuk tetapi bersatu dengan-Mu. Amen.” Saya begitu terpesona membaca doa anak remaja ini sambil tak henti-hentinya memberi jempol kepadanya. Doa syukur sederhana namun sangat menyentuh hatiku. Ada kata-kata yang menyentuh hatiku yakni, “Engkau menciptakan kedua telingaku untuk lebih banyak mendengar dan sebuah mulut untuk sedikit berbicara.” Benar sekali! Ada orang yang memiliki satu mulut dan dua telinga, ada yang memiliki dua mulut dan satu telinga.

Nabi Barukh dalam bacaan pertama hari ini mengakui bahwa keadilan hanya ada di dalam Tuhan sedangkan kejahatan ada di tangan manusia. Sebab itu Barukh mengakui bahwa dosa ada di tangan manusia. Ia mengakui: “Kami telah berdosa terhadap Tuhan”. Selanjutnya Barukh membuat catatan berupa sederetan dosa, misalnya tidak taat kepada Tuhan, tidak mendengarkan suara Tuhan, tidak mengikuti segala ketetapan Tuhan yang telah diletakkannya di hadapan umat Israel. Dosa utamannya adalah mereka tidak mentaati Tuhan Allah.

Barukh mengatakan bahwa umat Israel menjauh dari Tuhan karena mereka tidak mendengar suara-Nya. Akibat dosa ini adalah adanya semua bencana dan laknat melekat dalam diri umat Israel. Umat Israel sekali lagi tidak mendengar suara Tuhan sesuai dengan sabda para nabi yang telah diutus Tuhan kepada umat Israel. Dosa lain yang diungkapkan oleh Barukh adalah bangsa Isarel telah menyembah berhahala, dalam hal ini mereka menyembah allah lain, masing-masing sesuai angan-angan mereka yang jahat. Umat Israel sendiri melakukan hal yang durjana dalam pandangan Tuhan.

Semua hal dosa yang diungkapkan oleh Barukh dalam kitabnya ini merupakan dosa keseharian kita. Dosa yang satu dan sama yaitu kita semua tidak saling mendengar satu sama lain maka dengan sendirinya kita juga tidak mampu mendengar Tuhan. “Kalau kamu mendengar suara Tuhan, janganlah bertegar hati.” Orang yang bertegar hati tidak mampu mendengar Sabda Tuhan. Kalau dia tidak mampu mendengar maka dengan sendirinya dia tidak mampu mematuhi atau mentaati. Kalau ia tidak mampu mentaati maka dengan sendirinya orang itu tidak mampu mengasihi. Orang yang mampu mengasihi pasti dia orang yang taat.

Tuhan Yesus dalam bacaan Injil membantu kita untuk melihat bagaimana orang yang taat pada kehendak Tuhan dan yang tidak mentaati-Nya. Ada beberapa kota yang mendapat kecaman dari Tuhan Yesus. Kecaman ke kota Khorazim, Betsaida dan Kapernaum. Kota-kota ini memang selalu mendapat kunjungan Tuhan Yesus namun mereka bertegar hati sehingga tidak mampu mematuhi atau mentaati-Nya. Sebab itu mereka akan mendapat hukuman setimpal. Kita seringkali bertegar hati sehingga tidak mampu mendengar suara Tuhan.

Pada akhir bacaan Injil, Tuhan Yesus menekankan pentingnya kemampuan untuk mendengar para utusan-Nya. Ia berkata: “Barangsiapa mendengarkan kalian, Ia mendengarkan Daku; dan barangsiapa menolak kalian, ia menolak Aku; barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku”. Barukh dalam bacaan pertama mengatakan bahwa umat Israel berdosa karena mereka tidak taat dan menyembah berhala. Mereka juga menolak para nabi. Tuhan Yesus memberikan pengajaran yang lebih dalam: dengan mendengar para utusan-Nya, berarti kita mendengar Yesus yang mengutus. Kalau kita menolak para utusan Tuhan maka kita menolak Tuhan Yesus. Kalau kita menolak Tuhan Yesus berarti kita menolak Allah Bapa yang mengutus Yesus Kristus putera-Nya.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini sangat menguatkan kita semua. Sebagai anak-anak Tuhan, mari kita berusaha untuk mendengar suara Tuhan dan janganlah bertegar hati. Kita berusaha untuk menerima Tuhan bukan menolak-Nya. Kita menerima Tuhan karena mampu mendengar-Nya. Kita mendengar Tuhan maka kita mentaati-Nya. Kita mentaati Tuhan berarti kita mengasihi-Nya.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply