Food For Thought: Kembalilah ke dalam keluargamu

Kembalilah ke dalam keluargamu!

Adalah sebuah pengalamanku yang sangat indah selama akhir pekan kemarin. Saya menyempatkan diri untuk mengunjungi keluargaku di lembah Lerek, Lembata. Di rumah, tempat saya lahir dan besar bersama ayah dan ibu serta saudari dan saudaraku. Ayahku Klemens sudah meninggal 22 tahun silam, ibuku Maria Keraf masih hidup dan sudah memasuki usia 88. Meskipun hanya satu setengah hari di rumah namun membawa kisah yang indah.

Apa yang indah selama berada di rumah? Kami semua bernostalgia tentang masa kecil, khususnya bersama saudari dan saudara saya bersama kedua orang tua. Kami mengenang ayahanda yang memiliki karakter yang kuat, punya disiplin ala militer meskipun dia seorang sipili serratus persen. Ada satu prinsip yang dia tanamkan dalam hidup kami: “Barangsiapa yang tidak bekerja janganlah ia makan”. Ayah saya mungkin pernah membacanya dari tulisan santu Paulus dalam 2 Tes 3:10: “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan”. Adik saya dan saya sendiri sebagai anak laki-laki memang belajar untuk tahu diri. Ketika keluar sekolah kami harus membantu mereka bekerja di kebun. Pekerjaan yang selalu kami lakukan adalah memperhatikan hewan-hewan piaraan yang jumlahnya banyak. Dari hewan-hewan inilah kebutuhan hidup kami terpenuhi.

Kami bersama bercerita tentang ibunda yang masih kelihatan segar, belum pikun! Dia adalah seorang wanita hebat yang tidak banyak bicara tetapi tekun bekerja. Dia seorang wanita yang jujur dan hidup apa adanya. Sikapnya tidak banyak bicara dan lembut hati benar-benar menjadi penyeimbang dengan karakter ayah yang kuat dalam membentuk kepribadian kami anak-anaknya. Kami memperhatikan sorot matanya belum pudar, duduk mendengar cerita kami hingga tengah malam sebelum kami berdoa bersama dan saya memberi berkat penutup. Pada saat saya pamitan untuk kembali ke tempat tugas, kelihatan matanya berkaca-kaca dan memberi tanda salib di dahiku. Saya meninggalkan mereka dengan hati penuh sukacita karena memiliki sebuah keluarga yang bagus. Dari sanalah saya belajar untuk menjadi seorang biarawan dan gembala dalam mengabdi Tuhan.

Seorang sahabat berjubah pernah bertanya kepada saya tentang resep untuk menjadi biarawan yang baik. Saya menjawabnya singkat: “Silakan pergilah ke dalam keluargamu terutama masa kecilmu, dan kembalilah ke komunitasmu sekarang ini”. Selama bertahun-tahun menjalani hidup bakti, saya selalu yakin bahwa keluarga adalah tempat terbaik di mana kita belajar tentang kasih dan kebaikan. Kita menjadi orang yang mampu mengasihi dan berbuat baik karena keluarga kita memang sudah demikian. Keluarga selalu menjadi cermin kehidupan kita.

Saya mengingat James J. Jones, seorang penulis dan motivator dari Amerika Serikat. Ia pernah berkata begini: “Kebahagiaan sejati dan kesempurnaan kebahagiaan hanya dapat ditemukan dalam kelembutan dan keintiman hubungan keluarga. Seberapa pun giatnya kita mencari kesuksesan dan kebahagiaan di luar rumah, kita tidak akan pernah terpuaskan secara emosional sebelum kita menjalin hubungan keluarga yang dalam dan penuh kasih.” Perkataannya ini sangat mendalam dan menguatkan rasa syukur untuk keluarga kita masing-masing. Mari kita bersyukur karena memiliki keluarga di mana kita mengenal kasih dan kebaikan melalui sosok ayah, ibu dan saudari serta saudara kita.

Saya mengakhiri permenungan ini dengan mengingat kembali George Bernard Shaw (1856-1950). Beliau adalah penulis, pengkritik dan peraih Nobel sastra (1925) dari Irlandia dan Inggris. Ia pernah berkata: “Keluarga adalah surga di dunia”. Mari kita membangun keluarga kita supaya menjadi surga di dunia ini. Alangkah indahnya ayah dan ibu kalau mereka setia selamanya. Alangkah indahnya saudari dan saudara hidup dalam kasih. Mari kita memulai keindahan keluarga saat ini juga.

Tuhan memberkati keluarga-keluarga di mana saja berada.

PJ-SDB

Leave a Reply

Leave a Reply