Homili 5 Februari 2020 – Injil untuk Daily Fresh Juice

Hari Rabu, Pekan Biasa ke-IV
Peringatan Wajib St. Agata
2Sam. 24:2,9-17
Mzm. 32:1-2,5,6,7
Mrk. 6:1-6

Lectio:

Pada suatu ketika tibalah kembali Yesus ke tempat asal-Nya, sedang para murid mengikuti-Nya. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.

Demikianlah Injil Tuhan kita
Terpujilah Kristus

Renungan:

Pernah kecewa!

Pada hari ini kita mengenang St. Agatha. Beliau hidup di Sisilia pada abad ketiga. Ia bertumbuh sebagai seorang gadis cantik, sehingga memikat hati para pria, termasuk Gubernur Romawi. Gubernur Romawi ini menyuruh orang untuk membawa Agatha ke istana supaya menjadi istri Gubernur, tetapi ia menolak dengan keras sebab ia sudah berjanji untuk membaktikan diri bagi Tuhan. Untuk menguatkan hatinya di hadapan sang Gubernur, Agatha berdoa begini: “Yesus Kristus, Tuhanku, Engkau melihat hatiku dan Engkau mengetahui kerinduanku. Hanya Engkau saja yang boleh memilikiku, oleh sebab aku sepenuhnya adalah milik-Mu. Selamatkanlah aku dari orang jahat ini. Bantulah aku agar layak untuk menang atas kejahatan.” Agatha tidak mengikuti perintah Gubernur sehingga ia mengalami kekerasan fisik dan verbal. Ia ditangkap dan dikirim ke rumah seorang mucikari, namun Agatha tetap menjaga dirinya. Ia sangat menjunjung tinggi kesucian tubuhnya.

Agatha digoda sedemikian rupa namun ia tetap bertahan dan focus pada Tuhan Yesus. Ia sudah berjanji untuk mempersembahkan dirinya secara total kepada Tuhan Yesus. Pada akhirnya Gubernur menyuruh para algojo untuk mencambuk dan menganiaya tubuhnya yang kudus. Dalam suasana menderita ia masih berdoa: “Tuhan Allah, Penciptaku, Engkau telah melindungi aku sejak masa kecilku. Engkau telah menjauhkan aku dari cinta duniawi dan memberiku ketabahan untuk menderita. Sekarang, terimalah jiwaku.” Agatha wafat sebagai martir di Catania, Sisilia, pada tahun 250. Ia dihormati sebagai pelindung para wanita penderita penyakit kanker payudara. Banyak doa mohon penyembuhan yang terkabul dengan perantaraan martir suci ini.

Kisah hidup Santa Agatha ini membuka wawasan kita untuk memahami bacaan Injil pada hari ini. Santa Agatha rela menjadi martir karena ia tidak mau mengecewakan Tuhan Yesus. Ia sangat mencintai-Nya dan berjanji untuk tetap bersama Yesus selamanya. Sang Gubernur merasa kecewa berkali-kali karena cintanya ditolak oleh Agatha. Puncak kekecewaannya adalah mencambuk dan membunuh Agatha. Di satu pihak Agatha membaktikan dirinya kepada Tuhan tanpa merasa kecewa, di pihak Gubernur penuh dengan kekecewaan dan menolak kehidupan Agatha.

Pada hari ini kita mendengar sebuah kisah Injil yang menarik perhatian kita semua. Penginjil Markus melaporkan bahwa Tuhan Yesus dan rombongan para murid-Nya meninggalkan daerah sekitar Galilea dan mendaki ke Nazareth sebagai tempat asal Yesus. Mereka menempuh perjalanan sekitar 30 km. Pada hari Sabat Ia seperti biasanya mengikuti ibadat di dalam rumah ibadat bersama orang-orang lainnya. Pada kesempatan ini, Ia menunjukkan diri bukan sebagai seorang tukang kayu melainkan sebagai seoran Rabi. Ia mengajar di dalam rumah ibadat dan semua orang begitu heran memandang-Nya.Ia juga memiliki murid-murid yang sebagian besarnya berasal dari Galilea.

Tentu saja orang-orang Nazareth merasa heran dengan Yesus. Mereka melihat Yesus dan memikirkan Yesus seperti saat Ia masih tinggal di Nazareth. Yesus itu biasa-biasa saja dan sangat mengherankan karena mendadak menjadi sosok yang luar biasa. Inilah pertanyaan-pertanyaan yang meremehkan sosok Yesus dan merupakan ungkapan kekecewaan banyak orang Nazareth kepada Yesus: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” (Mrk 6:2-3). Pertanyaan-pertanyaan ini ditutup dengan rasa kecewa dan menolak Yesus.

Tuhan Yesus memahami rasa kecewa orang-orang sekampung halaman-Nya. Ia berkata: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” (Mrk 6:4). Tuhan Yesus tidak ikut-ikutan menunjukkan rasa kecewa yang mendalam kepada orang-orang sekampung yang tidak menerima dan mengakui-Nya. Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka kepada-Nya. Ia tetap semangat, berkeliling dari desa ke desa sambil mengajar. Hanya manusia yang lupa diri dan kecewa serta menolak Tuhan di dalam hidupnya.

Ada dua hal penting yang menjadi fokus permenungan kita. Pertama, perasaan kecewa kepada Tuhan dan menolak-Nya. Apakah anda pernah merasa kecewa dan mau menolak Tuhan di dalam hidupmu? Pikirkankanlah saat ada penderitaan dan kemalangan, saat ada duka dan cemas, saat ada kegagalan dalam hidup. Biasanya Tuhan yang menjadi sasaran kemarahan manusia, dan kata yang keluar dari mulut adalah: “Saya kecewa dengan Tuhan”. Mari kita belajar untuk merasa malu di hadirat Tuhan sebab Ia tidak mengecewakan kita. Kita selalu mengecewakan Tuhan sebagai orang berdosa, tetapi Tuhan tidak pernah mengecewakan kita. Hanya kasih dan kebaikan yang ada pada Tuhan. Pertanyaan lain untuk kita renungkan: Apakah anda pernah merasa kecewa dengan sesamamu? Apa untungnya anda merasa kecewa dan mengecewakan orang lain? Santu Petrus berkata: “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya,sebab Ia yang memelihara kamu” (1Ptr 5:7).

Kedua, berusaha untuk selalu berbuat baik. Tuhan Yesus tidak membalas kejahatan manusia dengan memberi kutukan. Ia membalas kejahatan dengan kasih. Dari Yesus kita belajar untuk mengasihi dan membantu sesama kita. Kita mengasihi dengan kasih Tuhan Yesus. Kita memandang sesama dengan mata Yesus yang penuh belas kasih. Hanya dengan demikian tidak ada kebencian dan kekecewaan serta penolakan. Hanya kasih yang merajai dan menguasai hidup manusia. Hidup kita ini hanya sementara saja. Hindarilah rasa kecewa dan mengecewakan orang lain dengan berbuat baik. Orang mengenang kita sepanjang masa karena kasih dan kebaikan yang kita bagikan kepada semua orang dan kepada Tuhan sendiri.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur karena Engkau mengajar kami supaya tetap melakukan kasih dan kebaikan kepada semua orang. Bantulah kami untuk tetap mengasihi musuh-musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kami secara fisik dan verbal. Bilamana kami ditolak, kuatkanlah kami untuk tetap setia melayani seperti Engkau sendiri. Santa Agatha, doakanlah kami untuk mengasihi Yesus seperti engkau sendiri. Amen.

P. John Laba, SDB

Leave a Reply

Leave a Reply