Homili Hari Raya Kelahiran Yohanes pembaptis – 2020

HARI RAYA KELAHIRAN St. YOHANES PEMBAPTIS
Yes. 49:1-6
Mzm. 139:1-3,13-14ab,14c-15
Kis. 13:22-26
Luk. 1:57-66,80

Berani Bersaksi

Media sosial memiliki satu kekuatan untuk menggiring opini public tentang suatu fenomena tertentu di dalam masyarakat. Kadang-kadang orang tidak sempat menggunakan akal sehat dan hati nuraninya untuk mencerna informasi-informasi tertentu secara bijak. Misalnya fenomena seseorang berpindah agama. Si A adalah seorang aktifis Gereja berpindah agama menjadi seorang mualaf. Beritanya menggegerkan atau menjadi trending topic dan pribadi tersebut dimanfaatkan seolah-olah menjadi lahan bisnis baru. Media sosial belakangan ini sedang memanasi dunia maya akibat masuknya seorang wanita dari Serambi Mekah menjadi Kristen. Sebenarnya setiap orang memiliki hak dan kebebasan untuk beragama. Bahwa dia berpindah-pindah agama itu urusannya dia dengan Tuhan yang menyelamatkannya di akhir zaman. Apakah sikap orang-orang yang keluar masuk agama itu dapat mempengaruhi orang lain? Bagi saya tidak ada pengaruhnya sebab urusan beragama itu sangat pribadi. Dia boleh keluar dari agamanya, tetapi agama sebelumnya itu tidak akan bubar dan merasa rugi karena kekurangan umat. Sebenarnya, satu hal yang paling penting adalah apakah orang itu benar-benar menjadi sesama manusia atau tidak, terlepas dari agama apa yang sedang dianutnya. Dalai Lama pernah berkata: “Agama saya sangat sederhana. Agama saya adalah kebaikan.”

Saya sepakat dengan pendapat dan pikiran Dalai Lama ini. Setiap orang yang mengakui beragama, seharusnya memiliki kemampuan untuk mengubah dunia dengan kasih dan kebaikan yang diajarkan di dalam agamanya. Kalau seorang berpindah agama dan hidupnya menjadi lebih baik karena melakukan kasih dan kebaikan kepada sesama manusia maka saya akan mendukungnya. Namun kalau seorang berpindah agama untuk mencari popularitas di dunia maya dan nyata, atau demi uang maka saya tidak mendukung orang seperti itu. Karena seorang beragama itu bertujuan untuk membuat suatu kebaikan sehingga dunia menjadi baru, penuh dengan kasih, damai dan kebaikan bukan kebencian dan permusuhan. Sebab itu butuh sebuah kesaksian yang besar sehingga dapat mengubah hidup orang di hadirat Tuhan supaya menjadi lebih baik lagi.

Pada hari ini kita mengenang sosok Yohanes Pembaptis. Kita semua mengenal sosok nabi yang terakhir ini, dengan Zakharias sebagai ayahnya dan Elizabeth ibunya. Ia terlahir di saat orang tuanya sudah memasuki usia senja, dan ini adalah mukjizat kehidupan baginya dari Tuhan. Artinya Tuhan memberi kejutan kepada Zakharias imam-Nya di masa senja, dan Elizabeth yang sudah divonis mandul. Kelahiran Yohanes merupakan sebuah sukacita yang besar di dalam keluarga sebab aib yang dilabel orang pada Elizabeth dan Zakharias mulai terhapus. Lagi pula nama anaknya ‘Yohanes’ dalam Bahasa Yahudi, Yohanan (יוֹחָנָן) berarti kelimpahan atau Yehohanan (יְהוֹחָנָן) yang berarti Yahwe adalah kelimpahan. Yohanes adalah tanda kelimpahan atau anugerah Allah bagi keluarga Elizabeth dan Zakharias.

Kelahiran Yohanes juga boleh dibilang unik, selain kedua orang tuanya yang sudah memasuki usia senja. Ayahanya bernama Zakharias ini melakukan tugas sebagai imam di rumah Tuhan dan mengalami sebuah penampakan dari Malaikat. Satu tanda yang diberikan kepadanya adalah ia menjadi bisu selama proses kehamilan Elizabeth hingga masa melahirkan. Pada saat penentuan nama inilah, dan nama Yohanes ditulis maka mulut Zakharias terbuka, lidahnya terlepas dan saat itu juga Zakharias memuji Allah. Ini juga menjadi sebuah sukacit tersendiri di dalam diri Zakharias dan keluarganya.

Yohanes adalah anak yang penuh rahmat dan sukacita. Kelahirannya yang ajaib ini membuka hati dan pikiran banyak orang untuk semakin percaya kepada Tuhan. Tangan Tuhan selalu menyertai Yohanes. Ia bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun, hidup penuh kesederhanaan sampai tiba harinya ia menampakkan dirinya kepada Israel dan bersaksi tentang Mesias. Dialah yang menjadi terang dan menyiapkan kedatangan Yesus dengan seruan-seruan tobatnya. Penginjil Yohanes dan Lukas bersaksi: “Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang untuk bersaksi tentang terang, dan ia menyiapkan suatu umat yang layak bagi Tuhan” (Yoh 1:6-7; Luk 1:17).

Yohanes menyiapkan orang-orang pada zamannya untuk menyambut Yesus sang Mesias sebagai terang. Nabi Yesaya menyampaikan nubuat ini berabad-abad sebelumnya dalam madah kedua hamba Yahwe: “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” (Yes 49:6). Tuhan Allah memilih dan mengutus nabinya untuk tugas-tugas yang ditentukan Allah baginya. Dia menjadi hamba yang setia untuk membimbing setiap orang, dari segala suku dan bangsa dengan bersaksi dalam hidupnya tentang Allah yang benar. Hanya dengan demikian orang akan sungguh-sungguh melihat terang yang datang dari Allah. Apa yang diungkapkan nabi Yesaya ini menjadi nyata dalam semangat penghambaan Yohanes Pembaptis. Dia menyiapkan jalan bagi Tuhan dengan seruan-seruan tobatnya.

St. Lukas di dalam Kisah para rasul mengakui bahwa kedatangan Yesus itu dipersiapkan oleh Yohanes Pembaptis. Pengakuan Lukas ini berdasarkan kotbah dan pengajaran yang disampaikan Paulus di dalam rumah ibadat di Antiokhia. Ketika itu Saulus menceritakan sejarah keselamatan mulai dari Saul hingga kedatangan Yohanes untuk menyiapkan kedatangan Yesus. Ia menyiapkan orang di sekitar sungai Yordan untuk bertobat dan memberi diri dibaptis. Yohanes menunjukkan banyak aspek hidup yang menunjukkan bahwa dia sungguh-sungguh bersaksi: “Dan ketika Yohanes hampir selesai menunaikan tugasnya, ia berkata: Aku bukanlah Dia yang kamu sangka, tetapi Ia akan datang kemudian dari padaku. Membuka kasut dari kaki-Nyapun aku tidak layak.” (Kis 13:25).

Pada hari ini kita bergembira bersama Elizabeth dan Zakharias. Mereka memiliki penderitaan tersendiri ketika belum mendapatkan anugerah kehadiran Yohanes anak mereka. Pengalaman penderitaan ini masih dialami oleh keluarga-keluarga yang hingga saat ini belum dikarunia anak atau keturunan. Anak adalah pemberian dan tanda kasih dari Tuhan. Tuhan yang punya kehendak bukan kita sebagai manusia yang bekehendak untuk mengatur Tuhan. Kalau tidak mendapat karunia supaya mempunyai anak maka lanjutkan hidupmu sebagai suami dan istri karena tujuan menikah itu untuk saling membahagiakan sebagai pasangan hidup. Pilihan lain adalah mengadopsi anak. Jadi bercerai, berselingkuh atau mencari yang lain bukan solusinya di dalam berkeluarga. Kelahiran Yohanes meneguhkan semua keluarga di dunia ini. Kelahiran Yohanes juga membuka wawasan kita untuk berani bersaksi tentang iman kita. Kita percaya kepada Allah yang benar maka bertobat dan senantiasa membaharui janji baptis kita di hadirat Tuhan. Kita semua bisa menjadi Yohanes Pembaptis bagi keluarga dan saudara-saudari yang ada di sekitar kita. St. Yohaes Pembaptis, doakanlah kami. Amen.

PJ-SDB