Homili 28 Juli 2020

Hari Selasa, Pekan Biasa ke-XVII
Yer. 14:17-22
Mzm. 79:8,9,11,13
Mat. 13:36-43

Saatnya untuk bertobat

Adalah Joseph Joubert (1754-1824). Beliau adalah salah seorang penulis kenamaan berkebangsaan Prancis. Ia pernah berkata: “Penyesalan adalah hukuman atas kejahatan; pertobatan adalah penebusan. Seseorang menjadi bagian dari hati nurani yang tersiksa; yang lain menjadi jiwa yang berubah dengan lebih baik.” Saya merasa yakin bahwa hampir semua orang pernah melakukan kejahatan dalam hidupnya. Apakah orang itu selamanya tinggal dan menikmati kejahatannya? Saya kira tidak akan terjadi. Orang itu pasti merasa hati nuraninya tersiksa dan ia akan menyesali segala kejahatannya. Orang itu akan bertobat, mengalami penebusan sebab jiwanya berubah lebih baik. Maka saya selalu yakin akan perubahan. Manusia bisa berubah menjadi lebih baik lagi dalam hidupnya. Maka ada satu saat yang penting dalam hidup manusia yakni saat untuk bertobat sehingga dapat memperoleh penebusan berlimpah dari Tuhan. Pertobatan membuat orang bercahaya seperti matahari.

Tuhan pernah merasa kecewa dengan bangsa Israel. Memang Ia telah memilih mereka menjadi bangsa pilihan, umat kesayangan-Nya. Ia memiliki inisiatif untuk membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, mendampingi mereka dalam perjalanan di padang gurun menuju ke tanah Kanaan, melenyapkan setiap musuh yang menghalangi mereka dalam perjalanan di padang gurun. Ketika ketiadaan makanan dan minuman, Tuhan menyediakannya bagi mereka. Namun balasan mereka kepada Tuhan adalah sedikit bersyukur dan lebih banyak mengeluh, mengeraskan hatinya, bertegar tengkuk dan mencobai Tuhan Allah. Ini benar-benar merupakan periode kegelapan dalam hidup manusia di hadirat Tuhan. Hingga saat ini kita masih menemukan banyak orang bahkan diri kita sendiri yang belum tahu bersyukur, sebaliknya lebih banyak menuntut kepada Tuhan. Ada orang yang kelihatan lebih memprioritaskan dosa dan salah dari pada kasih dan kebaikan. Butuh penyesalan dan pertobatan yang radikal.

Nabi Yeremia dalam bacaan pertama menunjukkan wajah manusia yang sebenarnya. Manusia yang tadinya menikmati dosa dan nyaman dalam dosa, kini sudah mulai sadar diri untuk menyesal dan bertobat. Perubahan radikal itu terjadi karena kasih dan kebaikan Tuhan tidak pernah berubah. Sikap bathin yang tepat adalah sebagaimana dikatakan dalam Kitab Mazmur: “Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” (Mzm 118:29). Allah begitu setia dan sabar kepada manusia yang berdosa. Ketika itu nabi Yeremia berkata kepada Tuhan tentang situasi ‘musim kering’ yang sedang dialaminya di tengah umat yang berdosa. Situasi umum digambarkan Yeremia seperti ini: Orang-orang yang tidak mau bertobat itu laksana orang yang luka parah, atau yang mati terbunuh di padang akibat pedang. Di dalam kota sendiri ada kelaparan yang menguasainya. Para nabi seakan menjelajahi negeri yang tidak dikenalnya. Gambaran ini memang menandakan kegelapan akibat dosa. Yehuda ibarat ikat pinggang lapuk yang tidak menyatu dengan Tuhan.

Dalam situasi seperti ini, nabi Yeremia memohon kerahiman Allah bagi manusia. Yeremia percaya bahwa Tuhan itu sabar, ia telah membiarkan orang baik dan orang jahat hidup berdampingan ibarat gandum dan lalang di kebun. Nabi Yeremia bertanya kepada Tuhan, apakah Tuhan benar-benar menolak Yehuda? Apakah Tuhan benar-benar muak dengan kota Sion? Yeremia melihat begitu banyak penderitaan yang dialami manusia: mereka yang terluka, meninggal dengan menumpahkan darah dan yang mengalami kelaparan. Ini rasanya seperti pukulan yang tidak menyembuhkan bagi Yehuda. Yeremia lalu membuka hatinya kepada Tuhan bahwa yang dibutuhkan manusia adalah damai sejahtera, dan kesembuhan.

Inilah doa Yeremia untuk memohon kerahiman Allah bagi Yehuda: “Ya Tuhan, kami mengetahui kefasikan kami dan kesalahan nenek moyang kami; sungguh, kami telah berdosa kepada-Mu. Janganlah Engkau menampik kami, oleh karena nama-Mu, dan janganlah Engkau menghinakan takhta kemuliaan-Mu! Ingatlah perjanjian-Mu dengan kami, janganlah membatalkannya! Adakah yang dapat menurunkan hujan di antara dewa kesia-siaan bangsa-bangsa itu? Atau dapatkah langit sendiri memberi hujan lebat? Bukankah hanya Engkau saja, ya Tuhan Allah kami, Pengharapan kami, yang membuat semuanya itu?” (Yer 14:20-22). Orang yang sadar diri bahwa ia orang berdosa akan melakukan pertobatan dan mengalami kembali kasih dan kerahiman Allah.

Dari nabi Yeremia kita belajar bahwa sebagai seorang Utusan Tuhan, ia harus membawa kesejukan bagi orang berdosa supaya mereka bertobat bukan untuk menambah dosa. Ia menerangkan tentang Allah Yang Maharahim bukan tentang hukuman dan neraka yang menakutkan. Allah yang sabar terhadap manusia yang jahat dan mengampuni dengan kasih setia-Nya. Seandainya para pemimpin agama masa kini bersikap seperti nabi Yeremia maka dunia tentu akan berbeda. Para pemimpin agama membawa semua orang kepada Tuhan. Pemimpin agama bukan untuk mengeruhkan suasana masyarakat akibat perkataan dan pengajarannya.

Apa yang harus kita lakukan?

Pertama, kita semua memiliki tugas mulia untuk membangun dunia yang harmonis sesuai kehendak Allah. Bahwa ada kejahatan, penderitaan dan kemalangan yang menimpa kita semua seperti covid-19 ini, tidak harus membuat kita tetap tinggal dalam kegelapan. Kita harus berusaha untuk keluar dari situasi ini untuk melihat terang. Kerja sama untuk melawan kejahatan, radikalisme dan hal-hal yang melawan hak-hak hidup manusia harus menjadi prioritas kita.

Kedua, kita semua dipanggil dan diutus Tuhan untuk membawa kesejukan kepada sesama. Tugas kita bukan memperkeruh suasana, menjadikan agama sebagai bahan dagangan, menyebarkan berita hoax dan aneka label yang tidak manusiawi. Kita memperjuangkan sebuah dunia yang baru, penuh kedamaian.

Ketiga, Membangun semangat tobat. Bertobat itu adalah sebuah kebutuhan bukan keterpaksaan. Kita bertobat karena kita adalah bagian dari Tuhan bukan dari dunia. Orientasi hidup kita ke depan adalah kebaikan dan kekudusan hidup. Maka dalam pengadilan terakhir Tuhan akan memperhatikan kasih dan kebaikan yang kita lakukan. Dengan demikian ‘orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Sorga’. Ini adalah saatnya untuk bertobat!

PJ-SDB