Homili 1 Desember 2021 – Injil Untuk Daily Fresh Juice (DFJ)

Hari Rabu, Pekan Adven I
PW Beato Dionisius dan Redemptus
Yes. 25:6-10a;
Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6;
Mat. 15:29-37

Lectio:

“Pada suatu ketika Yesus menyusur pantai danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel. Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.” Kata murid-murid-Nya kepada-Nya: “Bagaimana di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?” Kata Yesus kepada mereka: “Berapa roti ada padamu?” “Tujuh,” jawab mereka, “dan ada lagi beberapa ikan kecil.” Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh.”
Demikianlah Sabda Tuhan
Terpujilah Kristus.

Renungan:

Milikilah Harapan yang membahagiakan

Selamat datang bulan Desember, selamat memulai hari-hari pertama dalam tahun Liturgi kita khususnya dalam masa adventus ini. Kita memulai tahun C dalam tahun liturgi Gereja kita, di mana setiap hari Minggu sepanjang tahun ini kita akan membaca Injil Lukas. Injil Yohanes akan diselipkan berdasarkan misteri iman yang kita rayakan. Bacaan misa harian seperti hari ini diambil dari tahun ke dua, sehingga dalam kalender liturgi ditulis Tahun C/II. Pada pekan adven pertama ini, lilin pertama yang berwarna ungu dinyalakan dan memiliki arti sebagai harapan (hope). Ini adalah saat yang tepat kita semua menantikan kedatangan Tuhan Yesus Kristus dengan penuh harapan dan sukacita. Kita mempersiapkan diri dengan menyatakan semangbat tobat kita agar layak menyambut Dia. Lilin pertama sebagai lilin harapan yang dinyalakan pada pekan ini juga biasa disebut lilin Nabi karena mengingatkan kita akan kedatangan Yesus sebagai Mesias yang sudah lebih dahulu diwartakan oleh para nabi terdahulu. Bacaan-bacaan Kitab Suci pada pekan adven pertama memberi nuansa harapan yang besar kepada Tuhan yang penuh dengan kerahiman.

Kita perlu memiliki harapan yang membahagiakan hidup kita bersama dan dalam Tuhan. Ini adalah sebuah harapan yang kita temukan dalam bacaan Injil hari ini. Penginjil Matius mengisahkan bahwa Tuhan Yesus berjalan menyusur pantai danau Galilea, naik ke atas sebuah bukit di sekitar danau itu dan duduk. Ketika itu orang banyak membawa sanak keluarga yakni orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Orang lumpuh, timpang, buta, bisu dan yang berkebutuhan khusus sering dibully atau dilecehkan dalam masyarakat sepanjang zaman. Namun mereka memiliki harapan akan hidup bahagia dalam Tuhan. Tuhan Yesus sendiri memberikan sebuah harapan yang penuh kebahagiaan dengan memberkati dan menyembuhkan mereka. Mukjizat sungguh terjadi di mana orang banyak saat itu takjub karena mereka sendiri melihat bagaimana orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel. Ini meruoakan sebuah pengalaman iman yang luar biasa. Masih ada harapan bagi mereka yang nyaris kehilangan harapan dan masih ada satu-satunya pemberi harapan yaitu Yesus Tuhan sendiri. Tugas kita adalah melakukan pekerjaan Yesus dengan memberikan harapan kepada mereka yang nyaris kehilangan harapan. Tentu saja bukan harapan atau janji-janji palsu.

Tuhan Yesus memberi harapan pasti bukan hanya kepada orang-orang sakit untuk disembuhkan saja. Dia juga selalu tergerak hati oleh belas kasihan kepada orang-orang yang lapar dan haus. Ia menunjukkan belas kasih-Nya kepada orang-orang yang mengikuti-Nya dari dekat, berharap kepada pertolongan-Nya dengan mengajar para murid-Nya untuk melayani, berbagi, berempati dengan orang-orang yang sangat membutuhkan. Dengan menggandakan roti dan ikan, Yesus mengajar pada murid-Nya bagaimana berempati dengan sesama manusia yang lapar dan haus. Di dalam Injil kita mendapat gambaran bagaimana Tuhan Yesus menunjukkan empati-Nya kepada orang banyak dengan menjamu atau memberi mereka makan. Di Galilea, Ia memberi makan kepada lima ribu orang. Di daerah dekapolis, Dia memberi makan kepada empat ribu orang. Di Yerusalem, Dia duduk dan santap bersama para murid-Nya pada malam perjamuan terakhir. Pada sasat ini Yesus berempati dan memberi harapan kita akan perjamuan abadi di surga melalui Ekaristi yang kita rayakan bersama.

Pada masa adventus dan kita masih berada dalam masa pandemi ini, kita belajar dari Yesus untuk berempati dengan sesama yang sangat membutuhkan, terutama kebutuhan dasar mereka untuk makan dan minum yang layak sebagai manusia. Banyak kali orang tidak mudah berempati tetapi membuang-buang makanan dan minuman. Sesungguhnya, masa adventus ini bukan hanya sekedar sebuah masa penantian yang pasif. Orang hanya sekedar menanti saja. Kita menantikan kedatangan Tuhan Yesus dengan segala kemuliaan-Nya, maka kita perlu memiliki harapan kepada-Nya karena Dia juga memberi harapan yang pasti kepada kita. Kita juga di saat yang sama membawa harapan-Nya kepada sesama dengan menyembuhkan dan memuaskan lapar dan dahaga mereka. Kita membawa harapan Tuhan kepada sesama dalam karya pelayanan belas kasih kepada mereka. Tuhan Yesus berkata: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudara-Ku yang paling hina ini, kamu lakukan untuk Aku” (Mat 25:40). Kita bersuaha untuk memiliki harapan yang membahagiakan dan membawa harapan yang membahagiakan kepada sesama kita. Tuhan memberkati kita semua.

P. John Laba, SDB