Homili 9 April 2022

Hari Sabtu Pekan V Prapaskah
Yeh. 37:21-28
MT Yer. 31:10,11-12b,13
Yoh. 11:45-56

Ampunilah kami Tuhan!

Saya selalu mengingat sebuah doa spontan dari seorang bapa dalam sebuah rekoleksi di lingkungan. Ia berdoa begini: “Tuhan Yesus, ampunilah kami orang berdosa ini karena kami telah menyalibkan-Mu di salib. Paku-paku telah kami tancapkan pada tangan dan kaki-Mu yang kudus. Paku-paku adalah pikiran dan perkataan kami yang jahat kepada-Mu dan kepada sesama kami. Ampunilah kami Tuhan Yesus.” Semua umat yang hadir menundukan kepalanya sambil merenung sebuah doa yang benar-benar spontan karena keluar dari dalam hati. Saya teringat pada Santo Yakobus yang mengatakan: “Doa orang yang benar sangat besar kuasanya.” (Yak 5:16) dan kiranya ini adalah salah satu contoh doa orang benar.

Pada pekan kelima prapaskah ini pikiran kita tertuju pada kekuatan salib Kristus, di mana pada salib ada keselamatan kita (In Cruce Salus). Salib adalah sebuah tanda kasih Bapa bagi manusia. Salib adalah saatnya Tuhan dinaikan dan semua mata teruju kepada-Nya. Tuhan Yesus sendiri berkata kepada Nikodemus: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan.” (Yoh 3:14). Maka dengan memandang Yesus yang tersalib, kita memandang keselamatan. Tuhan Yesus rela disalibkan untuk keselamatan kita karena kasih. Dalam percakapan dengan Nikodemus, Tuhan Yesus juga berkata: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yoh 3:16-17).

Pada hari ini kita mendengar bacaan Injil Yohanes yang membuat kita geleng-geleng kepala. Tuhan Yesus telah membuat sebuah tanda yang luar biasa yaitu membangkitkan Lazarus. Diceritakan bahwa: “Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu.” (Yoh 11:45-46). Karena pekerjaan Yesus maka di sini muncul dua kelompok orang Yahudi: kelompok pertama menyaksikan dan mengalami ‘tanda’ dan percaya kepada Yesus. Kelompok kedua adalah orang Farisi yang menceritakan pekerjaan Yesus sehingga menimbulkan rencana busuk untuk membunuh Yesus. Bagi orang yang waras akan mengatakan, mengapa orang baik seperti Yesus yang berbuat baik dengan membangkitkan Lazarus malah dibenci dan mau dibunuh? Nyatanya pengalaman Yesus ini adalah pengalaman kita saat ini juga.

Kita mendengar dalam bacaan Injil bagaimana rencana dan siasat buruk direncanakan bagi Yesus dari kalangan imam-imam kepala dan orang-orang Farisi di hadapan Mahkamah Agama. Pikirkanlah bahwa siasat buruk itu ada karena Yesus membuat mukjizat besar yakni membangkitkan Lazarus. Mukjizat ini membangkitkan kepercayaan dari banyak orang Yahudi kepada Yesus. Ada juga rasa khawatir karena kedudukan para imam kepala terancam. Mereka bepikir bahwa kalau saja Yesus menjadi pemimpin maka orang-orang Romawi dengan sendirinya akan datang dan merampas tempat-tempat kudus mereka.

Kayafas adalah Imam Besar yang membuka wawasan mereka untuk mematangkan rencana mereka untuk membunuh Yesus. Ia berkata kepada rekan-rekannya: “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.” (Yoh 11:49-50). Yang dimaksudkan dengan satu orang mati adalah sosok Yesus sendiri. Kematian Yesus sungguh akan terjadi. Kematian Yesus turut mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Rencana untuk membunuh Yesus bukan hanya dipikirkan oleh kalangan para imam kepala dan kaum Farisi saja. Banyak orang juga memata-matai kegiatan dan keberadaan Yesus. Mereka bahkan saling bertanya satu sama lain: “Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?” (Yoh 11:56).

Perhatikanlah perilaku para imam kepala dan kaum Farisi. Mereka memiliki kelebihan yakni memata-matai orang lain, apalagi yang sedang bertolak belakang dengan mereka. Mereka menunjukkan rasa benci mereka dengan rencana untuk membunuh orang yang baik seperti Yesus. Saya mau mengatakan bahwa kita juga sedang memandang sebuah cermin yang besar. Memata-matai orang lain, berbicara jelek terhadap orang lain, berpikiran kotor kepada orang lain berakibat pada gossip tertentu adalah bagian dari hidup manusia saat ini. Maka tepatlah doa umat di atas: “Ampunilah kami Tuhan.”

Apa yang harus kita lakukan?

Kita perlu menata jalan pertobatan kita. Apa untungnya kita berperilaku demikian kepada sesama yang berbuat baik kepada sesama yang lain? Mengapa kita tidak mendukung tetapi malah mencela perbuatan baik mereka? Kita seharusnya menjadi serupa dengan Tuhan yang mengampuni dan menerima manusia apa adanya. Melalui nabi Yehezkiel, Tuhan berkata: “Sungguh, Aku menjemput orang Israel dari tengah bangsa-bangsa, ke mana mereka pergi; Aku akan mengumpulkan mereka dari segala penjuru dan akan membawa mereka ke tanah mereka.” (Yeh 37:21). Tuhan sungguh baik kepada manusia yang berdosa. Dia bahkan berjanji untuk menguduskan Israel, pada waktu tempat kudus-Ku berada di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya. Tuhan sungguh baik kepada orang berdosa dan kebaikan-Nya itulah yang mengubah hidup kaum pendosa menjadi baik. Pertobatan sejati itu adalah rahmat Tuhan bukan sekedar keinginan manusia semata. Ampunilah kami Tuhan dan semoga kami bertobat.

P. John Laba, SDB