Homili Hari Minggu Palma/ C – 2022

HARI MINGGU PALMA
MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN
Yes. 50:4-7
Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24
Flp. 2:6-11
Luk. 22:14-23:56

Penderitaan Kristus dan kita

Pada hari ini kita memasuki pekan suci dengan merayakan Hari Minggu Palma. Semua media sosial kita diramaikan oleh gambar-gambar daun palma dan ucapan selamat merayakan Hari Minggu Palma. Tentu saja ini merupakan suatu hal yang menarik perhatian kita, mengingat misa luring sudah mulai kembali di gereja-gereja kita. Perayaan Hari Minggu Palma membantu kita untuk memahami hal-hal tertentu yang berkaitan dengan penderitaan Kristus dan kehidupan kita sebagai pengikut Kristus. Pertama, daun palem. Daun palem melambangkan kemenangan dan kedamaian. Dengan warna daunnya yang hijau membantu kita untuk merenungkan sebuah kemenangan dari kematian ke dalam kehidupan baru. Kemenangan para martir dari kematiannya dilambangkan dengan daun palem. Kedua, kita menyerukan: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!” (Mat 21:9). Kata hosanna dalam Bahasa Latin osanna, atau bahasa Yunani ὡσαννά, (hōsanná) berasal dari kata Bahasa Ibrani yaitu הושיעה־נא, הושיעה נא (hôšîʿâ-nā) dan berkaitan dengan kata Aram אושענא (ʾōshaʿnā) yang artinya “selamat, menyelamatkan, juruselamat”. Dengan merujuk pada Mazmur 118:25, kata hosana bisa berarti “Saya memohon tolong selamatkan saya!” atau “Tolong selamatkan kami!”. Ketiga, kita merenungkan kisah sengsara Yesus. Tuhan Yesus rela mengosongkan diri-Nya hingga wafat di kayu salib untuk kita.

Bacaan-bacaan liturgi pada hari ini menghadirikan sosok Tuhan Yesus Kristus, sang Mesias yang menderita. Dalam bacaan pertama kita mendengar kisah tentang hamba Yang menderita di dalam Kitab Nabi Yesaya. Hamba Yahwe yang ditampilkan di sini sangat menderita. Misalnya dikatakan begini: “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.” (Yes 50: 6). Dalam suasana menderita, hamba Yahwe ini tetap menunjukkan dirinya sebagai pribadi yang setia dalam melakukan Sabda Tuhan.

Sosok hamba Yahwe adalah gambaran diri daru Yesus sang Mesias di dalam Kitab Perjanjian Baru. Santo Paulus dalam bacaan kedua memberikan himne tentang Tuhan Yesus Kristus sendiri. Semua aspek kehidupan Yesus Kristus diringkas di sini: “Yesus Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Flp 2:6-8). Gambaran diri inilah yang membuat Allah sangat meninggikan Dia dan bahwa dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:10-11).

Selanjutnya sosok Yesus yang menderita dikisahkan oleh penginjil Lukas. Kisah sengsara Tuhan Yesus di dalam Injil Lukas digambarkan seperti ini: perjamuan malam terakhir (Luk 22:14-38), Penangkapan Yesus di kebun Getsemani (Luk 22:39-53), Penyerahan Yesus ke Mahkamah agama Yahudi (Luk 22:54-71), Pengadilan oleh Pilatus (Luk 23:1-25), Penyaliban serta kematian Yesus (Luk 23:26-49) dan pemakaman Yesus (Luk 23:50-56). Dengan membaca kisah sengsara Yesus ini, kita dapat melihat ada tiga bentuk penderitaan atau kesengsaraan Yesus yaitu penderitaan secara mental, penderitaan secara fisik dan penderitaan secara rohani.

Pertama, Penderitaan Yesus secara mental. Kita melihat bagaimana Yesus menderita secara mental mulai di taman Getzemani. Dengan memikirkan penderitaan hingga kematian-Nya, Yesus berdoa: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi. “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi. Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” (Luk 22:42-44).

Kedua, Penderitaan Yesus secara fisik. Tuhan Yesus sangat menderita. Ia memikul salib dengan mengalami penyiksaan berupa pukulan pada tubuh-Nya. Ada orang yang berasumsi bahwa Yesus dicambuk sebanyak 39 kali, sebab itulah yang dialami oleh Rasul Paulus (2 Korintus 11:24). Namun Paulus sendiri menuliskan bahwa ia disesah oleh orang Yahudi, dan tradisi Yahudi menyatakan bahwa hukuman lebih dari 40 kali cambukan itu merendahkan orang sebangsanya (Ulangan 25:3), itu sebabnya Paulus tidak pernah dicambuk lebih dari 40 kali. Menurut buku Manusia Kain Kafan, penyesahan Yesus dilakukan sebanyak 121 kali dari kanan dan 121 kali dari kiri. Dengan demikian, jumlah luka yang terdapat pada tubuh Tuhan Yesus sampai di kaki-Nya adalah 726 buah dengan kulit, daging dan otot yang pasti ikut tercabik. Para algojo yang mendera Yesus tentu sangat mahir. Mereka tidak memukul daerah-daerah tubuh yang mematikan, seperti wilayah dada yang terdapat jantung. Luka-luka pada area tubuh ini tentu menimbulkan rasa nyeri dan banyak pendarahan. Tuhan Yesus harus membawa bagian horizontal dari salib (patibulum) yang beratnya kurang lebih 50 kg ke Bukit Golgota yang terletak di luar kota. Tuhan Yesus memikul patibulum pada pundaknya dengan kedua lengan terantang serta diikat pada ujung kanan-kiri patibulum.

Ketiga, Penderitaan Rohani. Tuhan Yesus menderita secara rohani. Penderitaan semacam ini dialami oleh Yesus di atas kayu salib. Ia berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (Luk 23:46). Raja Daud selaku nenek Moyang Yesus pernah berkata kepada Yahwe: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Mzm 22:2) dan kemudian diulangi sendiri oleh Yesus: “Eli, Eli, Lama Sabachthani!.” artinya “Allahku, ya Allahku, mengapa Kau tinggalkan Aku?” (Mat. 27:46). Ini adalah sebuah penderitaan rohani, rasanya seperti Bapa meninggalkan Yesus menderita seorang diri.

Ketiga bentuk penderitaan yang dialami Yesus dalam kisah sengsarah-Nya adalah kisah sengsara kita juga. Kita juga mengalami penderitaan secara mental, penderitaan fisik dan penderitaan rohani. Di saat-saat seperti itu, kita tidak perlu takut karena Tuhan Yesus sudah mengalami-Nya. Kita pasti akan menang karena kita lebih dari pemenang (Rom 8:37) dan bahwa tidak ada suatu apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (Rom 8:39). Maka kita harus tetap percaya bahwa segala penderitaan kit aini untuk melengkapi penderitaan Kristus yang masih kurang yakni Gereja-Nya (Kol 1:24). Sebab itu hadapilah penderitaan dengan senyum karena Tuhan Yesus menyertai kita.

P. John Laba, SDB