Hari Senin Pekan Suci 11 April 2022

HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI
Yes. 42:1-7
Mzm. 27:1,2,3,13-14
Yoh. 12:1-11

Mengingat hari penguburan!

Apakah anda pernah mengalami hari dan tanggal istimewa misalnya kelahiran, kematian dan penguburan atau kremasi orang-orang yang anda kasihi? Dalam pengalaman saya, ada beberapa orang yang hari kematiannya tidak akan saya lupakan. Misalnya ayah saya meninggal dunia pada tanggal 14 Februari 1997. Hari Valentine menjadi hari hidup baru bagi ayah saya. Mama saya meninggal dunia pada peringatan santa Sesilia yakni 22 November 2020. Seorang saudari bernama Gabriela dikremasi di Rumah Duka Oasis pada Hari Raya Natal 2021. Dan masih banyak peringatan hari kematian, penguburan atau kremasi dari orang-orang yang pernah ada dalam kehidupan saya yang sangat spesial. Hari dan tanggal istimewa yang berhubungan dengan kelahiran, kematian, penguburan atau kremasi selalu memotivasi kita untuk menyiapkan diri dengan baik untuk menyongsong kelahiran dan juga dalam menyambut kedatangan saudara maut.

Kita berada dalam pekan suci. Pikiran kita tertuju pada sosok Yesus yang menderita, wafat dan bangkit dengan mulai. Kita mendengar dari Injil Yohanes hari ini bahwa enam hari sebelum Paskah, Tuhan Yesus datang ke Betania, kampung halaman Lazarus yang dibangkitkan-Nya, Martha dan Maria saudarinya. Enam hari kiranya menunjukkan ‘saatnya’ Yesus untuk menyelamatkan kita semua. Marta sebagai ibu rumah menyiapkan santapan di mana salah seorang yang ikut makan saat itu adalah Lazarus saudaranya yang dibangkitkan Yesus. Sedangkan Maria duduk dekat kaki Yesus, mengambil minyak Narwastu, mengolesnya pada kaki Yesus dan menyekannya dengan rambut kepalanya sendiri. Bau minyak narwastu itu harum semerbak di dalam ruangan dan semua orang merasakannya harumnya minya narwastu itu. Tentu saja situasi ini memancing orang-orang untuk berkomentar, terutama tentang minyak dan harum semerbaknya.

Tentu saja tindakan Maria ini mengundang opini publik saat itu. Ada yang merasa aneh karena sorang wanita mau duduk di dekat seorang pria, meminyaki kaki dan menyeka dengan rambutnya sendiri. Ini dapatlah menjadi sebuah skandal. Orang seperti Yudas Iskariot selaku bendahara komunitas Yesus turut menanyakan: “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” (Yoh 12:5). Tentu saja pernyataan ini merupakan sebuah tipu muslihat semata dari Yudas Iskariot. Perkataan Yudas Iskariot tidak mencerminkan diri dan perilaku hidupnya sebab dia seorang pencuri. Dia tidak jujur dalam hal keuangan komunitasnya. Ia sudah sering menyalahgunakan uang dan fasilitas komunitas Yesus. Ketika itu, Tuhan Yesus menunjukkan kebijaksanaan dengan menjawabi kritikan Yudas Iskariot dengan berkata: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.” (Yoh 12:7-8). Perbuatan baik yang dilakukan Maria adalah untuk mengingat hari penguburan Tuhan Yesus. Dampak dari peristiwa di rumah Lazarus ini adalah muncul kesadaran baru untuk bersyukur atas hidup baru setelah kita dijemput saudara maut. Kebangkitan Lazarus menjadi momen kebangkitan kita juga. Tuhan membangkitkan Lazarus dan nantinya Lazarus berada di bawah ancaman pembunuhan oleh pihak-pihak yang tidak sependapat dengan Yesus.

Hal yang menarik di sini adalah soal minyak narwastu yang mahal itu dipakai untuk mengenang hari penguburan Yesus. Semerbak wanginya minyak narwastu merupakan tanda untuk mengenang Penguburan Kristus dan tentu menyongsong kebangkitan-Nya. Dalam situasi seperti ini, muncul sosok Yudas Iskariot. Yudas Iskariot suka melakukan perhitungan tertentu dan ia takut menjadi miskin. Baginya percuma saja Maria melakukan semua itu bagi Yesus, karena minyaknya mahal dan bisa menjualnya untuk kaum miskin. Minyak Narwastu atau akar wangi (Chrysopogon zizanioides), mirip dengan Vetiveria zizanioides, Andropogon zizanioides, Vetiver yang dapat diperjualbelikan untuk mendukung kehidupan kaum papa. Sayang sekali ini bukan sebuah kemenangan melainkan kepahitan karena Yudas Iskariot adalah seorang pencuri yang selalu mengatasnamakan orang-orang muda.

Dalam bacaan pertama, kita diingatkan pada sosok nabi Yesaya yang dengan caranya sendiri mengingatkan kita untuk mengenang sosok hamba Yahwe yang menderita. Dikatakan dalam bacaan pertama: β€œIa tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan.” (Yes 42:2). Hamba Yahwe yang kita imani saat ini adalah Dia yang sangat menderita karena dosa dan salah kita. Dialah Tuhan Yesus Kristus yang tidak pernah padam hidupnya karena Dia adalah terang. Berkaitan dengan ini nabi Yesaya berkata: “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.” (Yes 42:3-4).

Apa yang hendak Tuhan katakan kepada kita?

Pertama, pikiran kita tetap diarahkan kepada Tuhan Yesus. Dialah yang merelakan diri, mengosongkan diri, merendahkan diri hingga wafat di salib untuk keselamatan kita semua. Semangat dan keberanian Yesus haruslah menjadi semangat kita saat ini juga. Kedua, Mari kita membuang sifat Yudas Iskariot yang berpura-pura empati dengan orang miskin, padahal nyatanya dia seorang pencuri yang tentu tidak akan berempati dengan orang lain. Kita seharusnya jujur dan hidup seadanya sehingga lebih bersolider lagi dengan sesama. Ketiga, kita mengenang dan mengingat saat-saat istimewa kehidupan dan kematian kita. Dengan mengingat hari penguburan, membuat kita selalu siap untuk menghadapi kematian. Mengenang kematian dan penguburan berarti mendoakan keselamatan abadi saudara-saudara yang sudah dipanggil Tuhan untuk mendapatkan kebahagiaan abadi. Ini adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang menunjukkan teladan hidup dan kebangkitan.

P. John Laba, SDB