Homili 4 Januari 2023 – Injil untuk Daily Fresh Juice (DFJ)

Hari Rabu, Masa Natal
1Yoh. 3:7-10
Mzm. 98:1,7-8,9
Yoh. 1:35-42

Lectio:

Sekali peristiwa Yohanes berdiri di tempat ia membaptis orang di sungai Yordan dan bersama dengan dua orang muridnya. Ketika melihat Yesus lewat, Yohanes berkata: “Lihatlah Anak domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya: “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” Demikianlah Sabda Tuhan. Terpujilah Kristus.

Renungan:

Sequela Christi dan konsekuensinya

Pertama-tama saya mengucapkan selamat memasuki tahun baru 2023. Semoga Tuhan yang Mahabaik menganugerahkan berkat yang berlimpah kepada kita semua dan Sabda Tuhan senantiasa menyegarkan kita semua. Saya teringat pada Gilbert Keith Chesterton. Beliau adalah seorang penulis dan juga dikenal sebagai seorang filsuf berkebangsaan Inggris Ia pernah berkata begini: “The object of a New Year is not that we should have a new year. It is that we should have a new soul” (Tujuan Tahun Baru bukanlah bahwa kita harus memiliki tahun baru. Ini adalah bahwa kita harus memiliki jiwa baru). Nah, memiliki jiwa yang baru adalah sebuah harapan bagi kita semua. Jiwa yang baru merupakan buah dari sebuah transformasi hidup yang lama atau hidup sebelumnya ke hidup yang baru di tahun baru ini.

Pada hari-hari setelah kita merayakan oktaf Natal, Sabda Tuhan mulai mengarahkan kita untuk memandang sosok Yesus yang sudah kita kenang kelahiran-Nya, dan kini mulai diperkenalkan oleh Yohanes Pembaptis kepada para murid-Nya dan dengan demikian Yesus mulai tampil di depan umum. Penginjil Yohanes mengisahkan bahwa Yohanes Pembaptis sedang berdiri bersama kedua muridnya, dalam hal ini ada Yohanes saudara Yakobus atau yang kita kenal dengan sebagai anak-anak Zebedeus dan Andreas saudara Simon Petrus. Yohanes pembaptis memperkenalkan Yesus kepada mereka berdua dengan berkata: “Lihatlah Anak Domba Allah” (bhs. Yunani: Ἀμνὸς τοῦ Θεοῦ, Amnos tou Theou; bhs. Latin: Agnus Dei). Anak domba Allah adalah sebuah gelar yang diberikan kepada Yesus Kristus yang berarti Tuhan Yesus adalah korban yang terutama dan sempurna untuk menebus dosa. Dia adalah kurban persembahan yang sempurna untuk menebus dosa manusia.

Apa yang kiranya masuk ke dalam pikiran kedua murid Yohanes Pembaptis ini setelah mengalami sendiri bahwa sang gurunya menunjuk kepada Yesus sambil berkata: “Lihatlah sebagai Anak Domba Allah? Kedua-duanya pasti memiliki ide yang jelas, yang sudah disampaikan oleh Yohanes kepada mereka tentang siapakah Yesus itu sebenarnya. Kita semua mengingat perkataan Yohanes ini: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.” (Mrk 1:7). Artinya kepada para muridnya, ia sudah menjelaskan jati diri Yesus bahkan dengan gelar ‘Anak Domba Allah’. Tuhan Yesus sendiri nantinya berkata kepada para murid-Nya: “Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorangpun yang lebih besar dari pada Yohanes, namun yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar dari padanya.” (Luk 7:28).

Yohanes dan Andreas mengalami sebuah transformasi hidup yang radikal. Mereka berani meninggalkan Yohanes sang guru mereka dan mengikuti Yesus yang barusan diperkenalkan kepada mereka, tinggal bersama-Nya dan siap untuk bersaksi bahwa Yesus adalah Mesias. Perhatikan gerakan kedua murid ini. Mereka meninggalkan Yohanes dan memulai Sequela Christi atau mengikuti jejak Kristus. Yesus menoleh dan bertanya kepada mereka: “Apakah yang kamu cari?” bukan “siapakah yang kamu cari”. Jawaban kedua murid: “Rabi, dimanakah Engkau tinggal?” Tuhan Yesus tidak mengatakan ‘di sana atau di sini’. Dia sendiri mengatakan: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Mat 8:20). Kedua murid ini mengikuti Yesus, melihat tempat di mana Ia tinggal dan sejak saat itu mereka tinggal bersama Yesus.

Mengikuti Yesus dan tinggal bersama-Nya tidaklah harus menjadi sebuah euphoria. Seorang murid sejati akan siap untuk mengalami konsekuensi sebagai pemuridan. Salah satunya adalah siap untuk menjadi misionaris dan bersaksi tentang Kristus. Andreas menunjukkan konsekuensi pemuridan ini dengan mencari saudaranya yaitu Simon sambil mengatakan sukacitanya karena ia sudah bertemu dan tinggal dengan Mesias. Ia membawa Simon kepada Yesus dan sejak saat itu Simon mengalami transformasi radikal di dalam dirinya. Ia mendapat nama baru dari Yesus yaitu Kefas atau Petrus. Kita lalu mengenal Simon sebagai Petrus.

Kisah Injil ini menggambarkan peziarahan dan pemuridan kita. Kita mengikuti Yesus karena ada orang tua, saudara, teman dan sahabat yang sudah lebih dahulu mengenal-Nya. Dari merekalah kita mendengar, mencari, menemukan, mengikuti, tinggal bersama dan bersaksi dalam kehidupan misioner kita. Kita patut berterima kasih kepada orang-orang yang membawa kita kepada Kristus dan mendoakan mereka. Dari merekalah kitab oleh bangga dalam sequela Christi.

Maka apa yang harus kita lakukan dalam hidup kita?

Pertama, teruslah mengikuti Yesus, mengasihi-Nya sampai tuntas. Kedua, bersaksilah tentang Kristus dalam pikiran, perkataan dan perbuatanmu. Ketiga, bawalah saudara-saudarimu kepada Kristus bukan kepada dirimu. Inilah tiga hal yang perlu kita lakukan sebagai pengikut Kristus.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, kami sedang mengikuti Engkau dari dekat dan berbangga sebagai pengikut-Mu. Semoga kami setia dalam tugas dan pelayanan kami hari ini, untuk membawa saudara dan saudari kami kepada-Mu. Bunda Maria doakanlah kami dan dekatkanlah kami dengan Yesus Puteramu. Amen.

P. John Laba, SDB