Homili 8 Mei 2026

Hari Jumad Pekan V Paskah
Kis 15:22-31
Mzm 57:8-9.10-12
Yoh 15:12-17

Kasih itu sebuah Pengurbanan

Santa Gertrudis Agung (1256-1302) adalah seorang biarawati Benediktin, mistikus dan memiliki devosi yang besar kepada Hati Kudus Yesus. Ia pernah berdoa kepada Tuhan Yesus begini:

“Ya Hati Kudus Yesus, Engkaulah sumber kehidupan kekal. Hati-Mu adalah tungku kasih yang menyala-nyala. Engkaulah tempat perlindunganku dan tempat suci bagiku. Ya Juruselamatku yang mulia dan penuh kasih, nyalakanlah hatiku dengan api yang membara yang mengobarkan Hati-Mu. Curahkanlah ke dalam jiwaku rahmat-rahmat yang mengalir dari Kasih-Mu. Biarlah hatiku bersatu dengan Hati-Mu. Biarlah kehendakku selaras dengan kehendak-Mu dalam segala hal. Semoga kehendak-Mu menjadi pedoman bagi segala keinginan dan perbuatanku”.

Doa santa ini selalu saya ulang dalam doa-doa pribadi saya. Doa ini membantu kita untuk memandang Yesus dengan Hati Kudus-Nya, Dia yang menunjukkan belas kasih-Nya kepada kita melalui pengorbanan-Nya di atas kayu Salib. Ketika seorang Algojo dengan begitu kejam menikam lambung Yesus maka keluarlah Darah dan Air sebagai lambang sakramen-sakramen di dalam Gereja. Inilah yang selalu kita kenang dalam peringatan Jumat Agung dan setiap Jumat Pertama. Kasih itu adalah sebuah pengorbanan.

Pada hari ini kita mendengar kisah lanjutan tentang Amanat Perpisahan dari Tuhan Yesus kepada para murid-Nya. Tema tentang kasih tetap ditekankan oleh Tuhan Yesus dalam amanat perpisahan-Nya ini. Kali ini Ia mengatakan bahwa kasih adalah sebuah perintah baru kepada para murid-Nya. Yesus berkata:

“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12).

Sebelumnya Tuhan Yesus sudah mengingatkan para murid bahwa Dialah Pokok Anggur yang benar dan Bapa di Surga adalah pengusahanya, para murid dan kita yang percaya kepada-Nya adalah ranting-rantoing-Nya. Perkataan Yesus ini menunjukkan kasih yang mendalah yang menjadi jati diri Allah sendiri, dan kasih Allah yang diam dan mempersatukan manusia yang percaya kepada-Nya. Kasih Yesus adalah pengorbanan karena Dia taat kepada kehendak Bapa, hingga menyerahkan diri secara total dalam Paskah-Nya.

Selanjutnya Tuhan Yesus berkata:

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13).

Perkataan Yesus ini semakin mempertegas hidup dan kasih-Nya kepada kita. Kasih Tuhan kepada manusia itu penuh dengan pengorbanan. Kasih Tuhan kepada manusia itu bukan dihargai dengan barang fana tetapi dengan darah Yesus yang mahal. Santo Petrus menulis:

“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1Ptr 1:18-19).

Kasih yang penuh pengorbanan ini semakin memanggil kita untuk menjadi dekat dan bersahabat dengan Yesus. Tentang hal ini, bukan kita yang mau bersahabat dengan Yesus. Tugan Yesuslah yang memilih kita untuk menjadi sahabat-sahabat-Nya. Persahabatan dengan Yesus semakin akrab kalau kita sungguh mematuhi perintah-perintah-Nya. Yesus tidak menyebut kita sebagai hamba karena Ia sudah memberikan perintah kasih-Nya yang sangat jelas kepada kita. Sekali lagi relasi kasih yang penuh pengoirbanan ini adalah pilihan Tuhan bagi kita. Yesus berkata:

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu” (Yoh 15:16).

Kasih yang penuh pengorbanan ini ditunjukkan oleh para murid Yesus di Yerusalam dan juga Paulus, Barnabas, Yudas alias Barsabas dan Silas. Jemaat dik Antiokhia mendapatkan peneguhan setelah Konsili di Yerusalem, di mana kasih yang penuh pengorbanan ini menjadi nyata:

“Sebab itu dengan bulat hati kami telah memutuskan untuk memilih dan mengutus beberapa orang kepada kamu bersama-sama dengan Barnabas dan Paulus yang kami kasihi, yaitu dua orang yang telah mempertaruhkan nyawanya karena nama Tuhan kita Yesus Kristus” (Kis 15:25-26).

Kasih kepada Tuhan dengan mempertaruhkan nyawa. Ini adalah kehendak dan pilihan Tuhan bagi manusia dalama semangat pemuridan.

Bagaimana dengan kita?

Tuhan sanagat mengasihi kita sehingga Ia mengorbankan diri-Nya bagi kita. Ini adalah kasih yang Agung yang Tuhan tunjukkan kepada kita. Mari kita belajar dari Yesus untuk melaksanakan kasih yang penuh pengorbanan untuk kebaikan sesame kita. Sesama yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel adalah wajahg Kristus yang kelihatan di dunia saat ini.

P. John Laba, SDB