Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XIXA
Yeh 12:1-12
Mzm 78: 56-59.61-62
Mat 18: 21-19:1
Seni mengampuni
Seni mengampuni, sebuah perkataan yang indah meskipun tidaklah mudah untuk dilakukan dalam hidup ini. Seni mengampuni ini dipopelerkan oleh Lewis B. Smeodes dalam bukunya berjudul ‘The art of forgiving’. Di dalam bukunya ini, Lewis mengatakan bahwa pengampunan sejati itu tidak membenarkan perilaku buruk atau melupakan masa lalu. Pengampunan sejati baginya adalah membebaskan diri pribadi dari beban emosional yaitu rasa dendam. Memang mengampuni itu memiliki seni tertentu karena merupakan sebuah proses untuk dapat melepaskan rasa dendam dan amarah kita terhapat seseorang yang telah melukai diri kita.
Ketika kita mengampuni maka tentu sangat bermanfaat bagi diri kita sendiri. Boleh dikatakan bahwa seni mengampuni itu memiliki keindahan karena merupakan hadiah yang kita berikan bagi pikiran kita sendiri, bukan kepada orang yang melukai diri kita. Artinya seni mengampuni itu bermanfaat bagi kita untuk mengampuni diri kita sendiri. Maka janganlah kita mengharapkan orang lain untuk sembuh terlebih dahulu. Ketika kita mengampuni bukan berati mudah bagi kita untuk melupakan sakit atau luka yang pernah kita alami. Kenangan itu tetap ada dan pahit! Namun demikian racun dan kepahitan ini dapat dikikis kalau kita dapat mengampuni. Seni mengampuni bukan berarti kita membenarkan kejahatan atau perbuatan salah dari orang lain. Perbuatan salah tetaplah salah namun perbuatan itu kehilangan kekuatannya untuk mengendalikan hati dan pikiran kita.
Pada hari ini Tuhan Yesus mengajar kita seni mengampuni. Penginjil Matius mengisahkan bawa Petrus pernah mendekati Yesus dan bertanya: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kalikah?” Simon Petrus memang pemimpin para rasul namun pemahamannya tentang pengampunan masih pada taraf manusiawi. Dia masih menggunakan perhitungan matematis ‘sampai tujuh kali’. Petrus menggunakan angka tujuh sebab angka ini sangat bermakna karena berhubungan dengan kemurahan hati, dan kesempurnaan. Reaksi Yesus sangat luar biasa karena bukan menyangkut angka matematis.
Tuhan Yesus memandang Petrus dan teman-temannya sambil berkata: “Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” Sekali lagi ini bukan soal angka matematis yakni 70 kali tujuh kali sama dengan empat ratus sembilan puluh. Tuhan Yesus mengedukasi Petrus bahwa pengampunan sejati itu tidak mengenal batasnya, atau pengampunan dari Tuhan itu berlimpah rua. Pengampunan tanpa batas itu Tuhan berikan kepada anda dan saya maka kita pun harus melakukan apa yang Tuhan lakukan kepada kita. Kita memohon supaya Tuhan mengampuni kita sebagai orang berdosa maka kita pun terpanggil untuk mengampuni sesama yang lain. Sangatlah tidak bijak kalau kita memohon pengampunan dari Tuhan namun kita sendiri tidak mampu mengampuni diri sendiri dan sesama. Yesus dengan tegas mengatakan: “Demikian pula Bapa-Ku yang di Surga akan berbuat terhadapmu, jika kalian todak mengampuni saudaramu dengan segenap hati”.
Saya mengingat tiga orang kudus yang berbicara tentang pengampunan. Pertama, Santo Agustinus pernah berkata: “Pengampunan adalah penghapusan dosa. Karena melalui pemgampunan inilah, apa yang telah hilang dan ditemukan, diselamatkan dari kemungkinan untuk hilang lagi.” Kedua, Santo Yohanes Maria Vianey berkata: “Orang-orang kudus tidak memiliki kebencian, tidak ada kepahitan; mereka itu memaafkan segalanya, dan berpikir bahwa mereka pantas untuk menerima hukuman yang jauh lebih berat atas pelanggaran mereka terhadap kasih Tuhan. Ketiga, santo Markusa, sang pertapa mengatakan bahwa mengampuni sebuah penghinaan dari sesama adalah tanda kasih sejati, bebas dari kemunafikan.
Apakah anda dan saya bisa mengampuni? Tentu saja kita semua bisa mengampuni dengan sepenuh hati. Tentu saja kita dapat mengampuni. Mengampuni itu merupakan sebuah pilihan hati dan dengan sadar memutuskan untuk melepaskan rasa marah, benci, dan dendam kepada sesama yang menyakiti dan melukai kita. Kita berani memaafkan bukan karena kita lemah, bukan karena kita bekajar untuk lupa atau melawan lupa. Kita mengampuni karena kasih. Seni mengampuni dapat terjadi karena ada kasih. Bagaimana dengan anda?
P. John Laba, SDB