Pesta St. Bartolomeus, Rasul
Why. 21:9b-14
Mzm. 145:10-11,12-13ab,17-18
Yoh. 1:45-51
Perjumpaan yang bermakna
Perjumpaan memiliki kata dasar jumpa, dalam hal ini proses atau kegiatan saling bertemu satun sama lain. Maka perjumpaan adalah hal atau proses berjumpa, bersua, atau bertemu dengan orang lain. Kata berjumpa juga sering dipakai untuk arti pertemuan, perkumpulan, atau momen saat dua pihak atau lebih saling berhadapan muka. Selanjutnya, perjumpaan bermakna adalah interaksi antarmanusia yang terjadi secara mendalam, tulus, dan memberikan dampak positif atau transformatif bagi pihak-pihak yang terlibat. Perjumpaan bermakna sungguh ada kalau ada kehadiran yang penuh, aktif, terbuka dan membawa dampak bagi setiap pribadi yang berjumpa.
Sabda Tuhan pada hari ini membantu kita untuk memahami dan mengingat kembali perjumpaan hidup yang bermakna. Ini adalah kisah murid-murid perdana dari Tuhan Yesus. Kedua tokoh yang mengalami perjumpaan bermakna adalah Filipus dan Natanael atau yang kita kenal dengan sapaan lain Bartholomeus. Nama Bartholomeus (bahasa Yunani: Βαρθολομαίος) berasal dari bahasa Aram bar-Tôlmay (תולמי-בר), berarti putra Tolmay. Di dalam perikop Injil Yohanes, nama Bartholomeus disebut sebagai Natanael. Ia berasal dari kota (Kafr Kanna) atau Kana di provinsi Galilea, Israel Utara. Nama Nathanael (Ibrani נתנאל, “pemberian Allah”) adalah pengikut atau rasul Yesus yang hanya disebutkan dalam Yohanes 1–21. Ia seringkali dianggap sebagai orang yang sama dengan Bartolomeus. Lalu bagaimana dengan Filipus? Nama Filipus berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philippos, yang berarti “pecinta kuda”, “penyayang kuda”, atau “sahabat kuda” (gabungan kata philos yang berarti cinta/sahabat dan hippos yang berarti kuda)
Kedua sosok yang melakukan perjumpaan bermakna inidiawali dengan obrolan-obrolan tentang Yesus dari Nazaret. Filipus memulai dialognya bersama Nathanael dengan berkata: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” (Yoh 1:45). Perhatikanlah bahwa Filipus menggunakan kata ‘kami’ artinya Filipus tidak sendirian ketika menemukan Yesus. Di samping itu, pengenalan Filipus akan Yesus juga masih pada level manusiawi: ‘Dia’ yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Natanael berasal dari Kana yang di Galilea. Letaknya sudah lebih dekat ke arah Galilea sebagai pusat penjagaan dan merasa bahwa kampung halamannya lebih maju. Maka ia berkata kepada Filipus: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (You 1:46). Filipus adalah pribadi yang matang maka sambil berjalan ia berkata kepada Natanael: “Mari dan lihatlah!” (You 1:47). Ini adalah perjumpaan bermakna dalam awal perjumpaan dan pengenalan Yesus secara mansiawi.
Selanjutnya perjumpaan bermakna lebih dalam lagi. Ada transisi dari perjumpaan pada level manusiawi menjadi perjumpaan ilahi dalam kasih. Filipus menunaikan tugasnya dengan mengantar Nathanael kepada Yesus. Kini perjumpaan bermakna ilahi terjadi antara Tuhan Yesus dan Nathanael yang bergerak menuju kepada Yesus. Tuhan Yesus berkata kepada Nathanael: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (You 1:47). Tuhan Yesus mengatakan demikian kepada Nathanael karena sikap skeptis, meremehkan, merasa diri lebih superior dibandingkan sesama bahkan dengan Tuhan Yesus sendiri: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (You 1:46).
Perjumpaan bermakna ini semakin hidup hingga sebuah transformasi yang radikal. Nathanael merasa heran karena Yesus orang Nazaret yang dianggapnya dengan sebelah ata bisa mengetahui banyak hal tentang dirinya: ”Bagaimana Engkau mengenal aku?” Tuhan Yesus memandangnya dengan penuh kasih dan menjawabnya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” (You 1:48). Duduk di bawah pohon ara itu biasa dilakukan oleh orang-orang tertentu yang mencari kebijaksanaan. Kini Nathanal berjumpa dengan Yesus, sang Kebjijaksanaan sejati. Maka dengan jujur ia berubah dan mengakui imannya kepada Yesus: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” (You 1:49). Tuhan Yesus membimbing Nathanael hingga menemukan Yesus yang penuh kemuliaan, sungguh Allah. Inilah perkataan indah dalam perjumpaan bermakna ini: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.” (Yoh 1:50-51).
Peziarahan iman Nathnael dari perjumpaan yang sederhana, penuh keraguan akhirnya mencapai puncaknya dengan pengenalan Yesus dalam kemuliaan Anak Allah. Tentu saja perjalanan atau peziarahan iman Nathanael adalah peziarahan iman kita juga. Ada seribu satu keraguan, ketidaktahuan kita. Namun Tuhanlah yang membuka pikiran kita untuk menemukan-Nya sebagai Kebenaran dan Kebijaksanaan sejati. Kita pernah sombong dan skeptis namun kerendahan hati diberikan Tuhan untuk menjadi semakin dekat dan bersatu dengan-Nya. Santo Bartolomeus, doakanlah kami. Amen.
P. John Laba, SDB