Hari Minggu Biasa XXII/A
Yer. 20:7-9
Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9
Rm. 12:1-2
Mat. 16:21-27
Berpikirlah seperti Tuhan Berpikir
Adalah Pater Zezinho, SCJ. Imam Dehonian asal Brasilia ini memiliki nama lengkap José Fernandes de Oliveira. Ia sangat dikenal sebagai seorang penggubah lagu dengan lagu-lagu berbahasa Portugis Brasilia yang indah. Saya mengingat sebuah lagunya berjudul Amar Como Jesus Amou (Mencintai seperti Yesus telah mencintai). Lirik lagunya sangat menarik dan saya terjemahkan sebagiannya ini: “Mencintai seperti Yesus mencintai. Bermimpi seperti Yesus bermimpi. Berpikir seperti Yesus berpikir. Hidup seperti Yesus hidup. Merasakan apa yang Yesus rasakan. Tersenyum seperti Yesus tersenyum. Dan saat hari berakhir, Aku tahu aku akan tidur dengan jauh lebih bahagia. Merasakan apa yang Yesus rasakan. Tersenyum seperti Yesus tersenyum. Dan saat hari berakhir, Aku tahu aku akan tidur dengan jauh lebih bahagia” Lagu ini bisa didengar di link ini: https://youtu.be/cUFI9iJBrNc?si=xnZeODUfu4mv5VMK
Satu kalimat yang menginspirasi saya untuk memberikan homili pada hari Minggu Biasa ke-XXII/A ini adalah pada kalimat ini: ‘Pensar como Jesus Pensou’ (Berpikir seperti Yesus berpikir). Anda dan saya adalah pengikut Kristus dan kita semua selalu mengakui dengan bangga sebagai Pengikut Kristus. Namun demikian, menjadi pertanyaan bagi kita adalah apakah kita sungguh-sungguh menjadi pribadi yang mengikuti Kristus dari dekat atau mengikuti Kristus lebih dekat lagi? Kita mengikuti Kristus lebih dekat lagi berarti kita mencintai seperti Yesus mencintai, bermimpi seperti Yesus bermimpi, berpikir seperti Yesus berpikir, hidup seperti Yesus hidup. Merasakan seperti apa yang Yesus sendiri rasakan dan tersenyum seperti Yesus tersenyum. Semua ini bagus sekali namun masih sangat jauh dari jangkauan hidup kita. Selama bertahun-tahun kita berusaha untuk menjadi serupa dengan Yesus namun tetap menjadi kesulitan tersendiri bagi kita.
Mari kita memandang sosok para rasul Yesus. Penginjil Matius mengisahkan bahwa sekali peristiwa Yesus menyatakan kepada para murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak para pemimpin Yahudi, seperti para tua-tua, imam-imam kepala dan para ahli Taurat. Tidak hanya berhenti pada penderitaan, tetapi juga pembunuhan yang sangat ekstrim, namun pada hari yang ketiga Ia akan bangkit dengan jaya. Petrus adalah murid inti, termasuk Yakobus dan Yohanes. Ia memiliki bayangan tentang Yesus sebagai Mesias yang mulia bukan Merias yang menderita. Sebab itu Petrus dengan pikiran manusiawinya berkata kepada Yesus: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” (Mat 16:22). Reaksi Tuhan Yesus kepada Petrus adalah bahwa ternyata Petrus masih tetap berpikir degan pikiraan manusiawinya bukan dengan pikiran ilahi atau pikiran Tuhan sendiri. Ia pun ditegur dengan keras oleh Yesus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mat 16: 23).
Perkataan Tuhan Yesus kepada Petrus memang sangat keras. Ketika berpikir dengan pikiran manusiawi maka ungkapan ini sangat tepat: “Enyalah iblis, batu sandungan bagi Yesus”. Rencana dan kehendak Tuhan memang beda dengan rencana dan kehendak manusia. Tuhan Yesus memikirkan tentang mengorbankan diri sampai wafat di kayu Salib, manusia hanya membayangkan kemuliaan tanpa penderitaan atau pengorbanan. Maka tepat sekali perkataan Yesus kepada Petrus: “Engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Petrus yang setiap hari ada bersama Yesus ternyata masih berpikir dengan pikiran manusiawi bukan dengan pikiran Tuhan sendiri. Itulah Petrus, itulah anda dan saya saat ini.
Apa yang seharusnya kita lakukan sebagai pengikut Kristus? Tentu saja pertama-tama adalah kita harus berpikir dengan pikiran Tuhan bukan dengan pikiran manusiawi kita. Pikiran manusiawi kita lebih banyak dikuasai iblis! Hala lain adalah kita berusaha untuk menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus dari dekat. Kita mengasihi Yesus dengan menggunakan kasih Tuhan sendiri itu penuh dengan pengorbanan, penderitaan dan sakit. Tidak ada Paskah Raya kalau kita tidak melewati hari Jumat Agung. Tidak ada kebahagiaan sejati kalau tidak mengalami penderitaan. Tuhan Yesus sendiri akan membalas setiap orang setimpal dengan perbuatan yang dilakukan sesuai dengan apa yang Ia dengar. Santo Paulus menulis: “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Rom 10:17).
Nabi Yeremia memiliki pengalaman unik. Ia pernah mengungkapkan rasa sakit dan frustrasi yang mendalam. Ia merasa tertipu dan dikalahkan oleh Tuhan karena menyampaikan kebenaran Tuhan hanya mendatangkan ejekan dan masalah setiap hari. Namun, ketika ia mencoba untuk tetap diam, pesan Tuhan membakar di dalam dirinya seperti api, dan ia tidak dapat berhenti. (Yere 20:7-9). Nabi Yeremia memang jujur dalam doanya. Ia berbicara kepada Tuhan dengan kejujuran sepenuhnya. Dia merasa kecewa karena melayani Tuhan malah mendatangkan penderitaan, bukan kemudahan. Sementara Tuhan sendiri dapat menangani keluhan, keraguan, dan beban berat kita sebagai ciptaan-Nya. Hal terpenting adalah kita selalu berpikir dengan pikiran Tuhan bukan pikiran kita. Nabi Yeremia menulis: “Tetapi apabila aku berpikir: “Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya”, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup” (Yer 20:9).
Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (Rom 12:1-2) menekankan tentang seruan bagi orang beriman untuk mengabdikan seluruh hidupnya kepada Allah sebagai respons alami terhadap belas kasihan-Nya. Alih-alih meniru kebiasaan dan nilai-nilai jahat dari budaya di sekitar mereka, orang Kristen seharusnya mengalami transformasi dari dalam ke luar melalui pikiran yang diperbarui yang membantu mereka memahami dan melakukan kehendak baik Allah.
Sabda Tuhan pada hari ini sungguh menguatkan kita supaya berpikir seperti Ia sendiri berpikir. Tuhan memikirkan manusia untuk mengasihi dan menyelamatkan. Kita pun berpikir untuk menjadi semakin serupa dengan Tuhan sendiri. Maka apakah kita sungguh-sungguh pengikut Kristus? Mengikuti Kristus berarti menjadi semakin serupa dengan Tuhan sendiri dalam segala hal. Kita pasti bisa.
P. John Laba, SDB