Pesta Pemuliaan Salib Suci
Bil. 21:4-9 atau Flp. 2:6-11
Mzm. 78:1-2.34-35,36-37,38
Yoh. 3:13-17
Engkau Menguduskan dunia dengan Salib Suci-Mu
Pada pagi hari ini saya mengingat kembali di Novisiat Salesian Don Bosco, Tigaraksa. Di sana, dekat tangga untuk naik ke kamar tidur terdapat sebuah tulisan di dinding berbunyi: “In Cruce Salus” yang berarti pada salib ada keselamatan. Maka setiap kali memandang dinding dan tulisan ini, selalu membantu untuk memandang Salib. Tentu bukan Salib yang terbuat dari kayu itu saja, tetapi pada Dia yang rela disalibkan karena Dia mengasihi kita tiada batasnya. Santo Andreas dari Kreta (650-712 M) pernah berkata begini: “Kemuliaan Kristus adalah salib-Nya dan pengagungan-Nya di atasnya, sebagaimana Ia dengan jelas berkata: ‘Apabila Aku ditinggikan, Aku akan menarik semua orang kepada-Ku.’” Dan setiap kali kita mengikuti jalan salib selalu ada kalimat doa ini: “Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu, sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia”.
Salib Kristus menyelamatkan kita, salib Kristus menguduskan dunia. Saya mengingat ada sebuah kutipan perkataan yang inspiratif: “Simbol dari Cinta yang paling agung bukanlah “Hati”, melainkan SALIB. Mengapa? Karena hati bisa saja berhenti berdetak, tetapi sang pria di atas kayu salib itu tidak akan pernah berhenti MENCINTAI”. Dialah Yesus Tuhan kita yang tidak pernah berhenti mencintai kita.
Santo Fransiskus dari Asisi, pernah berdoa di depan Salib, Kapel San Damiano begini: “Allah Yang Mahatinggi dan Mulia, terangilah kegelapan hatiku. Berikanlah kepadaku iman yang lurus, harapan yang teguh, dan kasih yang sempurna. Penuhilah aku dengan pengertian dan pengetahuan agar aku dapat menaati perintah-Mu. Amin”. Doa lain dari santo Fransiskus dari Asisi: “Kami memuja Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di sini, dan di semua gereja-Mu di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, karena melalui Salib-Mu yang kudus, Engkau telah menebus dunia”.
Pada hari ini kita merayakan pesta Salib suci. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa setiap tanggal 14 September kita merayakan pesta Salib Suci. Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 13 September 335, Gereja Makam Suci Yerusalem diresmikan. Keesokan harinya, salib yang ditemukan oleh Ratu Helena pada tanggal 14 September 320, dihormati dalam sebuah upacara yang sangat khusuk. Selanjutnya pada tahun 614, Raja Persia, Chosroes II, mengobarkan perang melawan bangsa Romawi. Setelah menaklukkan Yerusalem, ia lalu menyita banyak harta karun, di antaranya adalah Salib Yesus. Kaisar Bizantium, Heraclius, lalu memulai negosiasi perdamaian, tetapi usaha ini ditolak. Ia kemudian mengobarkan perang dan menang di dekat Niniwe, serta meminta pengembalian Salib tersebut, yang kemudian dikembalikan ke Yerusalem. Pada saat ini, yang dimuliakan bukanlah kekejaman Salib, melainkan Kasih yang Allah nyatakan kepada umat manusia dengan menerima kematian di atas Salib. Paus Fransiskus dengan terinspirasi oleh Santo Paulus, pernah berkata: “Dia, yang walaupun dalam rupa Allah, Ia mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba. Inilah kemuliaan Salib Yesus!”
Dalam bacaan Injil hari ini, kita mendengar Tuhan Yesus berkata kepada Nikodemus: ‘Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga kecuali Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa mengangkat ular di padang gurun, demikian pula Anak Manusia harus diangkat, agar setiap orang yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup yang kekal.’ Sebab Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal, agar setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal. Sebab Allah tidak mengutus Anak-Nya ke dunia untuk menghakimi dunia, melainkan agar dunia diselamatkan melalui-Nya (Yoh 3:13-17; Bil. 21:4-9).
Paus Benediktus XVI pernah menulis: “Menjadi seorang Kristen, bukanlah hasil dari pilihan etis atau gagasan yang luhur, melainkan pertemuan dengan suatu peristiwa.” Perikop Injil yang kita baca bersama dalam liturgi kita pada Pesta Salib Suci hari ini, menunjukkan bahwa Allah ingin menjalin hubungan kasih dengan setiap orang. Hal ini ditawarkan melalui Putra-Nya, Yesus, yang ditinggikan di atas Salib. Sebab itu dengan mengarahkan pandangan kita kepada Allah mengungkapkan kebenaran yang sangat penting yakni kita diundang untuk kembali menjalin hubungan dengan-Nya. Kita perlu berhenti merenung pada diri sendiri, memelihara rasa bersalah yang sia-sia, dan melupakan bahwa “apa pun yang dihukum oleh hati kita, Allah lebih besar daripada hati kita” (1 Yoh 3:20). Marilah kita boleh mengangkat mata kita ke arah bintang-bintang (ingatlah Abraham dan janji keturunan yang banyak), sambil tahu bagaimana menyerahkan setiap kekhawatiran kepada Allah.
Mengangkat pandangan kita seharusnya tidak memicu rasa takut, melainkan rasa syukur, karena pengangkatan itu adalah ukuran kasih yang dengannya Allah mengasihi anak-anak-Nya, dalam Putra-Nya. Oleh karena itu, Rahmat Allah-lah yang, sebagaimana terjadi pada Nikodemus, menerangi kegelapan hidup kita dan memungkinkan kita untuk melanjutkan perjalanan kita. Kita tidak dapat bersikap netral terhadap Salib Yesus. Kita berada di pihak-Nya atau melawan-Nya. Pilihan harus dibuat sebelum setiap tindakan, sebab tindakan seorang Kristen tidak lain adalah kesaksian bahwa “Allah begitu mengasihi kita sehingga Ia mengaruniakan Putra-Nya yang tunggal, Yesus”.
Mari kita memandan Salib kehidupan kita. Salib adalah pengorbanan kasih Allah yang paling agung, yang menyelamatkan umat manusia dari dosa dan kematian. Kita juga memiliki salib yang agung ketika kita mengurbankan diri untuk kebaikan sesama yang lain. Dalam kehidupan sebagai orang Katolik, salib pribadi kita itu berarti cobaan, penderitaan, dan pengorbanan sehari-hari yang spesifik yang harus kita terima dan pikul untuk mengikuti Yesus Kristus. Ini bukan sekadar soal menjalani hidup yang sulit atau menghadapi nasib buruk. Ini adalah jalan rohani untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan membantu menyelamatkan jiwa-jiwa. Salib menyelamatkan diri kita dan menyelamatkan sesama.
P. John Laba, SDB