Homili 19 Oktober 2026

Hari Senin, Pekan Biasa ke-XXIXA
Ef 2:1-10
Mzm 100: 2.3.4.5
Luk 12:13-21

Seorang Misionaris yang berbahagia dalam kemisikinan

Saya sangat terkesan dengan seorang misionaris yang sudah empat puluh tahun berkarya di tanah misi di Afrika. Ketika ia merayakan pancawindunya sebagai misionaris, banyak umat berkomentar begini: “Misionaris ini agak laen. Kalau misionaris yang lain itu menjadi orang kaya baru (okb) karena mereka membangun rumah mereka bertingkat seperti hotel untuk keluarga mereka. Misionaris yang satu ini tetap tinggal di rumah gedek (bambu)!” Wah ini benar-benar sebuah kritikan kepada para misionaris yang lupa menghayati kaul kemiskinan yang mereka ikrarkan. Misionaris senior ini tidak malu memiliki rumah gedek, tetapi pertumbuhan iman keluarga besarnya luas biasa.

Saya tertarik dengan Bait Pengantar Injil yang dikutip dari Injil Matius: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga” (Mat 5:3). Orang yang miskin dalam semangat itu merasakan kebahagiaan yang luar biasa dalam hidupnya. Dia tentu berani melepaskan, meninggalkan segalanya untuk melayani Tuhan dan sesama. Dia akan merasa bebas untuk mengutamakan orang yang dilayani bukan dirinya sendiri. Dia tidak akan dilabel sebagai misionaris orang kaya baru (okb). Ketika dia menjadi misikin di hadapan Allah maka surga adalah janji Tuhan baginya. Ada kebahagiaan, sukacita, kedamaian.

St. Theresia dari Kalkuta adalah seorang misionaris yang luar biasa. Ia berkata: “Orang-orang miskin kita adalah orang-orang luar biasa, orang-orang yang sangat patut dicintai. Mereka tidak membutuhkan belas kasihan dan simpati kita. Yang mereka butuhkan adalah cinta yang penuh pengertian dan rasa hormat dari kita.” Perkataan yang super…!

Seorang misionaris sejati itu perlu belajar untuk menjadi serupa dengan Yesus sendiri. Menjadi Misionaris entah Awam atau Religius itu bukan untuk memupuk kekayaan bagi dirinya, tetapi semua yang ada merupakan milik orang miskin yang dilayaninya. Sang misionaris awam dan religius iyu bukan untuk mencari popularitas, menjadi viral atau mendapat pujian fana. Kebahagiaan sejati seorang misionaris adalah kemuliaan Tuhan bukan kemuliaan pribadinya. Let us change!

P. John Laba, SDB