Hari Minggu Biasa XXXA
Kel. 22:21-27
Mzm. 18:2-3a,3bc-4,47,51ab
1Tes. 1:5c-10
Mat. 22:34-40.
Berakar pada kasih
Kita memasuki Hari Minggu Biasa ke-XXXA. Hari Minggu ini sangat istimewa karena kita semua diajak untuk hidup dan berakar pada kasih. Ada tiga orang kudus besar yang membuka wawasan dan pintu iman kita untuk hidup dan berakar pada kasih yang tidak lain adalah Tuhan sendiri. Pertama, Santo Agustinus. Ia berkata: “Kasihilah, dan lakukanlah apa pun yang anda kehendaki. Baik ketika anda berdiam diri, berdiamlah karena kasih; baik ketika anda berseru, berserulah karena kasih… Biarlah akar kasih ada di dalam dirimu, karena dari akar ini tak ada yang tumbuh selain kebaikan.” Tentu saja yang Santo Agustinus maksudkan adalah bahwa jika kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan sesama kita, keinginan kita secara alami akan selaras dengan kehendak Tuhan sendiri. Kedua, Santo Thomas Aquinas. Ia menjelaskan tentang Hukum kasih. Ia mengatakan bahwa Sepuluh Perintah Allah hanyalah perluasan terperinci dari dua hukum utama ini. Mengasihi Allah memenuhi tiga perintah pertama (menghormati Allah), sedangkan mengasihi sesamamu memenuhi tujuh perintah sisanya (menghormati keluarga, kehidupan, dan kebenaran). Ketiga, Santa Teresa dari Ávila. Ia mencatat bahwa karena kita tidak dapat sepenuhnya mengetahui seberapa sempurna kita mengasihi Tuhan, kasih kita kepada sesama adalah indikator utama kesehatan rohani kita. Mengasihi sesama adalah bukti nyata dari mengasihi Tuhan sendiri.
Lalu apa pesan Sabda Tuhan pada hari Minggu ini?
Bacaan pertama dari Kitab Keluaran (Kel 22:21-27), kita semua diingatkan kembali pada Tuhan yang memerintahkan bangsa Israel supaya tidak menganiaya atau menindas orang asing karena mereka sendiri pernah menjadi pendatang dan pengungsi di tanah Mesir. Pengalaman masa lalu memang sangat berat dan menyakitkan di Mesir sebagai negeri asing bagi mereka, namun karena mereka dikasihi Tuhan Allah maka mereka pun dapat keluar dari negeri asing itu. Bangsa Israel juga diingatkan supaya tidak menganiaya orang-orang kecil. Tindakan untuk menganiaya anggota masyarakat yang paling tak berdaya (para janda dan anak yatim) secara langsung, membuat Allah mendengarkan tangisan mereka, sehingga memicu keadilan dan perlindungan-Nya yang aktif bagi mereka.
Tuhan Allah juga melarang bangsa Israel supaya jangan mengeksploitasi sesam. Bahwa dengan memanfaatkan orang miskin melalui pinjaman yang merugikan, memungut bunga, atau menyita jubah (pakaian luar/selimut) satu-satunya milik orang miskin dalam semalam dikutuk sebagai pelanggaran terhadap belas kasihan ilahi. Yang paling penting adalah bahwa kasih itu haruslah ditegakkan. Tuhan menghendaki supaya kita mengasihi-Nya dan tentu saha mengasihi sesama manusia.
Apa yang kita dengar dalam bacaan pertama ini semakin jelas dalam bacaan Injil terutama supaya kita hidup dan berakar pada kasih. Penginjil Matius (Matius 22:34–40) mengarahkan kita supaya berpusat pada Perintah Terbesar dari Tuhan dalam hal ini mengasihi Allah sepenuhnya dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi (Kel 6:5), serta mengasihi sesama seperti diri sendiri (Im 19:18). Sebagaimana kita ketahui bahwa Dalam tradisi agama Yahudi (Yudaisme), terdapat 613 perintah (dikenal sebagai Taryag Mitzvot) yang bersumber dari kitab Taurat. Dari 613 perintah ini, ada 248 perintah positif (mitzvot aseh/perintah untuk melakukan sesuatu, sering dikaitkan dengan jumlah organ atau tulang dalam tubuh manusia) dan ada 365 perintah negatif (mitzvot lo ta’aseh/larangan untuk tidak melakukan sesuatu, yang dikaitkan dengan jumlah hari dalam satu tahun matahari). Dari jumlah 613 perintah ini maka wajar saja orang-orang Farisi yang mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam maka mereka bertanya kepada Yesus tentang perintah yang palin utama.
Tuhan Yesus lalu mengingatkan mereka tentang Kasih yang memiliki dua sisi. Dalam hal ini, Tuhan Yesus menyatakan bahwa seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi bergantung pada dua pilar yang tak terpisahkan. Kita tidak dapat benar-benar mengaku mengasihi Allah sementara menutup hati terhadap orang-orang di sekitar kita. Sebab itu perlu komitmen penuh untuk mengasihi Allah menuntut keterlibatan seluruh diri kita (pikiran, pilihan, kasih sayang, dan tindakan). Semua ini mencerminkan Kasih Karunia kepada sesama. Maka mengasihi sesama “seperti diri sendiri” berarti menyadari bahwa orang lain, termasuk orang yang sulit atau orang asing, sama-sama layak menerima kesabaran, martabat, dan perhatian. Semua ini sudah diungkapkan di dalam bacaan pertama dan bacaan Injil kembali menyadarkan kita supaya kita sungguh-sungguh hidup dan berakar pada kasih.
Apa yang harus kita lakukan?
Santo Paulus dalam bacaan kedua (1Tes 5-10) menegaskan bahwa Injil yang diberitakan Paulus bukanlah sekadar kata-kata manusia yang meyakinkan, melainkan disampaikan “dengan kuasa, dalam Roh Kudus, dan dengan keyakinan yang mendalam”, sehingga menghasilkan perubahan batin yang sejati. Kita perlu meneladani dan bersukacita dalam penderitaan. Jemaat di Tesalonika menerima pesan tersebut dengan “sukacita dalam Roh Kudus” bahkan di tengah penderitaan yang berat, menjadikan mereka teladan hidup bagi orang-orang beriman di seluruh Makedonia dan Akhaya. Selain itu, perlu perubahan radikal dari berbagai berhala. Pertobatan mereka sempurna dan nyata. Mereka “berbalik kepada Allah dari berhala-berhala untuk melayani Allah yang hidup dan benar”, melepaskan diri dari ikatan-ikatan pagan lokal dan kesetiaan kepada kekaisaran (seperti Kaisar). Metanoia adalah ungkapan kasih yang total kepada Allah dan manusia. Hal yang lain adalah tentang harapan untuk hidup akan Kedatangan Kristus Kembali. Hidup jemaat diarahkan kembali untuk menantikan dengan penuh kerinduan Anak Allah, Yesus, “yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, Yesus yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang”. Kita mengasihi Allah berarti kita tuinggalkan berhala-berhala kehidupan kita.
Kita bersama-sama memohon agar Tuhan memampukan kita untuk semakin mengasihi-Nya dan mengasihi sesama yang lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Kita berusaha untuk hidup dan berakar pada Kristus.
P. John Laba, SDB