Homili 22 Oktober 2026

Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XXIXA
Ef 3:14-21
Mzm 33: 1-2.4-5. 11-12. 18-19
Luk 12:49-53

Seorang Misionaris itu Pendoa Sejati

Pada hari ini kita mengenang kembali St. Yohanes Paulus II. Orang kudus modern ini memandang para misionaris dengan penuh kekaguman yang mendalam dan menyebut karya misioner sebagai tugas yang esensial dan mendasar bagi seluruh Gereja. Pemikirannya tentang kehidupan misioner Gereja tertuang dalam Ensiklik Redemptoris Missio (1990). Baginya, kehidupan misioner adalah pangggilan universal Gereja yakni semua orang yang dibaptis.

St. Yohanes Paulus II mengharapkan supaya seorang misionaris itu adalah seorang pendoa sejati. Ia pernah berkata: “Misionaris harus menjadi seorang ‘kontemplatif dalam aksi’ (contemplative in action). Orang yang tidak memelihara kedekatan mendalam dengan Kristus melalui doa tidak akan bisa mewartakan Kristus secara meyakinkan.” Seorang misionaris adalah seorang pendoa sejati. Dia akrab dengan Kristus dan dengan demikian bisa mewartakan-Nya kepada segala bangsa dan segala makhuk.

Harapan St. Yohanes Paulus II supaya para misionaris menjadi pendoa sejati ini sebenarnya sudah diteladani oleh Santo Paulus, sang Misionaris Agung. Dalam bacaan liturgi yang kita baca dan dengar pada hari ini menggambarkan jati diri Paulus sebagai Pendoa (Ef 3:14-21). Doa Rasul Paulus dalam perikop ini adalah doa syafaat agar jemaat dikuatkan secara batin oleh Roh Kudus, berakar dalam kasih, memahami luasnya kasih Kristus, dipenuhi kepenuhan Allah, serta memuliakan Allah yang sanggup melakukan perkara luar biasa. Paulus menulis sebanyak dua kali dalam perikop ini: “Aku berdoa supaya..” (Ef 3:16.18).

Lalu apa saja yang Paulus doakan sebagai seorang misionaris?

Pertama, Ia memohon kekuatan batin (Ef. 3: 16-17). Paulus berdoa agar Allah menguatkan dan meneguhkan umat-Nya lewat Roh Kudus di dalam batin, sehingga Kristus diam di dalam hati mereka melalui iman dan mereka berakar serta berdasar dalam kasih. Kedua, Pemahaman akan Kasih Kristus (Ef 3: 18-19a). Paulus memohon supaya bersama semua orang kudus, jemaat di Efesus mampu memahami betapa lebarnya, panjangnya, tingginya, dan dalamnya kasih Kristus, serta mengenal kasih itu meskipun melampaui akal manusia.

Kepenuhan Allah (Ayat 19b): Ia berdoa agar jemaat dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Ketiga, Sebuah doksologi/Pujian (Ef 3: 20-21). Paulus menutup doanya dengan pengagungan kepada Allah, yang sanggup melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan menurut kuasa-Nya, bagi-Nya kemuliaan dalam jemaat dan dalam Kristus Yesus sampai selama-lamanya.

Pada hari ini kita semua disadarkan untuk menjadi misionaris yang tekun berdoa atau menjadi pendoa sejati. Misionaris tanda doa bukanlah seorang misionaris sejati. Bagaimana anda mewartakan Yesus kalau anda sendiri tidak mengenal atau bersahabat dengan-Nya?

P. John Laba, SDB