Homili 23 Oktober 2026

Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XXIX
Ef. 4:1-6
Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6
Luk 12:54-59

Misionaris yang selalu bersyukur

Adalah St. Josemaria Escriva. Orang Kudus ini pernah berkata: “Biasakanlah mengarahkan hati kepada Tuhan, dalam ungkapan syukur, berkali-kali dalam sehari. Karena Dia memberi kamu ini dan itu. Karena kamu telah dihina. Karena kamu tidak memiliki apa yang kamu butuhkan atau justru karena kamu memilikinya. Karena Dia menjadikan Bunda-Nya begitu cantik, Bunda-Nya yang juga merupakan Bunda-mu. Karena Dia menciptakan matahari dan bulan serta hewan ini dan tumbuhan itu. Karena Dia menjadikan pria itu fasih berbicara sedangkan kamu Dia biarkan gagap … Bersyukurlah kepada-Nya atas segalanya, karena segalanya itu baik.”

Pada hari ini saya tertarik dengan Bait Pengantar Injil dalam Liturgi kita, ketika Tuhan Yesus bersyukur dengan berkata: “Aku bersyukur kepada-Mul, Bapa Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada orang kecil” (Mat 11:25). Tuhan Yesus bersyukur kepada Bapa di Surga, pertama-tama dengan melihat Diri-Nya sendiri yang berinkarnasi menjadi manusia. Santo Paulus menulis: “Yesus Kristus telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:7-8). Tuhan Yesus juga bersyukur sambil memandang para murid-Nya yang tidak lain adalah orang-orang kecil, para n elayan sederhana yang dijadikan sebagai Penjala Manusia. Dan tentu saja orang-orang kecil yang datang kepada-Nya adalah kaum Anawim (עֲנָוִים,) untuk mendengar dan merasakan keselamatan yang datang dari Allah. Semua ini menjadi syukur dari Tuhan Yesus sendiri.

Tuhan Yesus sebagai Anak Allah bersyukur kepada Bapa di Surga. Ini sungguh luar biasa. Menjadi pertanyaan bagi kita adalah, mengapa seorang misionaris perlu bersyukur? Ya, seorang misionaris perlu bersyukur karena rasa syukur merupakan fondasi rohani yang menjaga panggilannya agar tetap berakar pada kasih Allah, alih-alih pada kekuatan atau ego manusiawi. Tanpa ada rasa syukur maka sang misionaris hanya mengandalkan dirinya sendiri bukan mengandalkan Tuhan.

Pada hari ini, keluarga besar KBKK perlu mengikuti keteladanan Yesus yang berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi…” Ini adalah kata-kata mujarab untuk selalu mengarahkan pandangan dan hati kepada Bapa Surgawi, sumber dan inspirasi kehidupan misioner. Tetap bersyukur dan bersemangat dalam bermisi.

P. John Laba, SDB