Homili 24 Oktober 2026

Hari Sabtu, Pekan Biasa ke-XXIXA

Ef 4:7-16

Mzm 122: 1-2.3-4a. 4b-5

Luk 13:1-4

Seorang Misionaris yang selalu Sabar

Weekend atau orang Portugis katakan Fim de semana. Hari yang selalu dinantikan juga oleh para misionaris. Renungan bagi para misionaris hari ini adalah tentang kesabaran. Apakah selama setengah hari ini di dim de semana ini anda sabar atau sempat tidak sabar? Yah, kesabaran itu memang mahal dan tidak dijual atau dibeli di pasar atau di mall apapun. Lalu, apa itu kesabaran? Kesabaran adalah sifat bawaan dan keterampilan emosional yang tidak dapat dibeli, diserahkan kepada pihak lain, atau diatasi dengan cara pintas dengan menggunakan kekayaan. Orang-orang itu sering kali kesulitan untuk bersabar akibat tingkat stres yang tinggi, lingkungan modern yang serba cepat, serta keinginan sehari-hari untuk mendapatkan imbalan instan.

Saya mengingat kembali Santo Fransiskus de Sales (1567–1622). Sebelum menjadi uskup, ia memulai pelayanannya sebagai seorang imam misionaris yang ditugaskan untuk mengkristenkan wilayah Chablais yang bermusuhan dan didominasi oleh penganut Calvinisme. Ia menghadapi penolakan yang keras, bahaya fisik, dan pintu-pintu yang tertutup rapat. Alih-alih bereaksi dengan kemarahan, ia memilih senjata berupa dialog yang rendah hati, doa, dan kesabaran yang lembut. Ia juga dikenal sebagai “Santo yang Berbudi Luhur”, dan ia juga terkenal karena menulis, “Bersabarlah terhadap segala hal, tetapi pertama-tama terhadap dirimu sendiri.” Metodologi kesabarannya pada akhirnya berhasil memenangkan hati seluruh wilayah tersebut.

Pada hari ini Tuhan Yesus mengingatkan para misionaris untuk memiliki kesabaran. Mental coca cola atau mental instan selalu menjerumuskan kita untuk menjadi tidak sabar. Dikisahkan dalam Injil hari ini, khusus (Luk 13:6-9). Dikisahkan bahwa ada seorang  yang mempunyai kebun anggur yang luas  dan di antara pohon anggur itu terdapat pohon ara yang tidak berbuah. Orang itu datang untuk mencari buah dari pohon itu namun tidak ada buahnya. Ia lalu memerintahkan kepada pengurus kebun anggur itu untuk menebang pohon yang tidak berbuah ini karena sudah tiga tahun tak berbuah. Pengurus kebun anggur itu menjawab: “Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (Luk 13:8-9). Kutipan ini menunjukkan betapa kesabaran itu indah dan mahal harganya. Saya merasa yakin bahwa pada tahun berikutnya, ketika Tuan kebun itu mengatakan hal yang sama maka pengurus kebun itu juga akan mengatakan hal yang sana. 

Seorang misionaris sejati harus banyak sabar dalam bermisi. Ada peribahasa yang mengatakan: “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya” arti bahwa setiap daerah, negeri, atau masyarakat mempunyai adat istiadat, kebiasaan, dan aturan yang berbeda-beda. Sebab itu para misionaris KBKK harus bersabar ya. Semakin anda bersabar, usiamu bertambah panjang, hidup misioner semakin berbuah dalam kasih dan kesabaran.

P. John Laba, SDB