Hari Jumat. Pekan Biasa ke-XXXA
Flp. 1:1-11
Mzm. 111:1-2.3-4.5-6
Luk. 14:1-6.
Misionaris sebagai Rasul Rasa Syukur
Adalah Santa Josephine Bakhita. Orang kudus ini dikenal sebagai “Rasul Syukur,”. Ia sempat diculik dari Sudan dan diperbudak secara kejam saat masih anak-anak. Setelah melarikan diri, ia menjadi suster misionaris Canossian di Italia. Ia menghabiskan sisa hidupnya dengan terus-menerus mengucapkan rasa syukur, dan pernah mengatakan bahwa jika ia bertemu dengan para penyiksanya dulu, ia akan berlutut dan mencium tangan mereka, karena tanpa peristiwa-peristiwa menyakitkan itu, ia tidak akan pernah menemukan Kristus atau panggilan misionarisnya. Dalam situasi apapun, perlu selalu bersyukur dan boleh menjadi rasul bersyukur masa kini.
Pada hari ini saya tertarik dengan perkataan santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi. Ia menulis: “Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini” (Flp 1:5). Pesan inti dari perkataan “karena persekutuanmu dalam Injil sejak hari pertama hingga sekarang” berpusat pada koinonia atau persekutuan yang mendalam, tanggung jawab bersama yang aktif, dan rahmat bersama yang menghubungkan umat beriman dengan misi pewartaan Gereja.
Bagaimanna realitas Koinonia (Persekutuan) di dalam misi Gereja? Dalam teks asli berbahasa Yunani, Paulus menggunakan kata ‘koinonia’ (diterjemahkan “kerja sama” atau “persekutuan”). Tentu saja ini bukan sekadar persahabatan sosial yang hangat. Hal ini mewakili realitas teologis Tubuh Mistis Kristus sendiri. Karena mereka berbagi baptisan, sakramen, dan iman yang sama, jemaat di Filipi secara struktural terikat pada karya kerasulan Paulus. Kasih timbal balik mereka, rasa syukur mereka mencerminkan kehidupan komunal batiniah dari Ketuhanan Tritunggal.
Pesan misioner lain yang tidak kalah pentingnya adalah tanggung jawab bersama yang aktif dan dukungan yang kuat. Tekanannya adalah bahwa “kemitraan” ini terwujud secara konkret melalui sedekah yang nyata dan penuh kasih. Jemaat di tanah misi nFilipi sering mengirimkan bantuan keuangan untuk mendukung Paulus selama perjalanan misionarisnya dan masa tahanan rumahnya di Roma. Berkaitan dengan hidup misioner, Evangelisasi bukanlah tanggung jawab tunggal para uskup dan imam. Setiap anggota awam dipanggil untuk secara aktif memajukan Injil melalui pemberian yang strategis, pelayanan fisik, dan doa syafaat.
Paulus juga menulis bahwa jemaat di Filipi adalah “rekan sekerja dalam anugerah, baik dalam penahanan saya maupun dalam pembelaan… Injil” (Flp 1:7). Paulus menekankan bahwa dengan mempersembahkan penderitaan, doa, dan sumber daya keuangan, komunitas awam berbagi secara setara dalam pahala rohani dan anugerah yang dihasilkan oleh karya apostolik Paulus di garis depan. Misionaris haruslah menjadi rasul rasa syukur.
P. John Laba, SDB