Hari Minggu Biasa ke-XIX/A
1Raj 19:9a.11-13a
Mzm 85: 9ab-19.11-12.13-14
Rom 9:1-5
Mat 14:22-33
Tuhan Hadir dalam ketenangan
Saya mengingat sebuah pengalaman sederhann. Ketika itu saya masih berada di ruang tunggu Air Port untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Komunitasku. Di samping saya duduklah seorang pemuda dan rekan seperjalanannya yang sudah kelihatan memasuki usia senja. Mereka sedang bertukar pikiran tentang suasana ibadah bersama di Gereja Paroki mereka. Sang pemuda itu mengatakan dengan jujur bahwa dia sudah malas ke Gerejamnya untuk beribadah karena lagu-lagu atau musik di Gerejanya itu tidak hidup, terasa kuno, lamban dan tak membuatnya bersemangat serta bertumbuh secara rohani. Baginya, musik di Gerejanya harus menghidupkan semangat anak muda seusianya bukan sesuai dengan semangat orang tua. Rekannya seperjalanannya itu memandangnya dengan sabar dan mengatakan: “Saya sudah menjadi orang katolik sampai rambut saya memutih. Saya tetap bangga sebagai orang Katolik karena saya berjumpa dengan Tuhan dalam keheningan dan kekhusukan, bukan dalam keramaian seperti di diskotek”. Saya mendengar dan menyimak dialog mereka sambil tersenyum sendiri. Sekarang ini memang banyak orang suka membanding-bandingkan suasana ramai tidaknya musik di Gereja dalam perayaan Ekaristi.
Saya merasa yakin bahwa dialog di ruag tunggu ini mengatakan tentang wajah peribadatan di Gereja kita saat ini. Masing-masing pribadi bisa memiliki perasaan seperti orang muda dan ada juga yang sepert ungkapan perasaan orang tua ini. Sekarang kembali kepada masing-masing orang, apakah mau mengikuti misa bersama seperti di diskotek atau merasakah kehadiran Tuhan dalam keheninan dan kekhusukan. Gereja Katolik memiliki musik liturgi yang selama bertahun-tahun menumbuhkan iman Gereja dan iman itu tidak pernah mati.
Pada hari Minggu ini kita berjumpa dengan nabi Elia di Gunung Horeb dan para Rasul Yesus di dalam perahu yang diterpa angin sakal di danau Galilea. Masing-masig mereka memberikan kepada kita edukasi yang sangat positif bagaimana kita dapat bertemu dengan Tuhan. Kitab pertama Raja-Raja mengisahkan pengalaman rohani nabi Elia yang sangat indah. Ketika dia sudah tiba di Gunung Horeb dan menghuni sebuah gua, di dalam kesendiriannya, Tuhan mengedukasinya tentang perjumpaan dengan Tuhan sendiri.Tuhan mewahyukan diri-Nya dan meminta Elia untuk keluar dari dalam gua yang gelap dan merasakan kehadiran Tuhan. Ada tanda-tanda yang Tuhan tunjukkan kepada nabi Elia. Pertama, angin yang besar dan kuat hingga membelah gunung-gunung, memecahkan bukit namun Tuhan tidak berada di dalam angin itu. Kedua, gempa bumi yang dashyat dan tentu menakutkan, namnn Tuhan tidak ada di sana. Ketiga ada api yang membara namun Tuhan juga tidak ada di sana. Keempat, ada angin sepoi-sepoi basa, sejuk dan tenang. Elia merasakannya dan segera menyelubungi wajahnya dengan jubahnya. Dia keluar dan merasakan kehadiran Tuhan di depan pintu gua di mana ia menginap malam itu. Dari gelapnya gua, dia keluar dan merasakan ketenangan bersama Tuhan.
Pengalaman nabi Elia juga mirip dengan pengalaman para rasul Yesus. Mereka sedang melakukan perjalanan ke seberang danau Gallea sesuai dengan pesan Tuhan Yesus. Para rasul itu sedang bangga, menceritakan kembali mukjizat penggandaan lima roti dan dua ikan yang dilakukan Yesus untuk memberi makan kepada lima ribu orang laki-laki. Para rasul tenggelam dalam kebanggaan karena melayani banyak orang dan lupa bahwa semua itu adalah karya Tuhan sendiri. Dalam euforia pelayanan mereka itu, angin sakal mengombang-ambingkan perahu yang mereka tumpangi. Perasaan takut sungguh menguasai mereka.
Tuhan Yesus sendiri bukan berbangga dengan karya-Nya tetapi menggunakan waktu untuk bersyukur, berdialog kembali dengann Bapa di Surga semalaman. Para rasul tidak hanya bereforia tetapi mengalami angin sakal yang menakutkan. Semua bisa terjadi karena mereka berjalan sendirian, tanpa merasakan kehadiran Yesus di tenga-tengah mereka. Perasaan mereka semakin takut ketika mereka melihat Yesus berjalan di atas air dan peristiwa Petrus yang hampir tenggelam di hadapan Yesus sendiri. Dalam situas ini Tuhan Yesus yang disangka hantu itu mengingatkan mereka: “Tenanglah, Aku ini, jangan takut!” Petrus dan Yesus masuk ke dalam perahu dan angi menjadi redah.
Kedua kisah ini sangat bermakna. Nabi Elia sempat salah sangka bahwa Tuhan hadir dalam fenomena alam yang menakutkan. Ternyata Tuhan hadir dalam keheninan Elia, angin sepoi basa yang menyejukan dan menyegarkannya. Para rasul menjadi tenang ketika merasakan kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka. Maka, hidup dan tinggal bersama Yesus selalu memberikan ketenangan dan kedamaian. Ada fenomena alam seperti angin kencang, angun sakal, gempa bumi dan api yang membara, namun Tuhan tidak hadir dalam situasi yang chaos seperti itu. Tuhan hadir dalam ketenangan seperti angin sepoi basa, dalam perahu yang menenangkan keberasamaan mereka sebagai sebuah komunitas.
Pengalaman hidup yang dihiasi angin keras, angin sakal, gempa bumi dan api yang membara selalu ada dalam hidup kita manakala tak ada kehadiran Tuhan. Itu adalah suasana bathin yang kering karena jauh dari Tuhan. Tuhan justru hadir dalam hati yang tenang dan menyejukkan seperti angin sepoi basa. Tuhan hadir dalam kebersamaan, komunitas, keluarga yang penuh dengan kedamaian. Demikian suasana bathin yang tenatng, penuh dengan kedamaian menunjukkan hadirnya Tuhan.
Tentu saja tantangan besar adalah iman kita. Petrus mewakili kita semua yang saat ini juga mengalami hidup sepertinya. Orang yang berpikir tentang keramaian Gereja seperti diskotek itu tidak lebih dari pengalaman Petrus yang mudah tenggelam dan memohon pertolongan Tuhan: “Tuhan, tolonglah aku!” Mereka memiliki iman yang masih labil. Benar perkataan orang tua dalam dialog mereka di atas: “Saya tetap bangga sebagai orang Katolik karena saya berjumpa dengan Tuhan dalam keheningan”. Kita mestinya memiliki integritas dalam beriman seperti Paulus yang berani berkata: “Aku rela terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku”. Sebuah kesaksian iman Paulus dalam Roh karena ia sangat mencintai Kristus.
Lalu bagaimana dengan kita?
Sabda Tuhan pada hari ini sangat kaya maknanya. Kita terkadang mencari Tuhan, keluar masuk tempat ibadah atau bahkan berganti-ganti agama karena berpikir akan bertumbuh ‘lebih’ baik lagi dalam iman. Tentu saja ini harapan yang baik, namun tanpa iman kepada Tuhan maka kita hanya beriman seperti kutu loncat dan tidak akan menemukan Tuhan. Tuhan ada dalam hidup kita yang nyata.
P. John Laba, SDB