Homili 3 Agustus 2026

Hari Senin, Pekan Biasa ke-XVIII
Yer. 28:1-17
Mzm. 119:29.43.79.80.95.102
Mat. 14:22-36

Merawat iman di hadapan ketakutan

Kita semua pasti selalu berhadapan dengan aneka ketakutan. Tidak seorang pun luput dari perasaan takut, bahkan seakan ketakutan itu selalu mencekam hidup setiap pribadi. Anak-anak muda dan remaja memiliki ketakutan dalam menghadapi masa depan, entah dalam hal studi maupun dalam hal pekerjaan. Para orang tua memiliki ketakutan sendiri dalam menghadapi masa senja dan masa depan anak-anak mereka. Di samping situasi sosial, politik dan ekonomi yang seakan tidak menentu. Ketakutan-ketakutan seperti ini memanggil kita untuk mawas diri dalam menghadapi ketakutan bukan hanya tenggelam dalam perasaan takut.

Lalu apakah dalam beriman juga muncul ketakutan-ketakutan tertentu? Tentu saja jawaban kita adalah pasti ada perasaan takut. Kita adalah warga minoritas di tengah mayoritas maka perasaan takut itu pasti tetap ada. Misalnya, berkaitan dengan kebebasan dalam beribadah, dalam membangun tempat ibadah (Gereja). Namun hal yang lebih menakutkan dalam relasinya dengan iman Katolik pada masa kini adalah adanya gejolak arus sekularisme, krisis moral dan keluarga, serta lunturnyu keaktifan kaum muda dalam hidup menggereja. Ada banyak paroki yang lebih banyak dihuni oleh para lansia.

Ketakutan iman yang berkaitan dengan gejolak sekularisme dan materialisme. Kita tidak dapat menegasi bahwa nilai-nilai duniawi semakin menjauhkan kehidupan pribadi setiap hari dan Tuhan sang Pencipta. Ada juga semacam krisis dalam penerimaan Sakramen dan Ajaran Gereja. Kita tidak dapat menegasi bahwa ada fenomena memudarnya penghargaan pada kekudusan perkawinan serta kebiasaan untuk mengaku dosa. Pernikahan gabya sebagai ritual saja. Pengakuan dosa hanya NaPas saja, atau bahkan perasaan berdosa perlahan hilang. Hal lain adalah adanya ancaman terhadap identitas umat. Tantangan ini lebih berhubungan dengan Orang Muda Katolik (OMK) yang rentan terhadap pengaruh budaya instan dan media sosial. Ini adalah fenomena-fenomena ketakutan dalam beriman di tengah dunia masa kini.

Apa yang Tuhan ingin sampaikan kepada kita pada hari ini?

Penginjil Matius hari ini menceritakan kisah Yesus yang sangat menarik perhatian kita. Tuhan Yesus membuat mukjizat dengan menggandakan lima roti dan dua ekor ikan. Ia berhasil mengenyangkan 5000 laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. Tuhan Yesus tidak menjadi bangga dengan mukjizat ini. Ia menggunakan kesempatan untuk bersyukur kepada Bapa secara pribadi dan intim. Ia naik ke atas bukit dan berdoa semalam-malaman. Pengalaman Yesus ini luar biasa dan sangat berbeda dengan kita. Kita cepat berpuas diri dan bercerita ke mana-mana tentang kebaikan yang kita lakukan dan lupa untuk bersyukur kepada Tuhan. Yesus mengajar kita untuk bersyukur dan bersatu dengan Bapa dalam doa.

Setelah bersatu dengan Bapa dalam doa, Yesus membuat tanda lain yang menguji iman para rasul di tengan krisis dan ketakutan. Ia mengikuti para Rasul-Nya dengan berjalan di atas air. Para murid ketakutan karena mereka menyangka bahwa Dia adalah hantu, apalagi peristiwa Yesus berjalan di atas air pada jam 3 dini hari. Suasana memang menakutkan karena kaum Yahudi juga masih percaya akan kehadiran roh jahat di dalam air. Pada saat itulah Tuhan Yesus berkata: ’Tenanglah. Aku ini, jangan takut’. Ada ketakutab di mana-mana namun ketika Tuhan Yesus hadir maka semuanya menjadi tenang, teduh.

Sosok Petrus yang berarti wadas, tenyata memiliki rasa takut yang besar di hadapan Yesus. Ia ingin berjumpa dengan Yesus yang berjalan di atas air, namun sempat tenggelam karena belum cukup imannya kepada Yesus. Tuhan Yesus tetap hadir untuk memberi kekuatan di dalam ketakutan manusiawi Petrus. Tuhan Yesus memiliki otoritas ilahi atas alam semesta, pentingnya menjaga iman di tengah rasa takut, dan kuasa-Nya untuk menyembuhkan semua orang yang datang kepada-Nya. Kisah Yesus berjalan di atas air membantu kita untuk merasakan perjalanan singkat dari Petrus di atas danau, dan penyembuhan orang sakit di Genesaret. Tuhan Yesus berjalan di atas air dan menenangkan ketakutan. Kehadiran Ilahi Yesus berjalan di atas laut yang dilanda badai untuk menjangkau murid-murid-Nya yang sedang berjuang, menunjukkan kendali-Nya atas hukum-hukum fisik. Sangatlah dibutuhkan ketenangan di hadapan ketakutan manusawi kita.

Nabi Yeremia dalam bacaan pertama, menyampaikan pesan yang kuat mengenai sifat nubuat yang benar dan yang palsu, kedaulatan Allah, peran seorang nabi, serta pentingnya kesabaran dan ketekunan. Nabi Yeremia menantang orang-orang beriman untuk mencari kebenaran, percaya pada rencana Allah, dan tetap teguh dalam iman mereka, bahkan ketika dihadapkan pada keadaan yang sulit dan menakutkan serta jaminan-jaminan yang menggoda namun palsu. Tentu saja perikop kita ini sebagai pengingat abadi akan pentingnya membedakan kehendak Allah dan tetap setia pada Sabda-Nya. Kita tetap teguh beriman di hadapan ketakutan.

Bagaimana dengan anda? Masih berimankah ketika mengalami kesulitan dan ketakutan? Jangan takut, masih ada Tuhan! Rawatlah iman di hadapan ketakutan karena masih ada Tuhan.

P. John Laba, SDB