Homili Hari Minggu Biasa ke-XVIIIA – 2 Agustus 2026

Hari Minggu Biasa XVIIIA
Yes. 55:1-3
Mzm. 145:8-9,15-16,17-18
Rm. 8:35,37-39
Mat. 14:13-21

Mensyukuri Berkat Tuhan

Saya sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah stasi terpencil. Dalam perjalanan yang selalu saya lewati, saya memperhatikan seorang nenek yang tinggal sendirian di rumahnya yang sudah tidak terawat. Saya pun singgah membawa sebungkus Khong Guan Red Assorted untuknya. Dia menerimanya, tersenyum, membuat tanda salib dan mencium tangan saya. Saya bertanya kepadanya alasan mengapa ia melakukan semuanya itu kepada saya. Dia mengatakan: “Pater, saya merasa bersyukur”. Jawabannya singkat, penuh makna dan inspiratif.

Kita semua sudah mengenal kata bersyukur. Bersyukur merupakan sebuah tindakan mengakui, menerima, dan berterima kasih atas segala kebaikan, kebaikan yang telah diberikan, yang diwujudkan melalui hati, lisan, dan perbuatan. Bersyukur membuat hidup kita terasa lebih tenang dan bahagia. Singkatnya bahwa hidup kita adalah sebuah syukur dan kita perlu mensyukuri semua berkat Tuhan. Pengalaman bersama sang nenek di atas, meskipun hanya menerima sebungkus Khong Guan Red Assorted namun ia mensyukurinya. Ia tidak mengatakan kepadaku, “Kog Pater hanye memberikan ini kepadaku” seperti kebanyakan orang. Kita semua mengetahui lagu berjudul ‘Jangan Menyerah’ yang dipopulerkan oleh grup musik D’Masiv: “Syukuri apa yang ada, Hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik” hanya saja masih sangat sulit karena kita mudah menyerah dan sulit bersyukur. Mental kita terlalu instan, menggampangkan segala hal dan maunya sesuatu itu menyukakan hati. Kalau tidak memyukakan hati maka kita menyerah dan menjauh dari Tuhan.

Pada hari ini Tuhan menyapa kita untuk memiliki hati yang penuh syukur. Nabi Yesaya dalam bacaan pertama memanggil umat Tuhan pada zamannya untuk datang kepada Tuhan dengan hati penuh syukur. Mereka adalah orang-orang yang membutuhkan Tuhan untuk memenuhi segala kebutuhan hidup mereka. Hal terpenting adalah mendengar perkataan Tuhan melalui nabi Yesaya. Perikop singkat dari Kitab nabi Yesaya 55:1-3 ini merupakan sebuah undangan ilahi yang sifatnya cuma-cuma dari Tuhan bagi semua orang yang haus dan mencari secara rohani untuk datang, menerima kehidupan sejati, dan menemukan kepuasan sepenuhnya tanpa biaya. Tentu saja undangan ini haruslah ditanggapi dengan iman di hadapan Tuhan. Sayang sekali karena banyak kali kita tidak mampu untuk menanggapi undangan Tuhan dan dengan demikian kita juga jauh dari hati yang penuh syukur.

Kita kembali kepada ajakan Tuhan melalui nubuat nabi Yesaya di dalam bacaan pertama: “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!” (Yes Yes 55:1). ‘Semua orang’ adalah ajakan untuk kita semua. Tuhan menyiapkan segala sesuatu dan memberinya kepada kita gratis, tanpa bayar serupiah pun. Pengalaman dalam dunia perjanjian lama, kembali terulan dalam dunia perjanjiann baru.

Penginjil Matius mengisahkan bahwa Tuhan Yesus sendiri mendengar kematian Yohanes Pembaptis secara tragis. Ini menakutkan secara manusiawi. Tuhan Yesus mendengar dan mengalaminya juga. Ia lalu menyingkiri dengan perahu untuk mengasingkan diri di tempat yang sunyi. Orang banyak tertap mencari dan mengikuti Dia untuk mendengar perkataan-Nya dan mengakami tanda-tanda ajaib berupah penyembuhan-penyembuhan. Hati Yesus selalu tergerak oleh belas kasihan karena orang-orang seperti itu seperti domba tanpa gembala. Tuhan Yesus tidak hanya menyembuhkan banyak orang, ia juga memberi mereka makan sampai kenyang bahkan masih ada sisa dua belas bakul penuh. Kisahnya menarik perhatian kita: Dengan hanya memiliki lima roti dan dua ekor ikan, Tuhan Yesus mengucap syukur dan mengajar para murid-Nya untuk berbagi dengan sesama. Jumlah sedikit yang mereka miliki dapat membantu mereka untuk memiliki wawasan baru untuk selalu berbagi dengan sukacita. Tuhan Yesus berekaristi bersama para murid. Ini adalah sebuah rasa syukur bersama Tuhan sendiri.

Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (8:35-39), menekankan bahwa tidak ada satu pun dari seluruh ciptaan ini, baik kesulitan, kehidupan, kematian, maupun kuasa rohani apa pun, yang dapat memisahkan kita sebagai umat beriman dari kasih Allah yang kekal dan tak pernah gagal di dalam Kristus Yesus. Perkataan santo Paulus ini juga mengundang kita untuk memiliki hati penuh syukur. Setiap orang pasti mengalami hal-hal yang digambarkan oleh santo Paulus sebagai pengalaman manusiawi kita setiap hari: “Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang” (Rom 8:35). Kalau kita hidup bersama Kristus maka tidak ada sesuatu apapun, kuasa mana pun yang memisahkan kita dengan Allah dalam Kristus Putera-Nya. Maka hati pebuh syukur itu penting dan harus.

Pada hari ini, Tuhan sungguh baik bagi kita. Melalui Sabda-Nya, Ia mengajar kita untuk merasakan kelimpahan berkat dan kasih-Nya yang penuh belas kasihan, dan panggilan kita untuk berbagi apa yang kita miliki dengan sesama. Kita sungguh terpanggil untuk selalu bersyukur dan bertumbuh menjadi manusia ekaristis. Selamat berhari Minggu.

P. John Laba, SDB