Homili 25 Agustus 2026

Hari Selasa, Pekan Biasa ke XXI
2Tes 2:1-3a.13b-17
Mzm 96:10.11-12a.12b-13
Mat 23:23-26

Tetaplah Teguh Bersama Tuhan

Kita semua sedang berada di dalam situasi yang tidak mudah. Secara sosial, politik dan ekonomi sebenarnya sangatlah menakutkan. Rasanya seperti ada bom waktu yang hanya menunggu kesempatan untuk meletus atau meledak dan menghancurkan siapa saja di negeri ini. Di daerah yang sedang dilanda bencana seperti gempa bumi, banjir dan kebakaran hutan ternyata ada lahan untuk ketidakjujuran dalam memberi bantuan. Jumlah barang yang tertulis di dalam berita acara penerima bantuan sangat berbeda dengan kenyataan yang mesti diterima oleh penerima bantuan. Ada dilema bagi pribadi yang jujur untuk tetap menjadi dirinya sendiri atau menjadi pribadi yang tidak jujur demi kedudukan sebagai birokrat. Di daerah yang mengalami kebakaran hutan, kualitas udara yang rendah bagi kesehatan, namun tak ada keseriusan untuk menanggulanginya. Titik api malah semakin bertambah. Rakyat kecil lalu hanya bisa berpasrah dan menanti mukjizat. Tuntutan kaum kecil tentang keadilan sosial yang tetap masih dalam taraf perjuangan. Seribu satu situasi dunia kita ini membuat orang bisa masuk dalam krisis yang mematikan karakter hingga mematikan fisik.

Santo Paulus pernah memiliki pengalaman serupa dalam perjalanan misionernya. Ketika berada di Tesalonika, ia berjumpa dengan orang-orang yang sedang menantikan kedatangan Tuhan Yesus Kristus dan hasrat untuk berkumpul dengan Kristus sendiri. Berhadapan dengan fenomena ini maka Santo Paulus meminta kepada jemaat di Tesalonika supaya jangan lekas bingung dan gelisah ketika mereka mendengar ‘kabar anging’ tentang tibanya hari Tuhan yang seolah-olah berasal dari perkataan Paulus sendiri. Santo Paulus juga mengharapkan supaya jemaat jangan sampai disesatkan oleh orang lain dengan cara-cara yang licik.

Mengapa Paulus mengharapkan supaya jemaat di Tesalonika jangan mudah dipengaruhi oleh berita dan pribadi orang lain? Saturday alasan yang tepat adalah Tuhan Allah itu sungguh baik. Allah adalah kasih dan Dialah yang memilih untuk menyelamatkan dalam Roh dan menguduskan jemaat di dalam Kebenaran yang menjadi dasar iman. Tuhan sendiri telah memilih setiap pribadi berdasarkan kehendak-Nya melalui Injil yang diwartakan para rasul. Santo Paulus lalu berpesan: “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis” (2Tes 2:15).

Pengalaman jemaat di Tesalonika adalah pengalaman kita di dunia masa kini. Ada saja tantangan-tantangan iman yang kita hadapi, kadang-kadang justru dari orang-orang dekat. Tuhan bisa saja menggunakan orang-orang dekat untuk memurnikan iman kita. Kita lalu memilih untuk tetap teguh kepada kehendak Tuhan atau kita tenggelam dalam kehendak kita sendiri. Ketika kita tetap teguh kepada Tuhan maka tentu saja Tuhan juga akan tetap menghibur dan memberi harapan kepada kita. Allah adalah kasih! Dia juga yang akan datang untuk menghakimi dunia dengan adil. Hanya pada Tuhan ada keadilan sejati. Sebab itu bertahanlah dan tetaplah teguh di dalam Tuhan.

Di dalam bacaan Injil hari ini (Matius 23:23-26), kita semua mendapatkan peringatan keras dari Tuhan Yesus terhadap kemunafikan dalam beriman. Yesus mengkritik para pemimpin agama Yahudi karena terobsesi dengan aturan-aturan kecil dan lahiriah, sementara mengabaikan semangat sejati hukum Taurat yakni keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan.

Dari peringatan keras Tuhan Yesus ini, kita belajar hal-hal tertentu sebagai berikut: Pertama, Kita perlu memiliki skala prioritas. Kita memprioritaskan hal yang paling penting. Tuhan Yesus mengatakan bahwa dengan berfokus pada aturan-aturan sepele (seperti memberikan persepuluhan dari tanaman herbal kecil di kebun) tidak ada gunanya jika kita mengabaikan kebaikan hati, keadilan, dan kasih sayang dasar manusia terhadap sesama. Kedua, kisah tentang nyamuk dan unta. Melalui gambaran kata-kata yang jelas, Yesus mengejek absurditas menyaring serangga kecil dari minuman untuk tetap suci sementara menelan unta raksasa yang najis. Ketiga, keadaan dalam dan luar. Tuhan Yesus menggunakan metafora cangkir, Ia menjelaskan bahwa membersihkan hanya bagian luarnya saja akan meninggalkan bagian dalamnya kotor karena keserakahan. Kesucian sejati dimulai dari dalam.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Kita perlu bertransformasi mulai dari hal-hal yang kecil dan lama kelamaan menuju ke hal yang lebih besar supaya kita menjadi lebih baik lagi, semakin fokus pada Tuhan dan mengasihi dengan kasih Tuhan sendiri.

P. John Laba, SDB