Homili 2 September 2026 – Injil untuk Daily Fresh Juice (DFJ)

Hari Rabu, Pekan Biasa ke-XXII
1Kor 3:1-9
Mzm 33:12-13.14-15.20-21
Luk 4:38-44

Lectio:

“Setelah meninggalkan rumah ibadat di Kapernaum, Yesus pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: “Engkau adalah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias. Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea”. Demikianlah Sabda Tuhan. Terpujilah Kristus.

Renungan:

Saya Siap Memberitakan Injil

Kita sedang berada di hari kedua Bulan September. Bulan September dikenal di dalam Gereja sebagai bulan untuk menghormati Bunda Maria yang berdukacita. Fokus perhatian kita adalah pada kesedihan mendalam dan iman yang teguh dari Santa Perawan Maria. Di samping itu, bagi kita sebagai Gereja Katolik Indonesia, kita memulai Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Tema Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2026 adalah “Yesus Guru yang Penuh Kuasa” dengan subtema khususnya: “Wajah Yesus dalam Injil Matius”. Tentu saja kita semua terpanggil untuk mendengar, membaca, merenungkan dan menjadi pelaku Sabda Tuhan untuk mewujudkan Yesus sebagai Guru yang penuh kuasa. Sabda Tuhan haruslah terus diwartakan dalam setiap saat kehidupan kita. Santo Paulus pernah menulis kepada Timotius begini: “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2Tim 4:2).

Saya masih mengingat sharing pengalaman dari seorang misionaris sejati. Ia sudah berkarya di tanah misi yang sulit di Afrika selama lebih kurang empat puluh tahun. Pada saat mensyukuri panca windu hidupnya sebagai misionaris, ia memilih tema perayaan syukurnya: “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor 9:16). Ia memaknai pengalaman dan pesan Paulus ini dengan sepenuh hati. Itu sebabnya, ketika mengalami kesulitan dalam bermisi, ia selalu berkata: “Saya siap untuk memberitakan Injil” sebab “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil”. Perkataan ini sekaligus menjadi motivasi bagi kita semua, bnukan hanya beliau untuk mencintai sabda Tuhan. Santo Hironimus berkata: “Ignoratio Scripturarum, ignoratio Christi est”, artinya “Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus.”

Pada hari ini Tuhan Yesus menyapa kita melalui santo Lukas dalam Injil tulisannya. Tuhan Yesus sangat viral ketika mengajar di dalam Sinagoga di Kapernaum yang membuat begitu banyak orang menjadi takjub kepadanya. Ketakjuban tidak hanya berhenti pada pengajaran Yesus, tetapi juga pada penyembuhan-penyembuhan yang dilakukan Yesus. Misalnya, ibu mertua Simon Petrus yang sedang sakit demam keras. Tuhan Yesus dipanggil untuk menolongnya. Tuhan Yesus berdiri di sisi wanita itu dan menghardik demamnya. Demam hilang dan ibu mertua itu melayani Yesus seabagi tanda syukurnya.

Karena hari Sabat maka Tuhan Yesus tidak melakukan pekerjaan yang berat. Baru setelah matahari terbenam, orang membawa begitu banyak orang sakit kepada Yesus dan Tuhan Yesus pun meletakkan tangan atas mereka dan menyembuhkan mereka. Orang-orang yang kerasukan setan juga berteriak-teriak dan mengakui Yesus sebagai Anak Allah. Yesus tidak berbangga dengan statusnya sebagai Merias, Anak Allah. Ia melarang mereka supaya tidak membuat-Nya semakin viral. Tuhan Yesus terus bersemangat untuk mewartakan Injil karena untuk itulah Ia datang ke dunia sebagai Utusan Bapa.

Saya siap mewartakan Injil adalah sebuah perkataan sekaligus motivasi yang mentransformasi hidup kita. Tuhan Yesus sendiri mengamanatkan para murid-Nya: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mat 16:15). Perintah atau amanat Yesus juga berlaku bagi anda dan saya untuk mewujudkan hidup Kristiani kita. Kita saat ini mewartakan Injil dengan hidup kita yang nyata, yang memperhatikan orang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Mereka ini sedang mengalami musibah gempa bumi, kebakaran hutan sehingga menyebabkan polusi udara dan krisis air bersih. Injil menjadi hidup dalam pewartaan kita melalui hidup nyata dan melayani kemanusiaan.

P. John Laba, SDB