Hari Sabtu, Pekan Biasa ke-XXIVA
1Kor 15:35-37.42-49
Mzm 56:10-14
Luk 8:4-15
Benih itu baik dan hidup
Kita semua mengenal benih dan berbagai jenisnya, apalagi kita semua pasti tetap berbangga sebagai anak-anak negeri agraris. Benih secara biologis adalah tanaman mini yang menyimpan embrio hidup serta informasi genetikanya secara lengkap supaya dapat bertumbuh menjadi tanaman yang sempurna. Pengenalan kita secara umum akan benih adalah seperti ini: benih itu dapat melakukan metabolisme dan respirasi tingkat rendah meskipun terlihat tidak bergerak atau dorman (tidur). Di dalam kulit benih yang keras terdapat embrio utuh yang siap bertumbuh menjadi tanaman besar ketika mendapat air, suhu, dan oksigen yang cukup. Benih juga bisa bertahan hidup lama dalam kondisi kering atau dingin, lalu “bangkit” dan berkecambah saat lingkungan mendukung. Pengenalan dan pemahaman kita yang sederhana ini membantu kita untuk menyadari betapa Tuhan mencintai kita semua.
Semasa hidupnya di dunia ini, Tuhan Yesus bertumbuh dan berkembang di negeri agraris. Ia juga memulai karya di depan publik terutama di Galilea yang dikelilingi lahan yang subur. Sebab itu Ia selalu menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang sangat kontekstual, sesuai dengan keadaan di mana Ia mengajar sekaligus menghadirkan Kerajaan Allah. Pada hari ini misalnya, kita mendengar bagaimana begitu banyak orang berbondong-bondong datang kepada Yesus. Ia mengajar mereka dalam sebuah perumpamaan tentang Penabur. Ada seorang Penabur yang sangat unik. Ia dengan bebas mengambil benih dan menaburkannya di lahan yang tersedia. Ada benih yang jatu di pinggir jalan maka tentu saja benih itu mudah untuk diinjak-injak orang dan dimakan oleh burung-burung. Ada benih yang jatuh di tanah yang berbatu. Benih itu hanya bertumbuh sebentar saja lalu layu karena tidak mendapat air. Ada benih yang jatuh di antara semak duri. Benih itu memang bisa bertumbuh namun terhimpit oleh semak duri sehingga mati. Ada juga benih yang jatuh di tanah yang baik. Benih itu bertumbuh dengan baik sehingga dapat berbuah seratus kali lipat.
Perumpamaan ini memiliki makna yang sangat dalam karena berbicara tentang kehidupan kita yang nyata. Kadang kita memang memiliki telinga, tetapi kita tidak mendengar, padahal Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa barang siapa yang memiliki telinga untuk mendengar hendaknya ia mendengar perkataan Tuhan. Para murid yang sehari-hari tinggal bersama Yesus saja masih belum memahami seratus persen, padahal sudah diberi karunia oleh Tuhan sendiri. Mereka lalu meminta penjelasan Yesus tentang arti perumpamaan tentang Penabur ini: Penabur tentu saja Tuhan sendiri yang memiliki rencana dan kehendak. Benih adalah Sabda yang keluar dari mulut Allah, yang sedang diwartakan oleh Tuhan Yesus sang Anak Allah, Sabda Kehidupan itu sendiri. Benih yang jatuh di pinggir jalan adalah orang yang mendengar Sabda Tuhan namun mudah digoda iblis sehingga mereka tidak percaya dan tidak diselamatkan. Benih yang jatuh di atas batuan adalah mereka yang mendengar Sabda Tuhan, mulanya bergembira dan percaya tetapi hanya sebentar saja. Mereka segera murtad ketika ada pencobaan. Benih yang jatuh di antara semak duri adalah orang yang mendengar Sabda lalu ada rasa khawatir dengan hidupnya, kenikmatan-kenikmatan dunia lebih menjanjikan sehingga tidak menghasilkan buah yang matang. Benih yang jatuh di tanah yang baik adalah orang yang mendengar Sabda, merenungkannya, menyimpannya di dalam hati yang baik sehingga menghasilkan buah-buah dalam ketekunan.
Kita dapat bertanya di dalam diri kita masing-masing: Apakah hati kita dapat menjadi lahan yang baik untuk menampung dan mengembangkan benih yang adalah Sabda Allah sendiri? Apakah kita memiliki kemampuan untuk membaca Kitab Suci yang berisi Sabda Tuhan dengan penuh kasih akan Sabda Tuhan itu sendiri? Kita mau untuk selalu siap mendengar Sabda, merenungkan dan menjadi pelaku-pelaku Sabda Tuhan sehingga menghasilkan buah-buah dalam ketekunan.
Dalam bulan Kitab Suci Nasional ini, kita mesti memiliki hati yang terbaik untuk menerima Sabda Allah dan melakukannya, sehinga menghasilkan buah dalam ketekunan. Sabda Tuhan Allah membuat kita semakin percaya kepada Kristus sebagai Sabda kehidupan yang menderita, sengsara, wafat dan bangkit dengan mulia. Kita semua akan mati dan akan mengalami kebangkitan yang mulia. Ibarat benih harus mati sehingga bisa menghasilkan tumbuhan baru, demikian bersama Kristus yang bangkit juga membangkitkan kita semua dari kematian. Santo Paulus berkata: “Demikian pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kemuliaan” (1Kor 15: 42-43) Tuhan sungguh baik dan akan membuat kita menjadi benih yang baik karena jatuh di tanah yang baik dan menghasilkan buah dalam ketekunan.
P. John Laba, SDB