Homili 18 September 2026

Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XXIV
1Kor 15: 12-20
Mzm. 17: 1.6-7.8b.15
Luk. 8:1-3

Memberi dengan sepenuh hati

Saya pernah mendengar kesaksian seorang donatur kenamaan di sebuah paroki. Ia memulai dengan perkataan Tuhan Yesus ini: “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” (Mat 6:3). Baginya, memberi sesuatu atau berbagi dengan siapa saja tak perlu diketahui orang lain karena tindakan memberi adalah sebuah tindakan kasih dan ucapan syukur”. Saya berkata di dalam hati, “Saya selama ini mendengar perkataan orang tentang donatur ini, sekarang saya mendengar sendiri filosofi memberi atau berbagi yakni apa yang diberi dengan tangan kirimu janganlah diketahui oleh tangan kananmu”. Perkataan inspiratifnya adalah memberi sebagai tindakan kasih dan ucapan syukur. Ini kadang mudah untuk dilupakan oleh orang.

Pada hari ini kita mendengar kisah Yesus yang diceritakan oleh Penginjil Lukas. Ketika itu Tuhan Yesus sudah memanggil dan memilih para Murid-Nya. Mereka selalu berjalam bersama, berkeliling sambil berbuat baik. Ia melakukan semua ini dengan penuh kesadaran. Apa yang dilakukan Yesus? Ia memberitakan Injil Kerajaan Allah. Sekali lagi, Yesus tidak pergi sendirian tetapi selalu bersama dengan para murid-Nya. Tentu saja untuk perjalanan dan pekerjaan yakni mewartakan Injil Kerajaan Allah itu butuh dukungan dari manusia. Tuhan Yesus mendapat dukungan dari para wanita yang melayani dan berbagi dengan sepenuh hati. Siapakah para wanita-wanita yang murah hati ini? Mereka adalah Maria Magdalena, Yohana, Susana dan banyak lagi yang lain.

Mengapa mereka begitu murah hati kepada Yesus dan pada murid-Nya? Mereka bermurah hati dengan melayani seluruh rombongan Yesus dengan harta kekayaan mereka sendiri sebagai tanda syukur karena mereka sudah lebih dahulu menerima kasih dan kebaikan Tuhan Yesus. Misalnya, Maria Magdalena melakukan pelayanan kasih kepada rombomgan Tuhan Yesus karena Tuhan Yesus sendiri sudah terlebih dahulu menunjukkan kasih kepadanya dengan membebaskan dia dari tujuh setan. Tujuh setan itu adalah legion yang tentu saja manusia tidak mampu untuk mengusir setan-setan itu, hanya Yesus saja yang bisa melakukannya dengan sempurna. Maria Magdalena dan sesama wanita yang murah hati itu sudah mendapat dan mengalami kasih Yesus maka mereka pun berbagi kasih tanpa hitung menghitung. Mereka memberi dengan sepenuh hati dan tidak menceritakan kepada siapapun apa yang sudah mereka berikan kepada Tuhan Yesus dan rombongan-Nya.

Santo Paulus juga merupakan sosok yang memberi segala sesuatu kepada Tuhan tanpa pernah memikirkan upah apapun. Ia menulis: “Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil” (1Kor 9:18). Paulus tetap bersemangat untuk mewartakan kebangkitan Kristus. Ia sendiri mengalami bahwa Tuhan Yesus yang bangkit menampakkan diri kepadanya seperti kepada seorang anak yang lahir sebelum waktunya. Tuhan memang memiliki rencana istimewa bagi Paulus. Dia kuat dan teguh untuk mewartakan kebangkitan Kristus. Dia mengatakan: “Andaikan Kristus tidak bangkit, sia-sialah iman kita”. Perkataan ini tentu berasal dari pengalaman perjumpaannya secara pribadi, berawal dari perjalanannya ke Damsyik dan juga penampakan Yesus kepadanya yang dengan tulus mengakui diri sebagai anak yang lahir sebelum waktunya.

Paulus teguh untuk terus bersaksi bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati. Ini tidaklah mudah karena ada juga orang yang merasa yakin bahwa tidak ada kebangkitan orang mati seperti kaum Saduki. Padahal Kristus bangkit dan sudah menampakkan diri kepadanya maka sangat jelas bahwa ada kebangkitan orang mati. Perkataan Paulus ini memperkuat iman jemaat di Korintus untuk semakin percaya kepada kebagkitan badan dan kehidupan kekal.

Lalu apa hubungan kedua bacaan suci pada hari ini?
Kita sedang merenung tentang memberi dengan sepenuh hati. Para wanita dalam Bacaan Injil hari ini memberi harta mereka dengan sukacita dan sukarela untuk mendukung pelayanan Yesus dan para murid-Nya. Paulus tidak memberi harta seperti para wanita dalam Injil. Ia memberi dirinya secara total kepada Tuhan: tubuhnya menjadi martir, waktu, bakat dan kemampuan semuanya untuk Tuhan. Dua cara memberi kepada Tuhan dan tidak memintanya kembali. Harta dan hidup hanya untuk Tuhan karena Tuhan sudah lebih dahulu memberi segalanya bagi anda dan saya. Maka belajarlah untuk memberi dengan sepenuh hati bukan setengah hati.

P. John Laba, SDB