Homili 17 September 2026

Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XXIV
1Kor 15:1-11
Mzm 118:1-2.16ab-17.28
Luk 7:36-50

Tahu Diri

Kita semua sudah mengetahui bahkan mengatakan sendiri kata-kata ini: “Tahu Diri”. Secara umum tahu diri dipahami sebagai sebuah kesadaran untuk memahami keadaan, kedudukan, kelebihan, serta kekurangan diri sendiri agar dapat bertindak sesuai dengan kapasitas dan batas kemampuan yang dimiliki. Ciri-ciri orang yang tahu diri, misalnya, orang itu menyadari kapasitas atau kemampuan pribadinya. Ia mengerti batasan kemampuan diri tanpa memaksakan diri di luar batas wajar. Tahu diri itu mengandaikan adanya kebajikan kerendahan hati. Pribadi yang tahu diri ditandai dengan sikapnya yang tidak sombong dan mau belajar dari orang lain. Tahu diri itu mengandaikan posisi atau kedudukan seseorang. Ia tahu cara bersikap yang tepat dalam pergaulan sosial nya. Tahu diri itu menjadi pribadi yang mudah bersyukur, mampu menerima keadaan dengan lapang dada dan tidak mudah iri dengan pencapaian orang lain. Banyak ide yang bagus tentang tahu diri dan kita semua memang perlu tahu diri.

Saya mengingat pesan dari alm. Mgr. Darius Nggawa, SVD. Beliau adalah Uskup Keuskupan Larantuka sejak tahun 1974-2004. Dalam sebuah pesannya kepada imam yang ditahbiskannya, dia berpesan supaya para imam itu, kalau mau menjadi imam terbaik maka perlu memakan tiga tahu yakni tahu Tuhan, paling kurang Tuhan Yesus Kristus, tahu diri dan tahu bawa diri. Ketiga tahu yang nikmat sekali. Seorang yang tahu Tuhan Yesus pasti akan berusaha untuk tahu diri dan tahu bawa diri. Orang yang tidak tahu bahwa diri itu karena dia tidak tahu diri dan tentu saja dia tidak tahu Tuhan Yesus. Manakah tiga tahu yang nikmat pada dirimu saat ini?

Sabda Tuhan pada hari ini menggambarkan tentang tahu diri melalui sosok wanita dan pria tanpa nama dan memiliki nama yang jelas. Di dalam bacaan Injil, kita mendengar kisah tentang Tuhan Yesus yang diundang oleh seorang Farisi bernama Simon untuk makan bersama di rumahnya. Datang pula seorang wanita, tanpa nama, namun terkenal di kota itu sebagai seorang wanita pendosa. Ia membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi. Ia menangis, berada di belakan Yesus dekat kaki-Nya, membasahi kaki Yesus dengan airmatanya, menyekanya dengan rambutnya yang panjang, mencium kaki Yesus dan meminyaki dengan minyak wangi itu. Wanita pendosa ini mengetahui diri atau dia tahu diri bahwa dia orang berdosa maka dia melakukannya dengan tulus hati. Dia melakukannya karena dia sungguh-sungguh bertobat dan berubah dengan memiliki cinta yang lebih besar kepada Yesus. Proses transformasi yang dialami wanita pendosa ini karena dia tahu diri. Simon dan orang-orang lain itu tidak tahu diri bahwa mereka juga orang berdosa. Mereka hanya bisa melihat dan menganggap orang lain sebagai pendosa padahal mereka mungkin memiliki lebih banyak dosa. Mereka hanya mencari popularitas dengan bersama Yesus dan makan bersama padahal hidupnya jauh dar Yesus sendiri. Pokoknya kita banget!

Di dalam bacaan pertama kita mendengar kisah santo Paulus. Kita semua mengenal pribadi Paulus yang sebelumnya adalah seorang Saulus yang bengis dan pembunuh, penuh ambisi untuk menjadi terkenal. Namun peristiwa menampakkan Tuhan baginya dalam perjalanan ke Damsyik sungguh mengubah seluruh hidupnya. Nama Saulus berubah menjadi Paulus yang dikhususkan bersama Barnabas untuk tugas yang Roh Kudus tentukan bagi mereka berdua (Kis 13:2). Selanjutnya Paulus melakukan perjalanan misioner untuk mewartakan Injil. Ia berprinsip: “Celakalah aku kalau tidak memberitakan Injil” (1Kor 9:16). Paulus tahu diri maka dia tidak segan-segan bercerita tentang masa lalunya dan bagaimana ia akhirnya berkata: “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Gal 2:20).

Paulus tahu diri ketika ia memberi kesaksian tentang kebangkitan Kristus dan dengan jujur mengatakan: “Tuhan Yesus bangkit dan menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya (1Kor 15: 5-8). Perhatikan perkataan Paulus: “anak yang lahir sebelum waktunya”. Mengapa? Bagi Paulus: “Karena Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.” 1Kor 15:9). Semua ini karena kasih karunia Allah yang sungguh mengubah hidup Paulus.

Sosok wanita pendosa dan Paulus adalah pribadi-pribadi yang tahu diri bahwa mereka orang berdosa dan mau bertobat. Hanya kita yang bersifat Farisi masa kini yang tidak sadar bahwa kita orang berdosa sehingga mudah sekali menganggap sesama sebagai pendosa. Kita terlalu lemah bukan terlalu kuat untuk mengakui diri sebagai orang berdosa. Kita belum bahkan tidak tahu diri!

P. John Laba, SDB