Homili 23 September 2026 – St. Padre Pio

Hari Rabu, Pekan Biasa ke-XXVA
Peringatan St. Padre Pio
Ams 30:5-9
Mzm 119:29.72.89.101.104.163
Luk 9:1-6

Utusan yang sederhana

Ada seorang Pastor tamu yang datang sebagai relawan di sebuah daerah bencana. Ia dengan pakaian yang sederhana, mengendarai sebuah truk sendirian untuk mengantar bantuan kemanusiaan berupa sembako, selimuat dan obat-obatan. Ketika ia tiba di tempat tujuan, tidak ada seorang pun yang mengenalinya. Maklumi dia adalah seorang pastor tamu dari jauh. Pastor itu sendiri dikira sopir truk maka ketika ia meminta bantuan untuk menurunkan isi truk itu, tidak ada seorang pun yang bersedia membantunya. Ia malah dimarahin oleh orang-orang setempat bahwa dia bukanlah sopir yang rajin, lamban dan lain sebagainya. Dia memilih diam saja. Setelah menurunkan semua bantuan itu, dia kembali ke pastoran untuk mengambil muatan baru ketempat lain. Pastor Parokinya menelpon ketua dewan stasi setempat bahwa yang mengantar bantuan dengan truk adalah Pastor Tomy, dia seorang pastor tamu sekaligus sebagai relawan. Umat setempat merasa malu ketika mendengar penjelasan pastor paroki. Mareka menyesal dan meminta maaf tetapi pastor Tommy sudah berada di tempat lain untuk menolong sesama lain.

Saya boleh mengatakan bahwa hampir semua orang, anda dan saya, sangat mudah untuk menilai orang lain berdasarkan tampak luarnya saja. Misalnya, seorang yang mengendarai truk disebut sopir, namun belum tentu dia memiliki profesi sebagai sopir, apalagi ketika kita hanya melihat pakaian apa yang dikenakannya dan cara ia berkomunikasi dengan sesama. Orang lalu mudah untuk menganggap orang berdasarkan profesinya. Kalau dia juragan lalu sikap penerimaannya berbeda dengan orang seperti Pastor yang menjadi sopir dadakan. Semua profesi itu mulia karena bertujuan untuk bonum comune. Orang sederhana belum tentu ia melarat. Orang yang berkelimpahan, belum tentu ia adalah pribadi yang bahagia.

Pada hari ini kita mendengar kisah perutusan para murid Yesus. Momen istimewa adalah ketika Tuhan Yesus mengumpulkan keduabelas murid-Nya. Tunan memberikan kepada mereka tenaga dan kuasa. Tenaga dan kuasa adalah milik Tuhan, dan Tuhan berbagi dengan keduabelasan-Nya. Untuk apa Tuhan memberikan tenaga dan kuasa? Tuhan mau supaya para murid-Nya ikut terlibat dalam menghadirkan Kerajaan Allah. Kuasa dan Tenaga Yesus bermanfaat bagi mereka untuk menguasai setan-setan dan menyembuhkan penyakit-penyakit. Hal positifnya adalah perutusan mereka memang mulia karena mereka mewartakan Injil Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit.

Tuhan Yesus tidak hanya memberi tenaga dan kuasa-Nya kepada mereka. Ia juga menghimbau para murid untuk hidup sederhana sesuai dengan kehendak-Nya sendiri. Mereka dihimbau supaya jangan membawa apa-apa di dalam perjalanan misalnya tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. Apabila orang menerima mereka maka mereka tinggal di dalam rumah itu. Kalau mereka ditolak maka mereka meninggalkan tempat itu sambil mengebaskan sepatu sebagai tanda peringatan bagi mereka. Para murid mendengar dan siap melaksanakan perintah Tuhan Yesus. Mereka tentu tidak merasa takut untuk menghadirkan Kerajaan Allah karena Tuhan sendiri memberi tenaga dan kuasa kepada mereka.

Kisah Injil ini memang menarik perhatian kita semua. Tuhan Yesus benar-benar melakukan hal yang indah: mengumpulkan para muris, memberi tenaga dan kuasa, memberi wejangan tentang hidup sederhana dan berpasrah pada penyelenggaraan ilahi, kesiapan untuk melakukan kehendak Tuhan. Tuhan tentu tidak hanya memberi tenaga dan kuasa tetapu menyertai mereka hingga akhir zaman.

Kita sebagai orang yang dibaptis mengalami pengalaman para murid Yesus sendiri. Pada saat dibaptis, kita dikumpulkan menjadi satu dan menjalani misi Tuhan di dalam Gereja dan dunia hingga akhir zaman. Ini tentu memanggil kita untuk memiliki komitmen untuk teguh dalam bermisi di dalam Gereja. Semua yang disampaikan Yesus berupa wejangan untuk bermisi ini menjadi pelita bagi langkah kaki para murid Yesus dan Gereja masa kini. Tentu saja kita perlu memiliki semangat seperti disampaikan dalam Kitab Amsal di bacaan pertama supaya tetap percaya penuh pada kebenaran Allah, tetap memohon kepada Tuhan untuk memiliki hidup yang seimbang. Dalam hal ini kita diingatkan untuk menjauhi dua ekstrim dalam hidup yakni kekayaan dan kemiskinan. Dengan demikian hati kita akan tidak akan melupakan atau menghina Tuhan sendiri.

Kita juga mengenang Santo Padre Pio. Sosok yang berjiwa misioner yang luar biasa pada masanya. Kita belajar padanya tentang iman yang teguh kepada Tuhan, penderitaan dan selalu percaya kepada Tuhan. Pengalaman rohani, khusus tentang stigmatanya membuatnya menderita namun sebelum meninggal dunia semuanya hilang, tanpa ada bekas luka pada tubuhnya. Seorang yang mengikuti kehendak Allah seperti para murid dan Santo Padre Pio membawa kepada kemartiran dan kemenangan abadi. Itulah rencana Tuhan yang agung bagi kita semua. Santo Padre Pio, Doakanlah kami. Amen.

P. John Laba, SDB