Homili 19 Juni 2014

Hari Kamis, Pekan Biasa XI
Sir 48: 1-14
Mzm 97:1-2.3-4.5-6.7
Mat 6:7-15

Kita Semua Bersaudara

Fr. JohnBeberapa hari yang lalu saya merayakan Misa syukur ulang tahun seorang ibu di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Suasana perayaan syukur terasa penuh persaudaraan. Banyak saudara dan kerabatnya berdatangan untuk mengikuti perayaan Ekaristi dan mengucapkan salam dan selamat ulang tahun. Pada acara santap bersama, ibu yang merayakan ulang tahun mengatakan kepada kami semua kalimat ini: “Pada hari ini saya merayakan hari ulang tahun ke-72. Saya merasa bersyukur karena kita semua bersaudara dalam Ekaristi, dalam santap malam bersama dan dalam hari-hari hidup selanjutnya. Karena kita bersaudara maka kita saling mengampuni dan memaafkan satu sama lain di hari bahagiaku ini” Ini adalah sebuah sambutan yang sederhana tetapi diamini oleh semua hadirin karena apa yang diungkapkan itu juga yang dirasakan oleh seluruh hadirin dari ibu itu.

Saya merenungkan kata-kata ibu ini dan membayangkan suasana Ekaristi yang meriah setiap kali saya merayakannya bersama umat. Semua orang datang dalam suasana persaudaraan untuk menyambut Tubuh dan Darah Kristus yang satu dan sama. Saya ingat Firman Tuhan hari ini bahwa Roh Allah itu diberikan kepada kita supaya menjadi saudara. St. Paulus berkata: “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu tidak takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “Ya Abba, ya Bapa!” (Rom 8:15).

Pada hari ini kita sekali lagi dikuatkan oleh teladan persaudaraan nabi Elia dan Elisa. Penulis Kitab Putra Sirak menggambarkan kepribadian kedua tokoh ini. Elia dilukiskan seperti ini: Ia tampil seperti api, perkataannya laksana obor membakar. Ini mau mengatakan bahwa Elia itu nabi yang penuh dengan Roh Kudus (disimbolkan dengan Api). Karena permohonannya maka datanglah kelaparan bagi Israel, jumlah mereka juga berkurang. Kelaparan itu disebabkan karena Tuhan mengunci langit selamat tiga tahun enam bulan dan api juga diturunkan sebanyak tiga kali. Tuhan berkarya di dalam diri Elia.

Karena semua tanda ini maka Penulis Kitab Putra Sirak ini memuji Elia katanya: “Betapa mulialah engkau, hai Elia, dengan segala mujizatmu, dan siapa boleh bermegah-megah bahwa sama dengan dikau? Orang mati kaubangkitkan dari alam arwah, dan dari dunia orang mati dengan firman Yang Mahatinggi. Raja-raja kauturunkan sampai jatuh binasa, dan orang-orang tersohor kaujatuhkan dari tempat tidurnya. Teguran kaudengar di gunung Sinai, dan di gunung Horeb keputusan untuk balas dendam. Engkau mengurapi raja-raja untuk menimpakan balasan, dan nabi-nabi kauurapi menjadi penggantimu. Dalam olak angin berapi engkau diangkat, dalam kereta dengan kuda-kuda berapi.” Sir 48:4-9). Elia sebagai Utusan Tuhan telah melaksanakan yang terbaik bagi Tuhan Allah dan umatNya.

Penulis Kitab Putra Sirakh juga memuji Elisa karena ketaatannya kepada kehendak Allah dan persaudaraannya dengan Elia. Inilah perkataan tentang Elisa: “Elisa dipenuhi dengan rohnya (roh Elia). Selama hidup ia tidak gentar terhadap seorang penguasa, dan tidak seorangpun menaklukkannya.Tidak ada sesuatupun yang terlalu ajaib baginya, dan bahkan dikuburnyapun jenazahnya masih bernubuat. Sepanjang hidupnya ia membuat mujizat, dan malah ketika meninggal pekerjaannya menakjubkan.” (Sir 48: 12-14). Sekali lagi Tuhan hadir di dalam diri Elisa.

Dengan memahami relasi Elia dan Elisa yang begitu akrab dan bersaudara ini bolehlah dikatakan bahwa inilah rencana Tuhan bagi setiap utusanNya.Nabi atau utusan Tuhan itu merupakan pilihan Tuhan supaya pribadi itu bersekutu dengan pribadi yang lain sebagai saudara. Para nabi juga merupakan tanda bahwa Allah sungguh-sungguh berkuasa. Di dalam diri Elia, Allah berkuasa untuk mengunci langit, menurunkan api, membangkitkan orang yang sudah meninggal dunia. Di dalam diri Elisa, Tuhan melakukan banyak mukjizat. Artinya bahwa Tuhan berkarya senantiasa di dalam diri nabi dan nabi melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa.

Di dalam bacaan Injil hari ini, kita mendengar bagaimana Tuhan Yesus mengingatkan para muridNya untuk menjadi saudara. Doa itu mengikat dan mempersatukan setiap pribadi dan menjadikan mereka saudara seiman. Doa itu sendiri mengarahkan hati dan pikiran manusia kepada Tuhan. Doa itu berpusat pada persekutuan manusia dengan Allah. Dalam doa, Tuhan Allah dipermuliakan dan kita bersekutu dan bersaudara dengan sesama. Tuhan Yesus sendiri mengajar para murid untuk berdoa dengan baik. Ia berkata: “Berdoalah kalian demikian” berdoa sesuai dengan petunjuk atau teladan Tuhan Yesus sendiri. Jadi bukan teori doa tetapi berdoa bersama Tuhan Yesus.

Doa Bapa kami memiliki intensi untuk memuji dan memuliakan Tuhan Allah, juga untuk kebutuhan-kebutuhan hidup setiap hari sebagai anak-anakNya. Satu hal yang penting diajarkan Yesus dalam doanya adalah kemampuan untuk mengampuni. Yesus berkata: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:14-15). Doa yang benar dan sifatnya mempersatukan Tuhan dan sesama bisa terjadi kalau ada pengampunan. Banyak kali orang mengatakan berdoa tetapi hatinya masih terganjal karena belum atau sulit untuk mengampuni.

Mengampuni itu berarti melupakan. Tuhan mengampuni berarti Tuhan melupakan semua dosa dan salah kita masing-masing. Kita pun berusaha untuk menyerupai Tuhan supaya melupakan semua perbuatan jahat yang dilakukan dan yang menyakitkan hati kita. Kita menjadi orang hebat bukan karena karya-karya besar tetapi karena kesederhanaan hidup dan kemampuan untuk mengampuni diri dan sesama. Anda bisa menjadi pengikut Kristus yang baik kalau anda mampu mengampuni seperti Kristus sendiri.

Doa: Tuhan bantulah kami untuk bertumbuh dalam persaudaraan, saling mengampuni satu sama lain sebagaimana Engkau sendiri melakukannya kepada kami masing-masing. Amen

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply