Homili 20 Juni 2014

Hari Jumat, pekan Biasa XI
2Raj 11:1-4.9-18.20
Mzm 132:11.12.13-14.17-18
Mat 6:19-23

Jangan gila harta dan kuasa!

Fr. JohnSaya mengenal sebuah keluarga yang mempunyai dua orang anak. Mereka berdua memiliki sifat yang berbeda satu sama lain. Anak yang pertama memiliki kebiasaan membeli dan mengumpulkan barang-barang di kamarnya. Kelihatan ia memang tidak membutuhkannya tetapi hanya membeli dan memajangnya. Pujian diberikan kepadanya karena ia memiliki banyak barang di kamar dan ia puas dengan pujian itu. Inilah sikap avarice yang dimiliki anak itu. Anak yang kedua memiliki kebiasaan memerintah siapa saja yang ada disekitarnya. Kadang-kadang memaksa orang tua dan kakaknya supaya keinginannya bisa tercapai. Orang tuanya bingung dengan sifat kedua anaknya yang berbeda. Sebagai orang tua mereka memiliki tanggung jawab yang besar untuk membentuk kedua anak dengan sifat yang berbeda ini. Saya pernah bertanya kepada orang tua bagaimana mereka mendidik kedua anak ini. Kedua orang tua sepakat untuk membagi waktu dan selalu hadir dan mengarahkan mereka untuk kebaikan. Anak yang pertama diarahkan untuk mengerti manfaat dari barang-barang yang dimiliki dan tidak melekat padanya. Anak yang kedua dibantu untuk terbuka dan rendah hati di dalam keluarga. Di samping kehadiran aktif, kedua orang tua juga menunjukkan keteladanan yang baik. Kedua anak itu perlahan-lahan menyadarinya dan berubah.

Kisah keluarga ini penuh perjuangan. Orang tua perlu tanggap dengan sifat anak-anaknya dan mendidik serta membina mereka untuk menerima dirinya apa adanya. Dengan kehadiran dan keteladanan bisa membantu anak-anak untuk berubah. Pengalaman keluarga ini juga menjadi pengalaman Tuhan dalam membimbing umatNya. Tuhan memang menciptakan manusia sesuai dengan citraNya sendiri tetapi akibat dosa asal maka manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan yang berlawanan dengan kehendak Tuhan. Ada saja kecenderungan menjadi avarice, sulit untuk memiliki sikap lepas bebas terhadap segala harta duniawi. Ada juga kecenderungan dan ambisi yang tidak teratur untuk menguasai sesama dan berlaku tidak adil dengan mereka.

Pada hari ini kita mendengar Tuhan menyapa kita dalam contoh hidup yang nyata. Tuhan tahu bahwa manusia memiliki kelekatan tersendiri pada harta benda dan lupa pada Tuhan yang menciptakannya. Manusia lupa bahwa segala sesuatu di atas bumi ini sifatnya sementara saja. Semuanya akan lenyap dan yang tertinggal hanya kasih Allah yang tiada bandingnya. Itu sebabnya Yesus berkata: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (Mat 6:19-20). Masalahnya adalah banyak orang lupa bahwa harta benda di dunia akan lenyap, sifatnya sementara saja. Orang bisa saja menjadi avarice bahkan gila harta. Ketika seorang menjadi gila akan harta benda maka dengan sendirinya ia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Tuhan Yesus dengan tepat berkata: “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Mat 6:21). Hati orang melekat pada harta benda dan lupa akan Tuhan dan sesama. Banyak orang ketika merasa memiliki segala sesuatu, selalu ada kecenderungan untuk melekat padanya dan lupa pada Tuhan. Ketika mengalami kesulitan maka mereka mendekatkan diri pada Tuhan. Inilah iman musiman yang ada dalam Tubuh mistik Kristus. Ketika orang tidak memiliki sikap lepas bebas maka ia tidak akan membuka diri kepada Tuhan dan sesama. Orang seperti itu memiliki mata yang tidak baik sehingga yang ada padanya hanyalah kegelapan. Kita butuh Tuhan untuk memiliki mata yang baik sehingga yang ada pada kita adalah terang bagi banyak orang.

Di dalam bacaan pertama kita mendengar kisah yang menggambarkan bagaimana orang menyalahgunakan kekuasaan. Dialah עתליה  (Atalya). Nama ini berarti Yahwe telah menyatakan belaskasihannya. Dia adalah putri Ahab raja Israel dan cucu Omri (2Raja 8:26). Ia menikah dengan raja Yoram di Yehuda dan ini berkaitan dengan persekutuan Kerajaan utara dan selatan. Ini juga menunjukan keunggulan Israel atas Yehuda. Ia menjadi ratu puteri Yehuda (845-840). Anaknya Ahazia dibunuh oleh Yehu setelah memerintah setahun lamanya dalam “Revolusi Nabiah” (2Raja 8:25-10:36). Atalya juga disebut sebagai ‘perempuan yang fasik itu’ (2 Tawarikh 24:7).

Setelah Yoram suami Atalya meninggal dunia dan anaknya bernama Ahazia Atalya menduduki takhta kerajaan. Untuk tetap memegang kekuasaan sebagai ibu Ratu, ia berusaha membunuh semua keturunan raja (2Raja 11:1). Seluruh keluarga raja diperintahkannya untuk dibunuh (kecuali kemenakannya dan penggantinya, Yoas). Atalya mulai memerintah ± tahun 842 sM. Sesuai contoh yang diberikan oleh ibunya (Izebel), ia juga memajukan pemujaan kepada Baal. Ia memerintah selama 6 tahun tanpa diganggu oleh siapa pun. Pada tahun keenam pemerintahannya itu ia dipecat dan dibunuh oleh anggota persengkokolan imam Yoyada (2Raja 11:1-43; 2 Tawarikh 22:10). Imam besar Yoyada menobatkan anak raja Yoas menjadi raja. Atalya keluar mendapatkan musuh-musuhnya, dan dibunuh di luar Rumah Tuhan.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini menggambarkan benang kusut di dalam kehidupan kita. Ada saja orang-orang tertentu, termasuk diri kita yang melekat pada harta dan kuasa. Orang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang tidak dikehendaki Tuhan. Dalam hal yang lebih konkret pada masa persiapan pemilihan umum ini. Hanya karena harta dan kuasa, orang bisa bermusuhan, padahal tujuan yang mau dicapai bersama adalah kesejahteraan dan kebaikan umum. Mari kita menaruh seluruh harapan kepada Tuhan. Jangan gila harta dan kuasa!

Doa: Tuhan bantulah kami untuk bersikap dewasa dalam membaca tanda-tanda zaman. Semoga kami menjunjung nilai-nilai cinta kasih. Amen

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply