Homili 2 Januari 2015

St. Basilius Agung & Gregorius dari Nazianze
1Yoh. 2:22-28
Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4
Yoh. 1:19-28

Tetap tinggal bersama Yesus

Fr. JohnPada hari ini Gereja Katolik merayakan peringatan St. Basilius Agung (329-379) dan St. Gregorius dari Nazianze (329-390). Basilius adalah uskup dan pujangga gereja. Ia berasal dari Kaisarea, provinsi Kapadokia, Asia kecil. Dalam sejarah Gereja, Basilius dikenal sebagai seorang apologet yang membela gereja dari bidaah Arianisme. Dia juga dikenal sebagai bapak hidup membiara di Gereja-Gereja Timur. Gregorius adalah seorang uskup dan pujangga Gereja. Ia pernah bertemu dengan Basilius di Atena, Yunani. Mereka menjadi sahabat ketika belajar bersama-sama. Ia menampakkan kepribadian yang bersahaja, penuh semangat, rendah hati. Dia juga seorang apologet yang secara khusus membela ajaran Tritunggal yang Mahakudus.

Kita semua masih berada dalam masa Natal dan suasana tahun baru. Bacaan-bacaan Kitab Suci membantu kita untuk mengenal lebih dalam serta percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Ia telah datang untuk menyelamatkan kita semua. Yohanes dalam suratnya mengajak komunitasnya untuk memilih menyangkal Yesus sebagai antikristus atau tinggal bersamaNya. Ia menulis: “Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. Sebab barangsiapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa. Barangsiapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa.” (1Yoh 2: 22-23).

Yohanes menyadari bahwa memang banyak orang terpesona dengan Yesus yang diwartakannya, tetapi ada di antara mereka yang menyangkal adanya Allah Tritunggal Mahakudus. Ada yang masih menyangkal bahwa Yesus adalah Dia yang diurapi atau Kristus. Oleh karena itu Yohanes berharap supaya mereka yang sudah percaya tetaplah setia dalam iman dan kepercayaannya. Yohanes berkata: “Dan kamu, apa yang telah kamu dengar dari mulanya, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar dari mulanya itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetap tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa.” (1Yoh 2:24). Orang beriman haruslah setia dalam hidupnya. Janganlah jadi pengikut Kristus yang mencla-mencle. Orang yang setia dalam hidupnya sebagai pengikut Kristus akan memperoleh hidup kekal.

Kesadaran yang harus selalu kita miliki adalah dengan kuasa sakramen pembaptisan, kita semua menerima Yesus Kristus. Dialah Guru abadi dan kita tidak membutuhkan orang lain untuk mengajar kita. Dialah Kebenaran, tidak ada dusta dalam ajaranNya. Oleh karena itu kita semua yang telah dibaptis dan menerima RohNya diharapkan untuk tetap tinggal di dalamNya.

Pengajaran Yohanes masih aktual dalam kehidupan menggereja masa kini. Banyak orang yang memiliki surat baptis dan KTP beragama katolik tetapi belum beriman katolik. Hidup mereka bagai antikristus yang tidak menerima dan mengakui eksistensi Allah Tritunggal Mahakudus. Ada seorang pemuda yang selalu aktif dalam pelayanan tetapi masih ragu apakah Tuhan benar-benar ada. Ketika mendengar sharingnya, saya lalu bertanya dalam hati mengapa anda mau melayaniNya kalau anda sendiri meragukan eksistensiNya? Nah, di awal tahun ini, hendaknya pikiran kita berubah dengan bertobat dan kembali kepada Tuhan.

St. Basilius dan Gregorius terkenal sebagai orang kudus yang mati-matian membela Gereja Katolik.Basilius berjuang melawan bidaah arianisme. Arianisme adalah sebuah pandangan kristologis yang dianut oleh para pengikut Arius. Ia hidup dan mengajar di Alexandria, Mesir, pada awal abad ke-4. Arius mengajarkan bahwa berbeda dengan Allah Bapa, Allah Putra tidak sama-sama kekal dengan Allah Bapa. Intinya bahwa Yesus Kristus sebelum menjelma adalah makhluk ilahi, namun Ia diciptakan oleh Allah Bapa pada suatu saat tertentu dan oleh karenanya statusnya lebih rendah daripada Bapa. Sebelum penciptaan-Nya itu, Sang Putra tidak ada. Jadi singkatnya, kaum Arian percaya bahwa Yesus adalah suatu “makhluk”. Kata yang digunakan dalam pengertian aslinya adalah Yesus adalah “makhluk ciptaan.” Gregorius berjuang melawan bidaah yang tidak mengakui adanya Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putra Roh Kudus. Kedua orang kudus ini sudah menghayati iman sebagaimana diajarkan Yohanes dalam suratnya ini.

Di dalam bacaan Injil, Yohanes Pembaptis menunjukkan jati dirinya sebagai pribadi yang rendah hati. Ketika orang berpikir bahwa ia adalah Elia, seorang nabi atau Mesias, dengan jujur ia mengatakan “bukan”. Ia bertindak benar yakni harus semakin kecil supaya Yesus semakin besar. Yesus sudah berada ditengah-tengah mereka. Ia sedang datang untuk dibaptis oleh Yohanes. Berkaitan dengan hal ini, Yohanes berkata: “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.” (Yoh 1:26-27).

Yesus sudah lahir dan berada di tengah-tengah kita. Baiklah kita rendah hati dan bisa merasakan kehadiranNya. Orang yang rendah hati juga bisa bersaksi bahwa Yesus sungguh-sungguh anak Allah. Maria kita merasa bahwa kita juga berada di dalam Yesus bukan di luar Yesus. Tinggal di luar Yesus adalah antikristus. Tinggal bersama Yesus merupakan sebuah janji kepada Tuhan di awal tahun baru ini. Apakah anda sungguh-sungguh percaya kepada Yesus Kristus?

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply