Homili 21 Juli 2018

Hari Sabtu, Pekan Biasa ke-XV
Mi. 2:1-5
Mzm. 10:1-2,3-4,7-8,14
Mat. 12:14-21

Jangan berhenti berbuat baik

Beberapa bulan yang lalu saya didatangi seorang pemuda untuk mengaku dosa dan berkonsultasi. Ia merasa bahwa selama beberapa bukan terakhir ada saja pikiran-pikiran jahat yang menghantuinya, bukan hanya pada siang hari tetapi juga pada malam hari. Ia selalu merasa gelisah sebab wajah orang yang menyakitinya selalu muncul dan ia berencana untuk menghabisinya. Ia merasa tidak berdaya karena rasa benci dan keinginan untuk berbuat jahat selalu menghantui bahkan menguasainya. Saya mendengar dan mencoba untuk memahami sharingnya ini dengan hati-hati. Perjumpaan kami diakhiri dengan doa bersama di kantor. Saya mendoakannya supaya bisa dijauhkan dari segala kejahatan. Selanjutnya saya memberi ayat Kitab Suci yang sederhana dari tulisan St. Petrus untuk direnungkannya. Inilah ayat Kitab Suci yang saya maksudkan: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” (1Ptr 5:8-9). Ia barusan mengirim pesan singkat kepada saya bahwa ia benar-benar berusaha dan sudah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Semangat bermetanoia menjadi perjuangannya ke depan.

Saya merasa yakin bahwa bukan hanya pemuda ini yang mengalami kesulitan karena beraneka pikiran jahat yang dialaminya. Banyak di antara kita juga memiliki kegelisahan-kegelisahaan tertentu akibat kejahatan yang kita lakukan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Sadar atau tidak sadar kita sudah dikuasai oleh kejahatan bukan kebaikan. Ada orang yang menikmati pikiran dan kehendak untuk berbuat jahat. Ada orang yang merasa gelisah seperti pemuda yang mengaku dosa dan berkonsultasi denganku. Ada yang segera menghindari kejahatan yang menghantuinya. Ini sungguh merupakan realitas hidup kita di hadapan Tuhan dan sesama.

Kita mendengar bacaan-bacaan Kitab Suci yang sangat inspiratif. Mikha dalam bacaan pertama membuka mata kita untuk memahami hidup kita yang sebenarnya di hadirat Tuhan. Kita lupa berbuat baik tetapi lebih menyenangi perbuatan-perbuatan jahat. Tanpa malu-malu kita tertawa di atas perbuatan orang lain. Mikha berkata: “Celakalah orang-orang yang merancang kedurjanaan dan yang merencanakan kejahatan di tempat tidurnya; yang melakukannya di waktu fajar, sebab hal itu ada dalam kekuasaannya; yang apabila menginginkan ladang-ladang, mereka merampasnya, dan rumah-rumah, mereka menyerobotnya; yang menindas orang dengan rumahnya, manusia dengan milik pusakanya!” (Mi 2:1-2). Berapa banyak rancangan kedurjanaan yang kita lakukan terhadap sesama kita setiap saat? Kita mungkin saja terlibat dalam merampas hak-hak hidup dan hak milik orang lain. Kejahatan mudah menguasai hidup kita tetapi kita tidak menyadarinya. Rasa berdosa mulai menipis. Soal kejahatan itu hal biasa saja. Betapa rapunya hidup kita di hadirat Tuhan dan sesama!

Kejahatan juga dirancang oleh orang-orang Farisi terhadap Yesus yang mengakui diri sebagai Tuhan atas hari Sabat. Mereka bersekongkol untuk membunuh Yesus. Hal yang sama terjadi dalam hidup kita ketika bersekongkol dengan diri kita atau dengan sesama untuk membunuh atau berniat jahat terhadap sesama di sekitar kita. Pikiran kita adalah apabila orang itu tidak sependapat dengan kita maka baiklah kita menghabisi hidupnya. Kita lupa bahwa Tuhanlah yang mempunyai kehidupan bukan kita sebagai manusia yang lemah. Semua ini merupakan gambaran hidup kita yang nyata di hadirat Tuhan.

Lalu apa yang Tuhan akan lakukan bagi kita? Mikha mengatakan bahwa Tuhan akan melakukan keadilan sesuai dengan kehendak-Nya. Ia akan merancang malapetaka bagi orang yang tidak mau bertobat dari segala kejahatannya. Tuhan akan melontarkan sindiran-sindiran bagi manusia dan memperdengarkan ratapan-ratapan. Semua hak milik yang ada akan diberikan kepada orang lain. Tuhan Yesus di dalam bacaan Injil mengetahui niat jahat kaum Farisi sehingga Ia menghindar ke tempat lain. Di satu pihak kaum Farisi menunjukkan kejahatannya, di lain pihak banyak orang mengikuti Yesus dan mengalami keselamatan. Ia menyembuhkan banyak orang, dan melarang mereka untuk tidak memberitahukan siapakah Dia.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini mengingatkan kita supaya dalam situasi apapun kita harus selalu berbuat baik. Mari kita memandang Tuhan Yesus. Ia menegaskan bahwa diri-Nya adalah Tuhan atas hari Sabat. Orang-orang Farisi menanggapinya dengan rencana jahat untuk membunuh-Nya. Yesus menghindari situasi ini tetapi tetap berbuat baik dengan menyembuhkan banyak orang yang mengikuti-Nya. Kita melihat bahwa tidaklah mudah bagi kita dalam suatu situasi yang ekstrim untuk berbuat baik. Mungkin rencana membalas dendam yang ada. Namun Tuhan Yesus sungguh baik. Ia tidak membalas kejahatan dengan kutukan tetapi dengan berkat dan kebaikan.

Kita belajar dari Tuhan Yesus untuk selalu berbuat baik. Perbuatan baik itu sendiri seperti bumerang. Semakin banyak kita berbuat baik, bermurah hati, mengasihi maka kita akan semakin banyak mengalami kebaikan, kemurahan hati dan cinta kasih dari Tuhan melalui sesama manusia. Hidup kita bermakna ketika kita mampu berbuat baik kepada semua orang tanpa memandang dia baik atau tidak baik dengan kita. Ini benar-benar hidup Kristiani.

PJ-SDB

Leave a Reply

Leave a Reply