Homili Hari Minggu Palma/A 2020

HARI MINGGU PALMA/A
Mat. 21:1-11.
Yes. 50:4-7
Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24
Flp. 2:6-11
Mat. 26:14-27:66

Terpujilah Imam dan Rajaku!

Saya pernah mengikuti perayaan misa syukur seorang imam baru di sebuah paroki. Latar belakang altar untuk perayaan dihiasi begitu indah, ditambah dengan sebuah tulisan berjudul: “Terpujilah imam dan rajaku!” Saya merasa kaget dengan tulisan yang menjadi latar belakang altar itu sebab kesan saya seolah-olah imam baru itu adalah seorang raja di tengah-tengah umat. Lagi pula, imam baru itu memang mengenakan gaun-gaun adat laksana seorang raja setempat. Pikiran saya terbuka ketika pembawa acara menerjemahkan bahasa adat yang diucapkan seorang sepuh di kampung itu, dengan mengatakan: “Imamku, engkau adalah Kristus lain yang datang ke tengah-tengah kami saat ini. Engkau berpakaian imam karena engkau dikuduskan menjadi imam tetapi ada Imam Agung di tengah-tengah kita yaitu Yesus Kristus. Engkau berpakaian laksana raja di tengah-tengah kita tetapi kita mempunyai satu raja yaitu Yesus Kristus.” Setelah mendengar terjemahan ini saya merasa sangat bersyukur karena umat merasakan kehadiran seorang imam tertahbis sebagai imam dan raja yang merupakan gambaran kehadiran Kristus di tengah-tengah mereka.

Kita memasuki pekan suci, di mana Minggu Palma menjadi pintu masuknya. Hari Minggu Palma menjadi kesempatan bagi kita untuk mengenang sengsara Tuhan kita Yesus Kristus. Misteri Paskah benar-benar kita renungkan bersama yakni sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus di dalam Ekaristi kita. Yesus memasuki kota Yerusalem di mana Yerusalem sendiri adalah kota damai sekaligus pusat peribadatan bagi semua orang Yahudi saat itu. Ada Bait Suci atau Rumah Tuhan yang mempersatukan semua orang. Yesus bertindak sebagai seorang Imam, bukan imam yang biasa-biasa melainkan Imam Agung. Dia menjadi imam bukan bagi dirinya sendiri melainkan imam bagi semua orang. Ia mempersembahkan persembahan satu kali untuk selama-lamanya. Persembahan-Nya bukan seperti para imam biasa yang mempersembahkan hewan sebagai kurban bakaran. Ia justru mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban pepulih dosa.

Tuhan Yesus memasuki kota Yerusalem laksana seorahg raja yang dielu-eukan oleh semua orang. Ia mengendarai seekor keledai betina. Keledai itu sendiri bukan milik-Nya, tetapi seekor keledai pinjaman. Dia membutuhkan keledai pinjaman ini sebentar saja dan akan mengembalikannya segera. Orang-orang akan melihatnya sebagai raja dalam kacamata manusiawi meskipun Dia adalah Raja segala raja di dunia ini. Semua ini untuk memenuhi perkataan Tuhan dalam Kitab Suci: “Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” (Mat 21:5; Za 9:9). Semua orang menyambut Yesus dengan menghamparkan pakaianannya di jalan yang Yesus lalui, di samping ranting-ranting pohon yang disebarkan di atas jalanan yang Yesus lalui. Mereka menyertai Yesus dengan berkata: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!” (Mat 21:9). Sungguh, Yesus adalah nabi dari Nazaret di Galilea (Mat 21: 11).
Secara manusiawi mungkin banyak di antara kita berhenti pada kemeriahan penyambutan Yesus ketika memasuki kota Yerusalem ini. Pikiran kita mungkin dangkal dan hanya sebatas pada peristiwa berkumpulnya begitu banyak orang, sebuah keramaian dan pujian-pujian manusiawi. Semuanya ini akan segera berakhir dan focus kita kepada Yesus sebagai Imam dan Raja akan menjadi semakin jelas.

Nabi Yesaya membantu kita untuk memandang sosok Yesus sebagai Imam dan Raja yang setara dengan seorang Hamba yang menderita. Kita semua akan menyatakan protes bahkan menulis sebuah surat terbuka kepada nabi Yesaya sebab yang kita kehendaki adalah Imam dan Raja yang jaya, penuh kemuliaan bukan penuh penderitaan. Tetapi Yesus sebagai Imam dan Raja memang harus demikian. Ia sendiri mengatakan: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk 9:22). Yesus laksana Hamba yang menderita seperti ini: “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.” (Yes 50:6). Dalam suasana menderita, sang Hamba masih merasakan pertolongan dari Tuhan. Ia berkata: “Tetapi Tuhan Allah menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.” (Yes 50:7).

Sosok Yesus sebagai Imam dan Raja juga sangat berbeda dengan iman santu Paulus. Bagi Paulus, Yesus Kristus itu walaupun dalam rupa Allah namun Ia menunjukkan karakter yang kuat seperti ini: Ia tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan. Ia justru berkhenosis atau mengosongkan diri-Nya. Ia mengambil rupa sebagai seorang hamba yang sama dengan manusia. Ia merendahkan diri-Nya di hadapan Allah. Ia taat kepada Allah sampai wafat di kayu salib. Karakter-karakter ini yang membuat Yesus sangat ditinggikan oleh Allah. Segala yang ada di langit, di atas langit dan di bawah bumi takluk kepada Yesus. Lihatlah karakter Imam dan Raja yang sangat berbeda dengan kategori manusia sepanjang zaman. Namun karakter-karakter ini harus dipenuhi oleh para imam dan raja di dalam Gereja masa kini, terutama dalam pelayanan tanpa pamrih.

Sosok Yesus sebagai Imam dan Raja menjadi sempurna dalam gambaran indah yang diberikan oleh Matius dalam kisah sengsara Yesus yang kita dengar hari ini. Bagi Matius, Yesus Kristus itu rela dan sadar menyerahkan diri kepada para pembunuh-Nya. Ia menderita, sengsara dan wafat serta bangkit dengan mulia sebagai sebuah paket yang lengkap dan terlaksana dengan sempurna. Ia laksana Hamba yang menderita, yang taat kepada kehendak Bapa. Dia adalah Imam Agung yang menderita dan wafat tanpa busana kebesaran yaitu kasula dan stola di atas kayu salib. Dia adalah Raja yang memiliki takhta kebesaran yaitu salib, mahkota kemuliaan yaitu mahkota duri dan tidak memiliki mantel atau safari seperti raja masa kini di dunia. Yesus adalah imam dan raja yang beda!

Di tengah kepungan covid-19, banyak saudari dan saudara yang menderita bahkan nyawanya tidak tertolong. Para korban covid-19 dna keluarga yang ditinggalkan mengalami secara langsung penderitaan Kristus sebagai Raja dan Imam. Kata-kata yang menguatkan dari santu Paulus adalah: “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” (Kol 1:24). Selamat memasuki pekan Suci dengan optimisme di tengah penderitaan manusiawi kita: “Kita adil, bangsa sejahtera!”

P. John Laba, SDB

Leave a Reply

Leave a Reply