Homili 9 November 2026 – Pemberkatan Basilika Santo Yohanes Lateran

Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran
Yeh. 47:1-2.8-9,12 atau
1Kor. 3:9b-11,16-17
Mzm. 46:2-3,5-6,8-9
Yoh. 2:13-22.

Betapa Indah Rumah-Mu Tuhan!

Seorang Sahabat barusan mengirimkan musik instrumental dari Madah Bakti, nomor 470. Banyak di antara pencinta Madah Bakti pasti langsung mengingat judulnya: “Betapa indah rumah-Mu Tuhan” Tentu saja lagu sederhana ini ikut membantu kita untuk membayangkan bukan hanya Rumah Tuhan yang sifatnya sementara di atas dunia inin tetapi lebih lagi Rumah Tuhan yang abadi dan lebih indah di Surga.

Sambil mengingat lagu ini, pada hari ini juga, kita merayakan Pesta Pemberkatan Basilika Santo Yohanes Lateran di Roma, yang secara liturgis dirayakan setiap tahun pada tanggal 9 November. Pemberkatan Basilika ini dilakukan oleh Paus Silvester I pada tahun 324 M. Alasan utama mengapa Gereja Katolik merayakan pesta ini di seluruh dunia karena bangunan ini adalah Katedral Paus yang pertama di kota Roma. Basilika Santo Yohanes Lateran adalah katedral Uskup Roma, dalam hal ini Sri Paus, sehingga menjadi Gereja utama di Roma.

Basilika Santo Yohanes Lateran merupakan Induk dan Kepala semua Gereja di dunia. Basilika ini memegang gelar “Induk dan Kepala semua Gereja di kota Roma dan di seluruh dunia,” yang melambangkan bahwa setiap paroki dan keuskupan Katolik secara rohani bersatu dengan Takhta Suci di Roma. Basilika ini menjadi simbol kebebasan beragama. Basilika ini diresmikan tak lama setelah Kaisar Konstantinus mengeluarkan Edikt Milan (tahun 313 M) yang mengakhiri penganiayaan terhadap umat Kristiani, basilika ini menandai transisi bersejarah ketika umat Kristiani akhirnya dapat beribadah secara terbuka dan di depan umum. Basilika ini menjadi tanda persatuan dengan Gereja Universal. Perayaan liturgis di seluruh paroki Katolik Roma menekankan persekutuan universal, kesetiaan kepada Paus, dan persatuan seluruh Tubuh Kristus. Basilika ini sekaligus memaknai Bait Suci Allahi di dunia ini. Perayaan ini secara liturgis mengingatkan umat beriman bahwa gereja-gereja fisik adalah tempat tinggal suci Allah, dan bahwa setiap orang beriman itu sendiri adalah bait suci Roh Kudus yang hidup.

Sambil kita mengenang dan merayakan pesta ini dengan meriah, Tuhan menyapa kita untuk menguduskan Rumah-Nya. Nabi Yehezkiel dalam bacaan pertama, menceritakan pengalaman khusus penglihatannya ketika ia dibawa oleh Malaikat Tuhan ke Pintu Bait Suci dan melihat air yang keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu. Semua gerbang Bait Suci itu ditunjukkan oleh Malaikat Tuhan kepada Yehezkiel. Air di dalam Bait Suci itu, lama kelamaan menjadi besar seperti sungai yang mengalir sampai ke Laut Asin atau Laut Mati. Hal yang menarik perhatian kita adalah bahwa air Laut Asin itu menjadi tawar. Demikian juga daerah yang dilewati air itu memberi kehidupan kepada setiap makhluk: segala makluik yang berkeriapan di dalam air itu akan hidup, ikan-ikan itu menjadi sangat banyak. Pohon-pohom bertumbuh subur, daunnya tak pernah layu dan buahnya tidak pernah habis. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat bagi mereka yang menggunakannya.

Perikop Kitab Nabi Yehezkiel ini sebenarnya menekankan tentang kehadiran Allah yang dilambangkan oleh air sungai pemberi kehidupan yang mengalir dari dalam Bait Suci, membawa transformasi radikal, penyembuhan, dan kelimpahan ke tempat-tempat yang penuh kematian dan kemandulan (seperti Laut Mati yang asin dan tak bernyawa). Air yang berasal dari dalam Bait Allah itu berfungsi sebagai, Pertama, Sumber kehidupan. Sungai ajaib itu mengalir langsung dari tempat kudus/bait suci Allah, menunjukkan bahwa kasih karunia sejati dan vitalitas rohani berasal dari Allah sendiri, bukan dari usaha manusia atau lembaga-lembaga duniawi. Kedua, Ada kuasa transformatif. Dikatakan bahwa ke mana pun air itu mengalir, ia menyembuhkan air yang tergenang dan asin (Laut Mati), sehingga ikan dan segala makhluk hidup berkembang biak dan bertambah banyak. Ketiga, Kelimpahan yang berkelanjutan. Pohon-pohon buah tumbuh subur di sepanjang tepi sungai, menghasilkan makanan setiap bulan tanpa henti serta daun-daun yang memiliki khasiat obat untuk penyembuhan. Keempat, Baik dalam tradisi Alkitab maupun Kristiani, penglihatan Yehezkiel ini menggambarkan kasih karunia Allah yang memulihkan, menandakan karunia air hidup (seperti melalui Kristus dan Roh Kudus) serta memanggil orang-orang percaya untuk menjadi saluran penyembuhan dan harapan di dunia.

Kisah penglihatan Nabi Yehezkiel ini juga mengantar kita untuk memahami rencana dan kehendak Tuhan. Dia bersemayam dan bertakhta di dalam Bait-Nya yang Suci dan dari sana mengalir rahmat-Nya yang tidak pernag berubah, selalu baru setiap hari. Santo Paulus mengingatkan kita supaya dapat menguduskan diri kita sebab ‘Kamu adalah tempat kediaman Allah’ (1Kor 3:16).

Dalam bacaan Injil, Yohanes menceritakan tentang perjalanan Yesus ke Yerusalam menjelang hari Raya Paskah orang Yahudi. Ketika berada di Bait Allah, Tuhann Yesus melihat orang-orang yang tidak menguduskannya. Ia melihat sendiri para pedagang yang sedang berjualan lembu, kambing, domba dan merpati. Ada juga para penukar uang di dalam Bait Allah. Tuhan Yesus lalu mengusir orang-orang ini dari dalam Bait Allah dan melarang mereka supaya tidak berjualan di dalamnya. Tindakan Yesus untuk menguduskan Bait Allah ini ternyata mendapat perlawanan dari orang-orang Yahudi. Mereka bahkan meminta tanda yang menunjukkan bahwa Yesus memiliki kuasa dan hakl untuk mengusir mereka dari dalam Bai Allah.

Tuhan Yesus dengan kuasa-Nya mengatakan kepada orang-orang Yahudi bahwa mereka dapat merombak Bait Allah dan dalam waktu tiga hari Yesus akan membanguinnya kembali. Orang-orang Yahudi memahami Bait Allah sebagai bangunan yang dibangun selama 40 tahun. Tuhan Yesus justru bermaksud bahwa Tubuh-Nya adalah Bait Allah itu sendiri. Dia akan menderita, wafat dan bangkit pada hari yang ketiga. Baik orang-orang Yahudi maupun para murid Yesus sendiri belum mengerti Kitab Suci sehingga perkataan Yesus ini dipahami setelah Ia bangkit dari kematian.

Dari perayaan untuk mengenang pemberkatan Basilika Santo Yohanes Lateran dan Sabda Tuhan yang kita dengar pada hari ini, menyadarkan kita bahwa Rumah Tuhan atau bait Allah adalah tempat Tuhan bersemayam. Dari sanalah mengalir segala rahmat Tiuhan bagi umat manusia. Kita memiliki sebuah misi untuk menguduskan rumah Tuhan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan kita yang nyata. Sebab itu, kalau anda berada di dalam Gereja, jadikanlah Gereja sebagai tempat kudus bukan seperti pasar!

P. John Laba, SDB