Renungan 20 Maret 2012

Selasa Pekan IVB Prapaskah

Yeh 47: 1-9.12
Mzm 46:2-3.5-6.8-9 
Yoh 5:1-6
Nilai Rohani Air

Air merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Orang-orang yang berada di daerah yang curah hujannya rendah selalu mengalami kekurangan air bersih. Mereka harus berjalan kaki menempuh jarak yang jauh untuk mencari air. 


Air juga memiliki nilai rohani dalam pandangan agama-agama. Air merupakan lambang kemurnian (purity) dan kesuburan (fertility). Air merupakan sumber kehidupan karena mitos-mitos kuno menunjukkan bahwa kehidupan muncul pertama dari air. Dalam pandangan Taoisme, air merupakan salah satu aspek kebijaksanaan. Orang-orang Mesir kuno memahami air sebagai lambang metamorphosis karena air dapat berubah wujudnya. Orang Amerika utara marasa bahwa air merupakan lambang kehidupan. Agama-agama monotheis menggunakan air sebagai sarana untuk membersihkan dan menyucikan. Orang menggunakan air untuk membersihkan diri sebelum beribadah. Orang-orang Yahudi merenungkan air tidak hanya sebagai simbol kehidupan tetapi juga kehancuran. Pengalaman air bah pada zaman Nuh masih membayangi mereka. Orang kristiani  mengingat air sebagai lambang sakramen pembaptisan dan secara khusus umat katolik memahami air dan darah Kristus sebagai lambang sakramen-sakramen di dalam Gereja.

Bacaan-bacaan liturgi pada hari ini berbicara tentang air sebagai anugerah Tuhan yang menghidupkan. Yehezkiel bernubuat tentang air yang muncul dari ambang pintu Bait suci. Pada mulanya air yang mengalir itu sedikit, lama kelamaan menjadi sebuah sungai yang dapat memberi kehidupan bagi ikan-ikan dan tumbuh-tumbuhan di pinggirnya. Pepohonan dan aneka tumbuhan itu selalu rindang sepanjang tahun. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat. Yehezkiel memahami air sebagai anugerah cuma-cuma dari Tuhan. Setiap rahmat yang diberikan Allah senantiasa mengalir seperti sungai yang memberi kehidupan baru. Artinya bahwa air itu berasal dari Tuhan dan kehendakNya bukan berasal dari hati manusia. Air dapat melambangkan Roh Kudus yang senantiasa mengalir dan menghidupkan manusia.

Penginjil Yohanes menangkap ide tentang manfaat air secara rohani yakni menyembuhkan dan menyelamatkan. Perhatikanlah proses penyembuhan yang dilakukan Yesus terhadap orang sakit di kolam Betezda. Pertama, ada keinginan untuk menjadi sembuh dari orang sakit atau orang berdosa menginginkan keselamatannya. Kedua, perlu Sabda Yesus: “Maukah engkau sembuh? Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah”. Ini selalu dirasakan secara rohani dalam pelayanan-pelayanan sakramen. Ketiga, transformasi hidup artinya hiduplah dalam rahmat Tuhan: “Jangan berbuat dosa lagi”. Penginjil Yohanes lalu memahami air tidak semata-mata sebagai sarana untuk menyucikan dan dan menyembuhkan tetapi air juga merupakan lambang Roh Kudus (Yoh 7:39). Roh Allah yang senantiasa hadir dan menjadi daya hidup baru bagi manusia.

Air memberi hidup baru bagi manusia. Inilah inti pewartaan Nabi Yehezkiel dan penginjil Yohanes. Dengan air ada kebangkitan rohani dalam diri manusia. Air juga menjadi tanda penyertaan Allah yang tiada hentinya bagi umat manusia. Betapa agungnya manusia sehingga mendapat perlakuan yang istimewa dari Tuhan. Marilah kita menggunakan kesempatan di dalam masa prapaskah ini untuk mendengar Sabda dan merasakan persaudaraan sejati lewat perjamuan bersama.

Hidup kita menjadi semakin sempurna ketika kita terbuka terhadap semua anugerah yang Tuhan berikan. Ibarat tanah yang gersang menerima air hujan dari langit dan menumbuhkan aneka tumbuhan baru demikianlah jiwa yang terbuka pada Allah atau jiwa yang senantiasa haus akan Allah akan mendapat anugerah yang berlimpah dariNya tiada batasnya. Anugerah-anugerah itu hendaknya memiliki daya menumbuhkan dan mengembangkan hidup pribadi dan dan disalurkan kepada sesama yang lain. Kita lalu menjadi saluran berkat Tuhan. Tuhan pasti memampukan kita.



PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply