Renungan 13 April 2013

Hari Sabtu Pekan Paskah II

Kis 6:1-7

Mzm 33: 1-2.4-5.18-19

Yoh 6:16-21

Ini Aku, Jangan Takut!

Ada seorang pemuda mengaku pernah mengalami goncangan dalam iman. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan supaya imannya tetap kuat. Ia berusaha mengisi  hari-harinya dengan memikirkan masalah yang sedang menggoncang imannya. Jalan ke arah Tuhan sepertinya sudah tertutup. Pada suatu ketika ia berdiri di depan pintu sambil memandang ke arah perbukitan yang hijau. Ia ingin pergi ke sana supaya melepaskan semua masalah yang sedang ia hadapi dan menggoncang imannya. Tiba-tiba ayahnya dari belakang, memegang pundaknya dan berkata kepadanya: “Ayah ada di sini. Jangan takut! Mengapa matamu selalu memandang ke arah bukit itu?” Ia spontan menjawab, “Ayah seandainya kita tinggal di sana mungkin lebih bahagia dari pada di sini”. Ayahnya hanya menjawab, “Siapa takut?” Banyak kali kita juga mengalami persoalan-persoalan di dalam hidup. Anda dan saya pernah jatuh, mengalami ketakutan yang besar. Ada banyak orang yang mungkin memilih diam tetapi ada juga yang mungkin hanya mengatakan “Tenanglah” atau “Jangan takut” atau “Aku di sampingmu”. Kata-kata ini bukan hanya kata kosong tetapi memiliki power yang luar biasa. Orang bisa keluar dari krisis imannya karena sapaan yang baik dari sesamanya.


Penginjil Yohanes hari ini mengisahkan keadaan setelah lima ribu orang kenyang dengan roti dan ikan yang diperbanyak oleh Yesus di Tabgah. Yesus coba membiarkan para muridNya berjalan lebih dahulu dengan perahu yang sudah disiapkan ke Kapernaun. Ia sendiri ke gunung untuk berdoa. Ketika  mereka sudah menjauh dari darat, dan Yesus, maka angin sakal di danau bergelora. Para murid ketakutan dan saat itulah Yesus berjalan di atas air, dan masuk ke dalam perahu. Ia berkata, “Ini Aku, jangan takut!” (Yoh 6:20). Angin kencang menjadi reda dan mereka juga menuju ke pantai.


Kisah ini memang menarik perhatian kita. Yesus seakan menguji iman para muridNya setelah mempergandakan roti dan ikan. Ia membiarkan mereka pergi sendirian, melewati air danau dan angin kencang mengguncang mereka. Waktu itu sudah malam. Dua simbol yang kuat di sini sifatnya traumatis: air danau yang dalam dan angin kencang. Dua simbol yang menjadi simbol chaos atau suasana kacau-balau dalam mentalitas orang Yahudi. Mereka  tetap mengingat peristiwa air bah yang menakutkan di dalam Kitab Kejadian. Ada juga simbol malam sebagai kegelapan. Ketika berjalan sendiri, tanpa Yesus maka yang ada adalah kegelapan, persaingan dan pengalaman jatuh dalam dosa. Kegelapan merupakan simbol krisis iman di mana orang tidak tahu lagu ke mana arah hidupnya. Di saat-saat ada badai, ada kegelapan maka Tuhan datang dan berkata, “Ini Aku, jangan takut”.


Apakah anda pernah mengalami badai dalam hidupmu? Pikirkanlah semua hal terbaik yang pernah anda pikirkan dalam hidup perkawinanmu, tetapi karena kelemahan manusiawi maka anda atau pasanganmu tidak setia. Pikirkanlah semua angan-anganmu yang indah tentang anak-anakmu, ternyata tiba-tiba ia didiagnosis sakit kanker stadium empat? Pikirkanlah bahwa anda pernah jatuh dan gagal berkali-kali. Anda mengalami krisis yang besar tetap Tuhan mengutus orang-orang tertentu untuk memulihkanmu. Mungkin sapaan sederhana, “Aku ada di sini, dekatmu atau bersamamu, jangan takut”.  Semua sapaan ini memiliki daya menghidupkan.


Lukas dalam bacaan pertama di Kisah Para rasul mengisahkan keadaan komunitas Gereja perdana. Jumlah jemaat bertambah dan tentu menimbulkan ketakutan-ketakutan tertentu. Ada yang mulai bersungut-sungut karena kurang dilayani. Padahal sebelumnya kita mendengar bahwa komunitas itu “sehati dan sejiwa”.  Para rasul memang tanggap dengan situasi tetapi mereka akhirnya menyadari bahwa demi melayani kaum miskin maka Sabda Tuhan diabaikan. Sikap tanggap para rasul diwujudkan dengan memilih para diakon berjumlah tujuh orang untuk melayani kaum miskin. Dengan doa dan berkat serta Sabda maka banyak orang mengalami kasih Allah.


Kadang-kadang kita terus menerus mau hidup dalam kegelapan maka selalu ada sikap bertahan, tidak mau berubah. Para rasul memang tanggap dengan situasi di dalam kehidupan jemaat yang sedang berubah. Banyak orang tidak dilayani dengan baik, terutama para janda miskin. Itu sebabnya tanggapan para rasul adalah memilih para diakon untuk melayani kaum miskin sedangkan para rasul konsisten melayani Sabda.  Sikap para rasul ini menjadi contoh yang baik bagi banyak orang sehingga mereka mau menjadi pengikut Tuhan.



Sabda Tuhan hari ini meneguhkan kita dalam hal pilihan-pilihan mendasar untuk tidak takut melayani orang-orang kecil. Kita perlu memiliki kepekaan dan keprihatinan terhadap banyak orang yang miskin dan membutuhkan tangan-tangan kasih. Kita juga diteguhkan ketika sedang dalam pergumulan, dalam keadaan takut dan tak berdaya. Tuhan memperhatikan iman kita maka Ia juga berkata kepada anda dan saya: “Aku ini, jangan takut”. Anda dan saya memiliki badai tertentu yang menantang iman kita. Marilah kita berubah dalam hidup dengan semakin mencintai panggilan dan pelayanan masing-masing.


Doa: Tuhan, katakanlah selalu kepada kami, “Aku ini, jangan takut?” sehingga iman kami tidak pernah padam. Amen


PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply