Homili Hari Minggu Biasa VI/A – 2016

Hari Minggu Biasa VI/A

Sir 15:15-20

Mzm 119:1-2.4-5.17-18.33-34

1Kor 2:6-10

Mat 5:17-34

 

Cinta Kasih itu di atas segalanya

Fr. JohnPada suatu ketika saya menemukan sebuah pembatas buku yang sudah usang. Sepintas memang pembatas buku itu tidak menarik perhatian tetapi saya berusaha membaca tulisan pada pembatas buku itu dan sangat inspiratif. Inilah tulisannya: “Budha was not a Budhist. Jesus was not a Christian. Muhammad was not a Muslim. They were teacher who thought Love. LOVE was their RELIGION”. Saya membacanya berulang kali dan mengangguk tanda setuju dengan kata-kata pada pembatas buku ini. Memang kita tidak pernah menemukan di dalam agama-agama pengajaran untuk membenci, menaruh dendam, iri hati, menindas dan lain-lain kepada sesama manusia. Hanya ada satu hal umum yang kita temukan yakni cinta kasih. Tidak ada hal yang lebih indah dari pengajaran Budha, Yesus dan Muhammad selain cinta kasih dan segala supremasinya. Manusia tidak dapat hidup tanpa cinta kasih.

Dion dan Donna adalah pasutri yang sudah menikah sembilan tahun lebih. Beberapa bulan lagi mereka akan merayakan sepuluh tahun pernikahan. Ini adalah momen yang istimewa maka mereka berencana untuk saling memberi hadia yang istimewa. Sayang sekali mereka sangat miskin. Dion sudah setahun di PHK dari perusahan karena perusahannya bangkrut. Ia belum memiliki pekerjaan, sementara biaya hidup makin meningkat. Satu-satunya barang berharga yang ia miliki adalah sebuah arloji merk Seiko. Donna selama itu adalah seorang ibu rumah tangga. Ia hanya mengatur keuangan dari gaji suaminya tetapi sekarang ia tidak mengatur apa-apa. Satu-satunya kekayaan yang dimilikinya adalah rambutnya panjang dan indah. Ketika tiba hari ulang tahun pernikahan ke-10, Dion pergi ke toko arloji yang antik untuk menjual arlojinya. Sebagian dari hasil penjualannya itu ia membeli sebuah konde dan perlengkapan untuk rambut istrinya. Ia membayangkan bahwa malam itu akan menjadi indah, ketika Donna istrinya berwajah bulat mengenakkan konde yang indah. Donna sendiri pergi ke Salon untuk memotong rambutnya. Potongan rambutnya itu ia jual dan memperoleh sejumlah uang. Sebagiannya ia membeli tali arloji untuk suaminya. Pada saat setelah makan malam, mereka saling tukar menukar kado. Betapa kagetnya mereka berdua karena semua yang mereka miliki sudah tidak ada, mereka juga membeli sesuatu hanya sebagai ingatan. Cinta kasih itu memang indah dan penuh pengorbanan.

Dua kisah ini saya ceritakan pada hari Minggu ini untuk menginspirasikan kita memahami bacaan-bacaan Kitab Suci dan pesan-pesannya bagi kita semua. Tuhan Yesus di dalam bacaan Injil membuka wawasan kita untuk memahami makna cinta kasih yang benar yang melebihi segala hukum yang ada. Cinta kasih adalah perintah baru yang Tuhan Yesus ajarkan bagi kita semua. Cinta kasih yang meminta pengorbanan diri dan kerendahan hati yang terus menerus dan dari saat ke saat.

Tuhan Yesus mengatakan dalam bacaan Injil bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat atau Kitab para nabi, Ia datang untuk menggenapinya. Hukum yang lama memang sudah baik tetapi ditafsirkan secara harafiah oleh kaum Farisi dan para ahli Taurat untuk popularitas hidup mereka. Mereka hanya berpegang teguh pada hukum tetapi mengabaikan inti dari hukum yakni cinta kasih dan keadilan sosial. Itu sebabnya Yesus mengatakan bahwa siapa yang melakukan hukum dengan baik akan mendapat tempat yang tinggi di dalam Kerajaan, sedangkan yang tidak melakukannya atau salah mengajarkannya akan mendapat tempat yang paling rendah dalam Kerajaan.

Untuk mempertegas pengajaranNya, Yesus mengingatkan para muridNya: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” Para ahli Taurat dan kaum Farisi sudah mengajarkan hukum Taurat secara harafiah tetapi mereka tidak melakukan dan salah mengajarkannya kepada orang lain. Mereka menuntut banyak hal tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Itu sebabnya Yesus juga mengingatkan para muridNya untuk mengikuti pengajaran mereka tetapi tidak mengikuti sikap hidup atau perbuatan mereka (Mat 23:3). Cinta kasih dan keadilan memang haruslah diperjuangkan dan dilakukan di dalam hidup.

Contoh-contoh yang diangkat Yesus dalam pengajarannya juga membuka wawasan kita untuk memahami lebih dalam ajaran cinta kasih sebagai hukum atau perintah baru. Hukum lama sudah mengajarkan dan Yesus menyempurnakannya. Perhatikan ungkapan ini: “Kamu telah mendengar…Tetapi Aku berkata kepadamu”. Pertama, kita diajak untuk menghargai totalitas kehidupan sesama manusia, mencakup jasmani dan rohaninya. Kedua, semangat pengampunan tanpa batas. Ketiga, cinta kasih dengan hati yang terbagi dengan pasangan. Keempat, tidak mudah ingkar janji atau sumpah. Keempat hal ini diambil oleh Yesus sebagai contoh-contoh praktis sekaligus nilai-nilai rohani dari hukum. Segala hal yang jahat itu ada di dalam hati manusia. Misalnya kemarahan yang mengarah kepada pembunuhan, nafsu birahi kepada perzinahan, kemunafikan kepada kebohongan. Para murid yang disapaNya “berbahagialah” harus mawas diri dan pandai membaca tanda-tanda zaman.

Semua hal yang diajarkan Yesus sebenarnya sudah diingatkan juga dalam dunia Perjanjian Lama. Penulis Kitab Putra Sirakh menegaskan bahwa setiap orang memiliki kemerdekaan untuk menepati perintah-perintah Tuhan di dalam hidupnya. Ya, hidup itu suatu anugerah dan semua orang diajak untuk memilih kebaikan-kebaikan sehingga hidupnya semakin berarti. Kalau ada api dan air yang ditempatkan di depan kita, hidup atau mati, apa kiranya pilihan anda yang tepat? Ingat, Tuhan memiliki kuasa dan mataNya selalu tertuju kepada orang-orang benar. Ia tidak menghendaki kefasikan, Ia juga tidak mengijinkan manusia untuk berbuat dosa.

St.Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan kita semua bagaimana menjadi pengikut Kristus yang bahagia. Segala kejahatan di atas dunia tidak akan menunutun kepada kebahagiaan. Roh Kuduslah yang membuka wawasan umat beriman untuk bertumbuh dalam kasih. Bagi Paulus, sebelum dunia dijadikan Tuhan sendiri sudah menyediakan hikmat bagi kemuliaan kita. Ia berkata: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia”.

Sabda Tuhan pada hari Minggu Biasa VI/A ini mengingatkan kita untuk bertumbuh dalam kasih. Cinta kasih itu segalanya. Saya mengakhiri homili ini dengan mengutip St. Paulus: “Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain” (1Kor 13:4-5). Semoga pada hari ini kita bertumbuh dalam kasih.

Doa: Tuhan ajarilah kami untuk saling mengasihi dan mebangun kasih di dunia ini. Amen

PJ-SDB

Leave a Reply

Leave a Reply