Homili 15 Februari 2014

Hari Sabtu, Pekan Biasa V

1Raj 12:26-32; 13:33-34;

Mzm 106:6-7a,19-20,21-22;

Mrk 8:1-10.

 

Berhala-berhala itu menghancurkan

 

Fr. JohnSeorang Misionaris yang sudah berkarya selama empat puluh tahun di suatu paroki terpencil merasa kecewa ketika pada suatu hari orang-orang di salah satu kampung di parokinya membangun sebuah tempat pemujaan kepada nenek moyang mereka. Ketika sang misionaris ini menanyakan alasan mendirikan tempat pemujaan itu, sang kepala suku mengatakan bahwa dekat dengan para leluhur itu sama pentingnya dengan dekat kepada Tuhan. Mereka mempersembahkan kurban bakaran, memberi sesajian bagi para leluhur di dekat batu dan pohon besar. Sang Misionaris itu kembali ke pastoran dengan rasa kecewa yang sangat besar. Rasanya selama 40 tahun itu sia-sia saja pelayanannya di daerah itu. Yah, memang banyak orang mengaku diri mengikuti Kristus, rajin ke gereja setiap hari Minggu tetapi masih terikat dengan adat istiadat yang cenderung berkaitan dengan menyembah berhala. Ada umat yang mengatakan bahwa ini adalah bagian dari inkulturasi iman, hanya saja orang lupa bahwa apa yang dilakukan itu menyembah berhala. Hal yang dilakukan tidak kristiani!

Dari Kitab Pertama Raja-Raja, kita sudah mendengar berita hancurnya Kerajaan Israel yang dipimpin oleh Salomo selama 40 tahun. Setelah ia meninggal dunia, Kerajaan Israel pecah menjadi dua bagian sebagaimana sudah dikatakan Tuhan sendiri. Kerajaan Israel pecah menjadi dua bagian, Yehuda dipimpin oleh Putera Salomo bernama Rehabeam dan Kerajaan Israel dipimpin oleh Yerobeam. Kerajaan Yehuda atau Selatan ibu kotanya Yerusalem, Kerajaan Utara atau Israel ibu kotanya Samaria (Sikhem).

Yerobeam adalah raja yang licik. Dia berpikir bahwa orang-orang Israel akan kembali setia kepada Tuhan dengan mempersembahkan korban persembahan di Yerusalem. Dengan demikian mereka akan kembali bersatu dengan Rehabeam raja Yehuda dan membunuh dirinya (Yerobeam). Ia menemukan sebuah ide untuk membuat patung anak lembu jantan dari emas dan menempatkannya di Betel dan di Dan. Para imam diangkatnya sehingga orang-orang di daerah itu menyembah berhala. Yerobeam tidak hanya licik dengan membangun tempat untuk menyembah berhala sehingga mencegah orang-orang Samaria untuk pergi Yerusalem. Ia tidak berbalik dari kelakuannya yang jahat. Ia mengangkat imam-imam lain dari kalangan rakyat untuk mempersembahkan korban bakaran di bukit-bukit pengorbanan. Ini adalah sebuah perbuatan dosa sehingga keluarga Yerobeam patut dimusnahkan di bumi.

Yerobeam juga masih hidup di zaman ini. Banyak orang yang hendak atau sudah berkuasa akan mencari jalan tertentu untuk berkuasa atau tetap berkuasa. Di kalangan masyarakat luas banyak pemimpin juga yang masih percaya kepada dukun dan ilmu-ilmu hitam atau sihir. Konon ada banyak di antara mereka yang mencari dukun dan ilmu hitam untuk memenangkan pemilihannya. Hal-hal seperti ini memang masih popular di dalam masyarakat kita.  Orang tidak segan-segan melakukannya demi kedudukan tertentu. Anehnya, orang-orang itu tetap merasa diri sebagai pengikut Kristus yang baik. Mereka menerima komuni kudus padahal tetap menyembah berhala!

Sebenarnya menjadi pemimpin itu untuk melayani. Yesus Kristus tidak pernah mencari jalan untuk memimpin, tidak memakai kuasa kegelapan apa pun untuk memimpin. Dia pemimpin sejati yang selalu siap untuk melayani dan mengasihi sampai tuntas. Bacaan Injil hari ini menggambarkan bagaimana Yesus menunjukkan belaskasihanNya kepada para pengikutNya. Setelah tiga hari bersamaNya, Ia memberi mereka makan roti dan ikan. Dengan bekal tujuh roti dan ikan-ikan itu, Yesus memuaskan 4000 orang. Ada dua hal yang menarik perhatian kita dalam kisah ini. Pertama, Yesus mengajar para murid untuk murah hati dan saling berbagi. Banyak kali kita merasa sulit untuk berbagi karena pikiran kita adalah memberi dari kelebihan. Yesus mengajar kita untuk memberi dari kekurangan. Dengan jumlah yang terbatas dapat memuaskan banyak orang yang sangat membutuhkan. Kedua, Yesus memberikan dan kita mengedarkannya. Tuhan yang punya cinta kasih, Dia berikan kepada kita dan kita berbagi kasih dengan sesama manusia. Yesus memberi roti dan ikan kepada para murid untuk dibagikan kepada para pengikutNya. Para murid melakukan pekerjaan Yesus.

Pada hari ini mata iman kita dibuka oleh Yesus. Kita disadarkan bahwa Tuhan adalah pemimpin sejati yang tidak licik dan mencari popularitas. Dia tidak mencari jalan untuk menghancurkan orang lain. Dia justru memimpin kita dengan kasih. Orang yang memimpin dengan kasih akan bertahan dan dilindungi Tuhan meskipun banyak tantangan dialaminya. Memimpin dengan berhala-berhala itu menghancurkan. Orang akan melakukan perbuatan dosa dan kejahatan lainnya. Apakah kita berani menjadi leader yang dijiwai Tuhan sendiri?

Doa: Tuhan, kami memohon semoga Engkau senantiasa mendampingi kami untuk setia dan mengasihiMu. Amen

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply