Uomo di Dio

Kenyamanan itu ada di dalam dirimu

P. John SDBAntonny de Mello dalam bukunya “Burung Berkicau” mengisahkan sebuah cerita tentang ikan muda dan ikan tua di lautan. Perhatikanlah dialog berikut ini: ‘Maaf, kawan,’ kata seekor ikan laut kepada seekor ikan yang lainnya. ‘Anda lebih tua dan lebih berpengalaman daripada saya. Dimanakah saya dapat menemukan laut? Saya sudah lama mencarinya di mana-mana, tetapi sia-sia saja!’ ‘Laut,’ kata ikan yang lebih tua, ‘adalah tempat engkau berenang sekarang ini.’ ‘Ha? Ini hanya air saja! Yang kucari adalah laut,’ sangkal ikan yang muda. Dengan perasaan sangat kecewa ia pergi mencari laut di tempat lain.

Kisah kedua ekor ikan ini hanyalah sebuah kisah sederhana tetapi menggambarkan kehidupan anda dan saya setiap hari. Kita memang sudah berada di dalam laut tetapi masih merasa bukan di laut, hanya di dalam air saja. Saya ingat seorang pria muda yang pernah datang ke komunitas untuk berbicara dengan saya. Pria muda itu memiliki masalah di tempat kerja. Sudah beberapa kali ia merasa tidak betah dalam pekerjaannya. Menurut penuturannya, ia selalu memulai dengan baik dan apik tetapi lama kelamaan ia masuk dalam rutinitas, jenuh dan malas. Dari situ ia mencari lagi pekerjaan baru. Di tempat kerja yang baru ia juga memulai dengan baik tetapi kemudian jenuh dan hengkang lagi. Ia kebingungan dengan hidupnya sendiri. Berulang kali ia mengalami hal yang sama sampai ia mengalami titik jenuh dalam mencari kerja. Saya mengatakan kepadanya supaya mencintai pekerjaannya sekarang dan tempat kerjanya.

Kadang-kadang orang tidak mencintai pekerjaan karena alasan merasa tidak nyaman  di tempat kerja. Seorang pria muda fresh graduated memperoleh pekerjaan yang bagus di sebuah kantor. Ia merasa melawan arus dengan sesama karyawan yang sudah bekerja puluhan tahun. Mereka memiliki mentalitas yang sulit untuk diubah karena alasan pengalaman kerja. Ketika ia memberi gagasan-gagasan baru kepada rekan-rekannya yang senior, banyak kali ia ditertawakan dan mendapat cemohan, “Anda siapa? Anda masih muda dan belum memiliki pengalaman…”  Hal yang hebat dari pemuda ini adalah ia berani melawan arus. Kini ia merasa senang karena dengan melawan arus ia semakin mapan. Banyak orang yang tadinya tidak simpatik kini mulai sadar dan mendukungnya, lebih lagi ketika ia dipilih menjadi ketua kelompok kerja. Orang muda ini merasa nyaman di tempat kerjanya karena ia berani melawan arus dan mencintai pekerjaan serta tempat kerjanya. Wawasannya semakin luas dan ia dapat melakukan segala sesuatu untuk kebaikan perusahan dan dirinya sendiri. Ia tidak merasa di air saja tetapi di dalam laut.

Kenyamanan itu ada di dalam diri kita. Selalu ada kedamaian dan perlindungan, tempat yang dapat kita kunjungi setiap jam, setiap hari dan merasa nyaman di sana. Itulah bagian terdalam yakni jati diri kita masing-masing. Aku sejati adalah jati diri kita, sangat eksistensial, yang ada selamanya di dalam diri kita. Setiap orang memiliki jati diri. Masson Cooley pernah menulis: “Diri sejati adalah bagian dari diri kita yang tak banyak berubah ketika situasi di luar berubah”. Di dalam diri kita yang terdalam, ada ketenangan dan kedamaian.

Tantangan bagi kita adalah masih banyak orang tetap teguh pada perkataan ini: “Musuh terbesar adalah diri kita sendiri”. Ada juga yang mengatakan bahwa orang lain adalah musuh kita. Seorang sahabat pernah mengatakan: “Musuh terbesar kita adalah pikiran negative yang bersarang di dalam pikiran kita”. Ketika ada kesulitan atau tantangan muncul maka pikiran negative akan beraksi, menghembuskan pikiran-pikiran buruk, mencari-cari pembenaran diri hingga penilaian atau penghakiman diri.

Kita memang akan mengalami kenyamanan di dalam diri sekaligus kesulitan ketika pikiran negative yang membelenggu diri kita sehingga kita tidak merasa nyaman. Pada hari ini saya mengajak kita semua untuk merenungkan perkataan Tuhan melalu nabi Yehezkiel: “Kamu akan kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (Yeh 36:26). Kalau kita merasakan penyertaan Tuhan dan tinggal di hadirat Tuhan maka diri kita menjadi tempat yang nyaman dan damai.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply