Ringkasan Kisah Sengsara Yesus

Kisah Sengsara Yesus

 

PJSDBSeorang sahabat meminta saya meringkas kisah sengsara Yesus versi Injil Matius. Selamat membacanya.

Kisah sengsara Yesus menurut Matius dimulai dengan beberapa episode berikut: Pertama, perjamuan malam terakhir dilakukan Yesus dengan para muridNya. Perjamuan ini yang dikenang selalu dalam perayaan Ekaristi di mana Yesus selalu hadir di tengah umatNya (Mat 26:14-35). Kedua, berjaga-jaga dan berdoa di taman getzemani (Mat 26:36-46). Di sini Yesus tampil sebagai Pendoa ulung sambil mencari kehendak Allah yang benar. Ketiga, Yesus ditangkap. Dalam situasi yang sulit, Yesus tetap menghendaki ketenangan dalam kasih dan damai, tanpa kekerasan. Keempat, Yesus diadili. Bagian ini terdapat perkataan Yesus yang luhur: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” (Mat 26:64). Pernyataan Yesus ini mau menunjukkan bahwa diriNya adalah Mesias, memiliki kuasa rajawi dan ilahi. Dengan demikian terjadi penolakan Israel terhadap Yesus dan kelemahan manusiawi para muridNya yang ditandai dengan penyangkalan Petrus.

Kelima, Pengadilan Romawi (Mat 27: 1-31) di mana Barabas dipilih orang Israel supaya ia bebas sedangkan Yesus tak bersalah dihukum mati. Suasana dilematis dialami Claudia istri Pilatus yang mengakui Yesus sebagai manusia dan Allah di hadapan Pilatus suaminya. Ia percaya bahwa Yesus adalah orang baik, tetapi demi kedudukan maka ia harus memutuskan untuk menyerahkan sepenuhnya urusan Yesus kepada orang-orang Yahudi. Keenam, drama penyaliban Yesus (Mat 27: 32-50.  Ketujuh, di depan salib masih ada manusia yang berbaris untuk mengikuti Yesus tetapi ada juga yang masih menghujat Tuhan dan sesama. Alam semesta dan segala kekuatannya menjadi satu, berbarislah para baptisan baru (kepala pasukan Romawi) dan semua orang yang mengakui dimerdekakan Kristus (termasuk mereka yang ada di dalam kuburan).

 PJSDB
Leave a Reply

Leave a Reply