Homili 10 September 2014 (Renungan Fresh Juice)

Hari Rabu, Pekan Biasa XXIII
1Kor 7:25-32
Mzm 45:11-12.14015.16-17
Luk 6: 20-26

Apakah Yesus membenci orang kaya?

Fr. JohnPada awal tahun 2012 yang lalu, DR. Tim Spivey, seorang Penulis Protestan asal Amerika Serikat, menulis sebuah artikel berjudul Biblical Economics – Does Jesus Hate the Rich? Di dalam artikel ini ia menguraikan Apa pikiran manusia modern tentang Yesus dan orang kaya. Apa pemikiran Yesus tentang kapitalisme, sosialisme dan komunisme? Spivey berpendapat bahwa Tuhan tidak pernah menghendaki manusia melarat, tetapi yang dikehendaki adalah manusia yang hidupnya mencukupi bahkan berkelimpahan. Oleh karena itu Spivey mengatakan bahwa Tuhan Yesus tidak pernah membenci orang kaya. Ia juga mengasihi mereka dan menghendaki pertobatan di dalam diri mereka. Tuhan Yesus tidak mengasihi kemiskinan tetapi mengasihi kaum papa miskin.

Di dalam Injil kita bisa menemukan ekspresi dari Yesus terhadap orang kaya. Ia misalnya mengatakan bahwa betapa sukarnya orang yang kaya masuk ke dalam kerajaan Surga (Mat 19:23). Tetapi dalam relasi antar pribadi, Ia justru memperlakukan orang kaya dengan baik, misalnya Zakheus. Ia menyapanya dengan penuh kebaikan dan berhasil mengubah seluruh hidup Zakheus (Luk 19:1-10). Yesus mengingatkan semua pengikutNya untuk memperhatikan kaum papa dan miskin. Banyak lembaga-lembaga gereja memiliki opsi untuk melakukan pekerjaan Tuhan bagi kaum papa dan miskin. Banyak orang menjadi kudus karena melayani kaum papa dan miskin. Kita mengenal Beata Theresia dari Kalkuta, St. Vinsensius a Paulo, St. Yohanes Bosco dan lain sebagainya adalah para kudus yang membaktikan diri hingga tuntas bagi kaum papa dan miskin.

Perikop Injil kita hari ini menarik perhatian kita semua. Yesus dan para rasul pilihanNya barusan turun dari bukit dan berada di tanah yang datar. Di situ terdapat banyak murid yang berdatangan dari daerah Yudea dan Yerusalem serta daerah pantai Tirus dan Sidon. Yesus memperlawankan dua kelompok yang berbeda yakni orang miskin dan tak berdaya (powerless) dengan orang kaya dan penguasa, orang lapar dan kenyang, orang yang menangis dan yang tertawa, orang yang dibenci dan yang mendapat perlakuan yang baik. Tentu saja Yesus tidak bermaksud supaya kita mencari kemiskinan, kelaparan, tangisan dan penolakan. Ia justru melihat bahwa orang yang datang kepadaNya itu sedang mengalami kemiskinan, kelaparan, tangisan dan penolakan. Mereka-mereka inilah yang disapa bahagia.

Yesus sebenarnya mau menekankan kepada kita di manakah letak kebahagiaan itu sebenarnya. Di dalam pikiran Lukas, ucapan sabda bahagia ini bersamaan dengan dukacita bagi orang yang tidak menerima pesan keselamatan dari Tuhan. Dengan ucapan sabda bahagia dan dukacita, Yesus mau mengaplikasikan dua jalan yakni jalan kehidupan dan jalan kematian. Tidak ada jalan ketiga atau netral. Ia yang tidak berjalan dalam jalan kehidupan akan berjalan dalam jalan kematian atau sebaliknya.

Yesus berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.” (Luk 6:20). Sabda bahagia bagi orang miskin ini menjadi dasar bagi yang lainnya karena siapa yang miskin akan memperoleh Kerajaan Allah sebagai hadiahnya. Barangsiapa menjadi miskin, dengan sendirinya ia merealisasikan hidup sebagai orang yang lapar dan haus. Tentu saja lapar dan haus bukan hanya secara materil tetapi juga terhadap Sabda Tuhan. Barangsiapa menjadi miskin akan bisa merasakan penderitaan dunia ini. Barangsiapa menjadi miskin maka ia akan merasakan Allah sebagai kekayaannya dan dengan demikian dunia juga tidak akan memahaminya.

Yesus berkata: “Tetapi celakalah hai kamu yang kaya karena sekarang ini kamu telah memperoleh penghiburanmu.” (Luk 6:24). Peringatan ini juga menjadi dasar bagi peringatan yang lain. Barangsiapa kaya dan segala kebutuhannya terpenuhi, ia tidak tahu bagaimana bisa membantu sesama yang menderita. Ia hanya akan berusaha untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Ia akan senantiasa haus, bahkan menggunakan cara-cara yang tidak baik untuk menjadi kaya.

Berlainan dengan ucapan bahagia ini, Lukas lalu menyajikan  ratapan yang mengingatkan  kita akan ratapan Yesaya (Yes 65:13-14). Ini merupakan lagu ratapan untuk orang yang sudah meninggal dunia dan bukanlah sebuah kutukan. Karena orang kaya melupakan Allah dan menjadi tak teresapi oleh rahmat. Lagu ratap ini merupakan tanda kasih Allah kepada orang kaya, sebagaimana ucapan bahagia bagi kaum miskin, karena Tuhan mengasihi orang kaya dan miskin dengan cara yang berbeda. Kepada yang pertama Ia mengatakan akan menghancurkan struktur ketidakadilan dan kepada yang lain Ia memberi peringatan bahwa kekayaan itu membawa maut.

Ucapan bahagia ini tentu tidak membicarakan tentang pertobatan orang kaya atau mengatakan bahwa orang miskin lebih baik. Tuhan Yesus justru menjanjikan suatu perubahan radikal. Kerajaan Allah berarti suatu masyarakat baru: Allah memberkati kaum miskin bukan memberkati kemiskinan. Allah mengubah hati orang kaya untuk mengasihi dan memperhatikan sesamanya yang miskin. Yesus mengasihi semua orang, kaya dan miskin dikasihiNya dan Dia mengharapkan supaya kita juga bertumbuh dalam dunia yang penuh kasih.

Doa: Tuhan, bantulah kami untuk bertumbuh dalam suasana saling berbagi satu sama lain. Amen

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply